Dongeng

Teriakan Angsa-Angsa

Di Roma ada sebuah taman yang banyak dihuni angsa. Angsa-angsa itu hidup makmur karena selalu ada orang yang memberi makan. Karena itu mereka selalu terlihat duduk-duduk sambil mengobrol. Kadang-kadang ada angsa liar datang untuk memberitahukan berita-berita hangat di luar taman. Angsa-angsa cantik yang gendut itu memang tidak pernah keluar taman. Mereka merasa puas hidup di taman itu.

Tetapi pada suatu hari segalanya berubah. Langit yang menurut para angsa itu biru, sekarang berubah kelabu. Bahkan ditambah asap di sana-sini.

Angsa liar datang memberi tahu. “Lekaslah terbang bersama kami ke luar kota. Ada perang hebat di batas kota. Sebelum kalian ditangkap, segeralah menyelamatkan diri.”Angsa-angsa itu belum pernah terbang sejauh itu. Mereka hanya saling pandang.

“Terbanglah cepat!”

Angsa-angsa cantik itu makin bingung. Kemudian ada seekor angsa besar menengahi. “Terbanglah dulu. Nanti-nantilah kami menyusul.”

Kemudian dia melongok ke sebuah rumah di dekat taman. “Kalau Manlius tidak pergi, berarti keadaan aman. Lihatlah, pintu rumahnya masih terbuka.”

Angsa-angsa itu lalu menuju rumah Manlius. Mereka semua kenal Manlius, orang yang baik hati karena selalu memberi makan angsa-angsa itu.

Pertempuran kian merajalela. Kota Roma mulai berbau mesiu. Angsa-angsa itu tetap tinggal di taman. Mereka masih melihat pintu rumah Manlius terbuka. Tetapi mereka tak lagi mendapatkan makanan karena Manlius sendiri kelaparan.

Suatu hari, orang-orang kota mengungsi. Mereka menyelamatkan diri ke kota-kota lain. Manlius bersama-sama orang-orang lainnya, menyusuri jalan rahasia menuju bukit.

Para angsa tak ketinggalan. Mereka ikut mengungsi karena Manlius juga mengungsi.

Gemparlah para penyerang ketika melihat kota sepi. Tak tampak seorang pun di kota itu.Suatu pagi, pasukan-pasukan itu menelusuri lembah. Jalan yang licin dan berbatu membuat mereka kesulitan.

“Aaaa …,” teriakan seperti ini sering terdengar ketika mereka tergelincir lagi ke bawah.

Berhari-hari mereka mencari jalan rahasia, tetapi belum juga ditemukan.

“Aaaa …, astaga!” suatu ketika ada teriakan aneh. Seperti orang tekejut.

“Lihatlah! Ada lubang di kaki bukit. Ini pasti jalan rahasia. Sebaiknya nanti malam ditelusuri.”

Malam itu, orang-orang mengendap-endap berjalan melalui lorong rahasia. Mereka tersenyum-senyum dalam kegelapan. “Aku akan membuat orang Roma ketakutan! Hihihi …!”

Namun, sebelum mereka mencapai persembunyian orang-orang Roma, angsa-angsa cantik sudah mengetahui lebih dulu.

“Siapa yang datang?” tanya seekor anak angsa.

“Mungkin Manlius,” kata yang lain.

Mereka langsung ribut. Mereka mengira yang datang adalah Manlius yang akan memberi makan. Maka ributlah sekawanan angsa itu. Mereka berkaok-kaok riuh.

Mendengar angsa ribut. Manlius langsung terjaga. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ada banyak orang di jalan rahasia. Dia segera memberi tahu yang lainnya untuk segera mengungsi.

Dan ketika perang usai, cerita tentang angsa itu terdengar kemana-mana. Mungkin karena merasa sangat berjasa, angsa-angsa itu menjadi pongah. Cara berjalannya sekarang mendongak bangga. @@@ (Judul Asli: The Tale The Geese Tell)

 

Sumber: Majalah Hoplaa Februari 1997

2 thoughts on “Teriakan Angsa-Angsa”

  1. Jadi urutan kedatangan ke jalan rahasia itu MANLIUS – ANGSA – WARGA

    kenapa Manlius gak langsung ngajak warga itu langsung yah?

    Mbak Arsy ada sedikit koreksi :

    “Lekaslah terbang bersama kami keluar kota.” (KE LUAR)

    Bahkan ditambah asap di sana sini. (SANA-SINI)

    “Aaaa …,” teriak seperti ini sering terdengar ketika mereka tergelincir lagi ke bawah. (TERIAKAN)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s