Cerita Anak

Cempaka Wungu

Cempaka Wungu!!! Mungkin kalian heran ya, mendengar nama itu. Itu nama belajar kelompokku yang terdiri dari aku, Risa, Martha dan Andhina. Oh ya, namaku Jelita. Mudah di tebak kan, pasti sejelita orangnya, hi … hi … hi …. Tidak kok, aku tidak bermaksud sombong, hanya bergurau!

Kelompok belajar ini terbentuk atas usulku. Dan, teman-teman yang aku pilih, adalah teman-teman dekatku. Rumah kami juga berdekatan. Sebenarnya sih, aku meniru Kak Ike, kakakku yang duduk di kelas X SMA. Ternyata, dengan belajar kelompok itu, kepandaian kami bertambah, yang mengerti semakin pintar. Kadang, kami juga saling mengajarkan.

Hasil dari kelompok belajar itu, benar-benar di luar dugaan. Di kelas, nilai kami berada di atas rata-rata anak-anak yang lain.

Namun, yang membuat kami tidak mengerti, banyak anak-anak lain yang iri. Pernah kudengar Melly, Intan, dan Lia membicarakan kami. Duh, sakit sekali telinga ini mendengarnya.

“Biar saja, Lita,” kata Risa, sambil mencomot pisang goreng, yang kusediakan. Sore itu, kami baru saja selesai belajar, dan kuceritakan semua yang ku dengar.

“Mereka pasti iri, karena keberhasilan kita,” sambung Martha.

“Lagi pula,” sambung Andhina, yang selalu memakai pita warna putih. “Salah mereka sendiri, kenapa tidak membentuk kelompok belajar.”

Benarkah itu? Kudengar ada beberapa anak, yang membentuk kelompok belajar pula. Tapi, hasilnya tidak semaju yang kami dapat.

“Pokoknya, kelompok belajar Cempaka Wungu harus mengalahkan yang lain,” kata Martha semangat. “Biar mereka tahu, siapa kita.”

Dan, hasilnya memang seperti yang kami harapkan. Semester kedua ini, ketika kenaikan kelas, kami berempat menduduki rangking satu sampai empat. Seperti kuduga pula, anak-anak semakin iri dan dingin kepada kami. Malah tertangkap kesan, mereka seolah menjauhi kami. Ketika kubicarakan hal itu kepada teman-teman, mereka tak acuh saja.
“Sudah kubilang biarkan saja,” kata Risa, “Kita tidak perlu ambil pusing dengan mereka.”

“Lita, kelompok kita, ya kelompok kita. Kelompok mereka, adalah kelompok mereka. Tak usah dicampurkan. Kitalah yang teratas,” kata Andhina. “Kata kakakku we are the best!”
Aku hanya menurut saja. Tapi, lama kelamaan, aku jadi tidak enak. Kupikir ada yang salah. Tapi apa? Aku tidak tahu. Dulu, kelompok belajar kami terbentuk, kami masih sering mengajari anak-anak lain. Walau pun mereka tidak bergabung, dalam kelompok belajar kami. Tapi, akhir-akhir ini tidak. Itu usul Risa.

“Buat apa kita mengajari anak-anak yang tidak ikut bergabung, dalam kelompok kita? Enak mereka, dong!”

Namun, apa ia masalah itu muncul, karena kami tidak membagi ilmu dengan yang lain? Atau, karena kami menyendiri? Aku jadi bingung. Akhirnya aku putuskan untuk berbicara dengan Kak Ike.

“Betul!” kata kakakku yang cantik itu. “Karena kelompok kalian menyendiri, sudah merasa benar dan meremehkan yang lain. Itu penyebabnya! Walau pun yang lain tidak ikut bergabung dengan kelompok kalian, tapi kalian janganlah sombong. Jangan merasa besar dulu. Kelompok belajar itu bertujuan, saling mengajarkan dan membagi ilmu. Bukan hanya anggota dalam kelompoknya, tapi juga antar kelompok.”

Kata-kata Kak Ike malamnya aku renungkan. Hmm, benar juga, ya. Kami sudah merasa besar, selalu menyendiri dan kadang bersikap sombong. Sebaiknya, aku memberi tahu yang lain.

Keesokan sorenya, kukatakan semua itu. Yang lain terdiam, merenungi kata-kataku. Dan, satu persatu mengangguk setuju dengan dugaan itu.

“Yah, kita sudah merasa besar,” kata Risa.

“Kita sombong,” sambung Martha.

“Dan kita selalu menyendiri,” sahut Andhina.

Aku tersenyum senang. Teman-temanku mau menyadari kesalahan mereka. “Mulai besok, sikap seperti itu harus kita rubah,” kataku. “Kita harus bergabung lagi dengan yang lain, setuju, kan?”

Mereka mengangguk. Aku mendesah lega. Hmm, kelompok belajar Cempaka Wungu sebentar lagi akan mengembangkan sayapnya. Ya, ibarat air laut, ditimba tidak akan habis. Begitu pula belajar. Tak ada habisnya. @@@

 

Sumber: Mentari 455 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s