Cerita Misteri

Kenangan Tahun 1941

Ketika membuka album foto lama, tiba-tiba mata Kakek berkaca-kaca. Kak Sam terharu juga melihatnya. Cukup lama Kakek mengamati foto-foto yang sudah usang itu. Padahal, menurut Kak Sam, foto-foto itu biasa saja. Hanya tampak Kakek berpose bersama kawan-kawannya di sebuah kantor.

“Foto ini diambil tahun 1941. Aku masih ingat betul, Pak Darman memotret kami ketika sibuk menyiapkan berita Agresi Jepang,” Kakek tiba-tiba menghentikan ceritanya.

Kak Sam mendekati Kakek sambil mengelus pundaknya. “Kakek pasti kangen pada kawan-kawan, bukan? Hmm, pasti asyik juga ya, kalau diadakan reuni. Jangan khawatir, Kek. Sam pasti dengan senang hati membantu,” ujar Kak Sam. Aneh, Kakek malah diam dan tertunduk lesu. Sebentar kemudian, malah menangis semakin menjadi. Kak Sam kaget juga, waduh, jadi serba salah, deh.

“Tidak … tidak mungkin terjadi kita bisa berkumpul lagi … tidak mungkin,” ujar Kakek kemudian.

“Aku masih ingat betul … ketika peristiwa itu terjadi,” sambung Kakek. Kakek memulai ceritanya, saat itu Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Ketika itu, Kakek bekerja di sebuah surat kabar, sebagai seorang jurnalis. Suatu pagi, seperti biasa Kakek dan kawan-kawannya sibuk mempersiapkan naskah. Tiba-tiba, telinga Kakek berdengung … kencang sekali! Tentu saja Kakek kaget … dengungan itu seperti sebuah pesawat yang menderu lalu meletupkan ledakan, … ‘B-blaarrr!’ … tidak hanya sekali tapi berkali-kali!

“Kau mendengar suara ledakan itu?” tanya Kakek pada kawannya. Tapi, tak ada yang mendengarnya, mereka malah menertawakan Kakek. Kakek bingung juga, mengapa hanya dirinya yang mendengarnya. Begitu jelas suara itu, hingga Kakek begitu dekat … dekat sekali.

“Ah … kau ini pasti terpengaruh pada berita-berita yang kau tulis sendiri. Atau mungkin kurang tidur semalaman. Kita harus mengistirahatkan diri, biar pikiran kita tidak kacau,” kata salah seorang kawan Kakek.

Kakek lalu mencoba menenangkan diri, tapi ketika akan duduk di kursi tiba-tiba ada sebuah suara, “Keluar! Ayo keluar! Keluarlah sekarang juga!”

Kakek tersentak, suara ini begitu jelas di telinganya! Hati Kakek berdebar kencang!

“Kalian mendengar sesuatu?” tanya Kakek sekali lagi pada kawan-kawannya. “”Benar! Aku tidak bohong! Suara itu jelas sekali … aku tidak mengingau! Suara-suara itu seakan-akan menyuruh kita untuk keluar, dari tempat ini. Sekarang juga!” kata Kakek dengan mantap. Semua orang terdiam melihat kesungguhan Kakek memaksa kawan-kawannya.

“Ya … tentu saja kita ingin cepat pulang … tapi kita kan harus bertanggung jawab menyelesaikan naskah ini sekarang juga. Berita Agresi Militer Jepang ini harus segera di kabarkan ke masyarakat. Begini saja, lebih baik kau pulang saja duluan. Kau perlu istirahat,” kata Pak Darman saat itu.

“Tidak! Aku menunggu kalian saja,” ujar Kakek.

Tapi, beberapa saat kemudian suara bisikan aneh itu kembali terdengar lebih jelas lagi!
“Keluar! Ayo keluar! Keluarlah sekarang juga …! Jangan tunda lagi”

“Kawan-kawan … ayo keluar ruangan ini sekarang juga … jangan tunda lagi!” Tapi, tak seorang pun yang mengikuti ucapannya. Kakek akhirnya keluar dari kantor sendirian saja, tanpa pernah tahu maksudnya … yang penting keluar saja dari tempat itu, sejauh mungkin!

Kira-kira sudah dua kilometer Kakek mengayuh sepedanya, menjauh dari kantor. Tiba-tiba, terdengar dengung suara pesawat tempur terbang rendah. Di sayap dan tubuhnya tergambar bulatan merah, lambing Angkatan Udara Jepang! Lalu tidak lama kemudian … ‘B-blaaarrr … Dh-dhuaarrr …. B-blaaarrr!’ Pesawat tempur itu mem-bom bardir beberapa wilayah, tanpa ampun.

Kakek langsung tiarap, sambil menutupi telinga dengan dua tangannya. Suara bom itu persis seperti yang didengar Kakek! Kakek menjerit histeris, ia menangis melihat banyak sekali bangunan hancur dan terbakar.

Naasnya, kantor surat kabar tempat Kakek bekerja, turut hancur dan terbakar! Konon, semua yang ada di dalam kantor jadi korban, yang tak terselamatkan.

Puluhan tahun sudah, peristiwa aneh dan mengerikan itu terjadi, namun Kakek tidak pernah melupakannya. Ia pun sampai kini tidak habis mengerti, dari mana asal suara misterius yang berbisik padanya. Kakek sangat bersyukur, andai kata ia tidak mengikuti bisikan itu, tentu ia turut menjadi korban. @@@

 

Mentari Edisi 392 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s