Cerita Misteri

Pindah Rumah

“Bagus kan, Rin?” tanya ibu ketika aku keluar dari mobil.

Aku tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum yang dipaksakan. Aku memandang rumah itu. Rumah berlantai dua yang kecil namun tampak apik dan asri. Halamannya pun tidak terlalu luas. Di bandingkan rumah kami di Jakarta, rumah ini tampak sangat kecil.

Kami sekeluarga pindah ke kota Malang karena ayah dipindah tugaskan ke sebuah kantor cabang di kota yang berudara sejuk ini.

Sudah lima hari semenjak kepindahan kami, namun aku masih merasa sedih karena harus meninggalkan teman-temanku di Jakarta. Angin siang ini yang berhembus lembut menembus kulitku. Rasanya sangat dingin sampai ke dalam tulang.

Aku memeluk boneka pandaku makin erat. Boneka ini adalah salah satu pemberian temanku di Jakarta. Aku merasakan ada yang membelai rambutku. Ternyata Ibu.

Beberapa hari ini Ibu selalu berusaha untuk menghiburku.

“Aku mau ke kamar dulu, Bu,” kataku sambil masuk rumah.

“Kamu tidak makan dulu?” tanya ibu lembut.

“Nanti saja, Bu,” jawabku singkat.

Aku menaiki tangga satu persatu. Kamarku berada di lantai dua. Ku putar gagang pintunya pelan-pelan. Kemudian kurebahkan badanku ke atas tempat tidur. Banyak sekali kotak-kotak kosong bekas mengepak barang kemarin di sudut kamar. Rupanya Mbok Nah belum sempat membuangnya. Aku mencoba untuk memejamkan mata. Namun suasana kamar yang masih asing ini tidak dapat membuatku tidur.

‘Tek … tek … tek …’

Aku mendengar suara aneh.

‘Tek … tek … tek …’

Lagi-lagi suara aneh itu terdengar. Sepertinya berasal dari arah jendela. Aku bangun dan berjalan pelan ke arah jendela.

‘Tek … tek … tek …’

Oh … rupanya ada yang melemparkan kerikil ke jendela. Aku membuka jendela dan melongokkan wajah mencari pelaku yang usil itu.

“Hoi!!!”

Kudengar seseorang berteriak. Kulihat ada seorang anak laki-laki yang usianya sebaya denganku sedang melambaikan tangannya dari rumah sebelah.

“Kamu baru saja pindah, kan?” tanya anak laki-laki itu sambil berteriak.

“Iya,” jawabku tidak kalah keras. Kalau tidak begitu dia pasti tidak mendengar.

“Kenalan yuk!” ajaknya, “Turunlah.”

“Tunggu sebentar.”

Aku berlari keluar menuruni tangga, hampir saja menabrak ibu yang sedang menyiapkan makan siang.

“Aduh, Rina. Hati-hati. Jangan berlari di dalam rumah.”

“Rina main dulu ya, Bu?” kilahku sambil terus berlari.

“Hai” sapaku begitu aku ada di depan anak itu.

“Hai juga,” sapanya ramah. “Namaku Wawan, ini rumahku.” Dia menunjuk ke sebelah rumah.

“Namaku Rina.”

Kami sama-sama diam saling mengamati. Dia agak lebih tinggi dari aku. Matanya hitam dan bersinar nakal. Warna kulitnya agak gelap dari kulitku dan ada beberapa bekas luka di tubuhnya. Dibalik topinya yang hitam tampak rambutnya yang sedikit kemerahan.

Dia pun tampak cukup sibuk mengamati aku. Dia memandangku dari atas sampai bawah. Pandangan matanya berhenti pada boneka panda yang kubawa.

“Ini pemberian temanku,” kataku sambil menunjukkan padanya.

“Kau pasti masih rindu pada temanmu itu, ya?” tanya Wawan.

“Iya, aku rindu sekali. Ingin rasanya kembali ke Jakarta,” kataku dengan mata berkaca-kaca.

“Eit … jangan menangis, dong. Cewek memang cengeng,” ejeknya.

“Maaf.”

Setelah itu kami berbincang akrab. Angin yang dingin terasa semakin dingin. Lalu kudengar suara Ibu memanggilku. Kulihat ibu melambaikan tangan padaku.

“Kok sendirian di luar?” tanya Ibu.

“Aku tadi bercakap-cakap dengan Wawan. Rumahnya di sebelah rumah kita, Bu,” jawabku.

Ibu menatapku heran. “Rina, sejak kita datang, rumah sebelah masih kosong. Tidak ada penghuninya. Kata Bu Dewi, rumah itu sejak lima tahun ditinggalkan penghuninya. Ada kecelakaan kecil. Anak tunggal mereka meninggal karena kecelakaan. Tepat di depan rumah.”

Aku terdiam. Mungkinkah Wawan …?

Esoknya, aku sengaja menemui Bu Dewi yang rumahnya di depan rumah kami.

“Oh … benar. Anaknya seusia kamu, Rina. Namanya Wawan.”

Aku menghela nafas panjang. Jadi yang mengajakku bercakap-cakap itu Wawan yang kemarin? Diam-diam aku berdoa supaya Wawan bahagia di alam sana. @@@

11 thoughts on “Pindah Rumah”

      1. Sebenarnya sudah ada arsipnya, tapi khawatir hilang atau rusak sementara aku buat blog dulu.
        Di arsip masih banyak yang perlu diedit juga sih

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s