Fabel

Maskito Nyamuk Yang Sombong

Musim hujan telah berlalu dan sekarang memasuki musim kemarau. Bagi nyamuk-nyamuk betina, saatnya bertelur. Seekor nyamuk loreng betina terbang ke sana kemari. Ia sedang mencari tempat untuk bertelur. Setelah berputar-putar, dia melihat dibawah pohon, periuk yang berisi air jernih. Nyamuk yang berkulit loreng suka sekali tinggal dan bertelur di air jernih. Hal ini berbeda dengan saudaranya, nyamuk biasa yang tinggal di air kotor. Manusia sangat takut dengan nyamuk jenis ini, karena gigitannya dapat menyebabkan penyakit demam berdarah.

Dengan santai nyamuk betina terbang mendekati air dan mengapung di permukaannya. Ia lalu bertelur lumayan banyak. Beberapa hari kemudian, telur menetas menjadi jentik-jentik berwarna hitam. Jentik-jentik itu selalu bergerak-gerak, kadang ke permukaan kadang menyelam. Jentik-jentik itu kemudian menjadi nyamuk. Walaupun yang menjadi nyamuk hanya tiga ekor, induknya senang sekali.

Untuk lebih memudahkan, induknya memberi nama pada ketiga nyamuk betina baru. Nyamuk yang tertua, badannya gemuk diberi nama Miskito. Yang kedua, kakinya panjang-panjang diberi nama Muskito. Ada pun yang bungsu, berbadan agak kurus diberi nama Maskito. Sebelum ketiga nyamuk mencoba mencari makan sendiri, induknya mengajari terlebih dahulu. “Kalian harus ingat, manusia adalah musuh bangsa nyamuk. Akan tetapi, darah manusia adalah makanan yang lezat bagi bangsa kita,” kata sang induk.

“Cecak dan katak juga musuh kalian, mereka senang sekali memakan nyamuk!” tambah induk nyamuk.

“Pertama-tama, apabila hendak menghisap darah manusia, perhatikan apakah manusia tersebut sedang tidur atau tidak? Jangan sekali-kali menghisap darah manusia yang dalam keadaan sadar, itu sangat berbahaya,” terang induk nyamuk.

“Kedua, kalau sudah menghisap darah manusia, jangan terlalu lama, berbahaya! Sebab manusia bisa kaget, apabila bagian tubuhnya terasa gatal. Tangannya akan menepuk daerah tersebut, walau dia tertidur,” jelas induk nyamuk.

“Kalian bayangkan apabila tangan sebesar itu, memukul tubuh kita,” kata induk nyamuk. “Dan ingat, sebelum menghisap darah manusia, gunakan air liur untuk mencegah darah membeku.” Ketiga anaknya mengangguk tanda mengerti.

Ibu nyamuk juga bercerita tentang ayah mereka. Ayah mereka mati terbunuh, saat mencari makan. Ayah mereka tidak mengetahui, kalau pada hari itu ada penyemprotan anti nyamuk. Dia mati terkena semprot cairan. Cairan itu bukan cairan sembarangan, melainkan cairan untuk membunuh nyamuk. Saat cairan mengenai tubuhnya, tiba-tiba kepalanya pening, tubuhnya lemas dan karena tidak kuat, maka terjatuhlah ke lantai.
“Tubuh ayah kalian lemas dan mati. Pada saat itu, aku bersembunyi di bawah kursi dan jauh dari semprotan!” kata induk nyamuk. “Oleh sebab itu, kalian harus berhati-hati. Hindarilah semprotan. Apabila manusia membawa alat semprot, lari jauh-jauh. Camkan omongan ibu ini, demi keselamatan kalian!”

Ketiga nyamuk juga dilatih terbang cepat, menghindar dari tepukan tangan manusia, menggigit yang benar dan mempelajari anatomi tubuh manusia. Mereka juga harus belajar bersembunyi di tempat yang aman, apabila ada penyemprotan. Dari ketiga nyamuk, hanya Maskito yang lebih cepat menguasai pelajaran, sehingga menjadi sombong.

Setelah dirasa ilmunya cukup, induknya melepas mereka bertiga. Ketiganya terbang masuk ke dalam rumah. Nyamuk aedes yang berkulit loreng selalu mencari makan dari pagi hingga siang. Hari masih pagi dan manusia masih tertidur lelap. Akhirnya tampak manusia yang sedang tidur nyenyak. Saatnya beraksi!

“Aku akan menghisap bagian lengan!” sahut Miskito.

“Kalau aku suka bagian kaki,” ujar Muskito. Sedangkan Maskito memilih bagian kepala.
Miskito dan Muskito usai menghisap selalu berpindah tempat, tidak seperti Maskito. Dia begitu menikmati, menghisap dan diam tidak bergerak. Melihat hal itu kedua saudaranya menghampiri dan mencoba menariknya.

“Aach! Kalian menggangguku?” Maskito mengomel, “Darahnya enak sekali.”

“Kamu sudah lupa, apa yang dikatakan ibu!” sahut kakaknya. “Habis menghisap lalu terbang!”

“Kalian tahu apa?” jawab Maskito. “Aku akan terbang dan menghindar lebih cepat dari kalian,” lanjutnya. Melihat Maskito marah-marah, kedua kakaknya terbang meninggalkannya kembali ke sarang.

Induk nyamuk marah-marah mendapat laporan dari kedua anaknya. Maskito dimarahi berkali-kali, tapi semua nasihat ibunya tidak diresapi dalam hatinya.

Mentari telah bersinar kembali, sinarnya menembus dahan-dahan pohon. Mereka terbangun, setelah semalaman tidur nyenyak. Saatnya mencari makan. Ketiganya terbang kembali ke dalam rumah, melalui jalan yang dilalui kemarin. Di kamar tidur itu, ada manusia yang tidur nyenyak. Miskito dan Muskito memilih bagian kaki, sedang Maskito memilih bagian lengan lelaki tersebut dan diam tidak bergerak. Maskito begitu menikmati darah manusia. Sehabis menghisap dan merasa kenyang, kedua kakaknya langsung terbang. Mereka menghampiri Maskito. “Ayo Maskito! Kita pergi, jangan lama-lama, berbahaya!” kata kakaknya. Berulang kali di panggil, Maskito hanya diam, tidak menyahut. Tiba-tiba ada gerakan tangan kiri manusia itu. Cepat sekali! Tangan itu menepuk ke arah Maskito. Maskito tidak cepat menghindar dan …

“Aaach … aaach!” teriak Maskito lalu diam. Tubuh Maskito tergencet oleh tangan tersebut. Melihat kejadian itu, kedua kakaknya sedih sekali. Mereka tidak menyangka, kalau Maskito mati dengan cara mengenaskan. Maskito, seekor nyamuk yang sombong dan tidak mau menerima nasihat orang lain, akhirnya mati akibat kebodohan dan kesombongannya sendiri. @@@

 

Mentari Edisi 359 Tahun 2007

5 thoughts on “Maskito Nyamuk Yang Sombong”

  1. Hai, Mbak Arsy yang baik hati,

    Cerita yang seru. Tapi bolehkah saya bertanya, ketiga anak nyamuk itu jenis kelaminnya apa? Kalau dari cerita ini semuanya menghisap darah, berarti mereka bertiga adalah nyamuk betina. Karena hanya nyamuk betina yang menghisap darah, sedangkan nyamun jatuh makanannya adalah nektar dari bunga-bunga. Mungkin si ayah nyamuk yang mati syahid itu bukan sedang ingin menghisap darah manusia, sepertinya dia sedang observasi.

    Ada beberapa kata yang mungkin bisa Mbak Arsy koreksi :

    Setelah berputar-putar, dia melihat dibawah pohon. (Di bawah)

    Manusia sangat takut dengan nyamuk jenis ini, karena gigitanyya dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. (Gigitannya)

    Walau pun yang menjadi nyamuk hanya tiga ekor, induknya senang sekali. (Walaupun)

    Nyamuk yang tertua, badannya gemuk di beri nama Miskito. (Diberi)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s