Cerita Anak

Pengorbanan Sang Pelukis

download

Dua wanita muda, Sue dan Johnsy, tinggal di sebuah rumah susun di New York. Mereka bercita-cita ingin menjadi pelukis besar. Saat ini, mereka mencari nafkah dengan menggambar untuk majalah dan membuat poster. Hasilnya lumayan untuk hidup mereka sehari-hari.

Pada suatu musim gugur, Johnsy sakit. Ia harus mendekam di tempat tidur. Ketika sakitnya semakin parah, Sue merasa cemas dan memanggil dokter.

Kata dokter di luar kamar, “Sakit paru-paru basah. Sakitnya agak parah. Dan terutama, tampaknya ia enggan untuk hidup.”

Ketika Sue masuk kembali, Johnsy masih Nampak berbaring. Wajahnya pucat pasi. Ia terus melihat ke jendela.

“Dua belas,” gumam Johnsy. Lalu katanya lagi, “sebelas.”

 

“Menghitung apa kau?” tanya Sue.

“Sisa-sisa hariku. Jika helai daun terakhir gugur, aku pun akan menghembuskan nafas terakhir.”

Sue memandang keluar jendela. Matanya mengamati halaman rumput yang sempit. Ia mencari pohon yang dimaksudkan Johnsy. Pada tembok di seberang ia melihat sebatang tanaman rambat tua. Daun-daunnya yang layu tergerai tertiup angin dingin. Ketika itu sehelai daun lain jatuh lagi ke tanah.

“Sepuluh,” kata Johnsy dengan suara lemah. “Akan kupandangi tanaman rambat itu terus. Tepat pada saat daun terakhir tanggal, aku akan meninggal pula.”

“Ah, omong kosong!” sahut Sue meyakinkan. Tapi sebenarnya, ia sangat mencemaskan nasib temannya.

Suatu siang, Sue bertemu dengan Pak Behram, seorang pelukis miskin yang menyewa di lantai dasar. Dia selalu berkata, suatu saat kelak ia akan membuat sebuah lukisan istimewa. Tetapi, tak seorang pun mempercayai kata-katanya. Sue lalu menceritakan penyakit sahabatnya pada Pak Behram.

Pak Behram sangat sedih. Dia memandang tanaman rambat itu. Ketika itu angin bertiup makin kencang dan awan gelap menutupi langit. Menandakan hari akan hujan. Malam pun mulai menyelimuti bumi. Kini, tinggal enam helai daun yang bertengger pada ranting tanaman rambat itu. “Apakah mereka mampu bertahan hingga esok pagi?” kata lelaki tua itu dalam hati.

Esok harinya, Johnsy memandang pada Sue dengan suara amat lemah. “Tolong bukakan tirai itu. Biar kulihat tanaman rambat itu.”

Dengan tangan gemetar, Sue menyibak korden warna ungu itu. Sehelai daun masih tampak menempel pada tembok bata. Sue menarik nafas panjang. Ia lega.
Johnsy memandang takjub, lalu ia berbisik, “Jika daun yang satu ini tanggal, aku akan meninggal.”

Hari pun berlalu. Bahkan sampai malam hari, saat bintang-bintang menghiasi langit, daun itu tetap tinggal sendirian menghiasi tembok. Ketika malam itu, angin datang menderu-deru, Sue merasa dag-dig-dug. Ia memanjatkan doa, meminta agar daun terakhir itu tetap bertengger pada batangnya. Sebab ia khawatir, kalau-kalau kata Johnsy benar. Ia akan meninggal bersama tanggalnya daun itu.

Pagi-pagi benar, Johnsy sudah bangun. Ia minta agar Sue membukakan tirai untuknya. Dengan rasa was-was, gadis itu bangkit. Sambil menyibak tirai itu, ia berdo’a dalam hati.

Sue merasa lega, ketika helai daun terakhir masih menempel di batangnya. Johnsy lama memandangnya dengan penuh tanda tanya.

Kemudian ia mencetus, “Ada kekuatan ghaib yang menjaga daun itu hingga tidak gugur. Sungguh keliru aku tidak ingin sehat. Kau punya sup, Sue?”

Dengan gembira Sue membuat sup. Masa krisis sahabatnya telah berlalu. Temannya sudah mulai berhasrat hidup. Ini berarti akan mempercepat penyembuhan penyakit temannya.

Beberapa hari kemudian, Johnsy sudah bisa duduk sambil menyulam. “Aneh benar helai daun terakhir itu. Ia belum juga tanggal. Sementara dua malam berturut-turut ini angin bertambah hebat.”

Sue menjawab lembut. “Ada rahasia di baliknya. Hari ini Pak Behram tua meninggal di rumah sakit. Beberapa hari yang lalu, ia ditemukan pingsan di kamarnya. Ia mengenakan pakaian lengkap. Tubuhnya biru kedinginan. Salah satu tangan menggenggam lampu senter. Sementara tangan lain memegang palet cat minyak. Baru tadi pagi aku tahu, rupanya ia melihat semua daun berguguran. Maka, malam itu juga ia mengambil tangga, naik ke tembok dan membuat lukisan sehelai daun di tembok itu. Itu sebabnya helai daun terakhir itu tidak gugur ….”

Itulah hasil karya istimewa Pak Behram yang pernah dibicarakan kepada semua orang. Lukisan itu menyelamatkan hidup Johnsy, tetapi telah merenggut nyawa Pak Behram yang tidak kuat menahan dinginnya hawa malam hari. @@@

 

 

Mentari Edisi 126 Tahun 2002

1 thought on “Pengorbanan Sang Pelukis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s