Cerita Anak

Ahli Waris Brian Herston

Brian Herston adalah seorang hartawan yang memiliki banyak perusahaan besar. Waktu muda ia bertaruh besar untuk saham dan mendirikan perusahaan angkutan kecil, yang semakin lama semakin besar bahkan akhirnya ada di seluruh negeri.

Kini, walau pun usianya mendekati 40 tahun, dia belum juga menikah. Dia berniat untuk mengangkat Dick, anak pembantunya, sebagai anak angkat dan ahli waris kekayaannya.

Rupanya saudara-saudara tiri Brian Herston tidak senang dengan niat saudara tirinya yang kaya itu. Mereka ingin agar anak laki-laki mereka sajalah yang diambil sebagai ahli waris. Lagi pula mereka masih punya hubungan darah.

Alasan tersebut mereka sampaikan pada Brian Herston dan meminta agar dia tak perlu membuang-buang waktu mendidik Dick yang pasti tidak akan mengerti sama sekali soal bisnis.

Karena terus didesak, Brian Herston akhirnya mengadakan ujian untuk ketiga anak saudara-saudara tirinya, dan juga Dick.

“Apakah kalian akan melaksanakan apa saja yang kuperintahkan pada kalian?” tanya Brian Herston di suatu kesempatan pada keempat anak laki-laki yang salah satunya kelak menjadi ahli warisnya.

“Tentu. Akan kami lakukan apa saja untuk Paman,” ketiga keponakannya menjawab mantap.

“Akan saya kerjakan apa saja yang bisa saya lakukan, Tuan,” jawab Dick.

Brian Herston memegang-megang dagunya dan mengangguk-angguk perlahan-lahan.

“Kalau begitu, aku ingin ibu kalian lukai dengan tangan kalian sendiri!” perintahnya sungguh mengejutkan keempat anak itu dan saudara-saudara tirinya. Mereka pikir ia sudah gila sehingga memberi perintah yang mustahil dilaksanakan.

“Bagaimana, Dick?”

“Tuan, tadi saya katakan, saya akan mengerjakan apa saja yang bisa saya lakukan. Jadi saya tidak akan mengerjakannya,” jawab Dick tegas.

“Lalu kalian?” tanya Brian Herston pada ketiga keponakannya. “Bukankah tadi kalian bilang akan melakukan apa saja untukku?”

Melihat ketiganya makin menunduk dan terus membisu, akhirnya Brian Herston berkata, “Kalau ada yang tidak bisa kau kerjakan, jangan pernah mengatakan akan melakukan apa saja. Lebih baik kalian menjawab seperti Dick. Sebab, orang yang bertanggung jawab atas ucapannya sendiri pasti akan dipercayai orang. Dalam bisnis, kepercayaan adalah hal yang penting.”

Rupanya Brian Herston tidak sungguh-sungguh dengan perintahnya tadi. Dia cuma ingin membuktikan pada saudara-saudara tirinya seperti apakah Dick, anak pembantu yang mereka anggap remeh.

Tapi, saudara-saudara tirinya belum puas. Mereka minta agar diadakan ujian sekali lagi.
Permintaan itu disetujui. Brian Herston lalu mengajak mereka semua ke halaman belakang rumahnya. Disana akan sebuah kolam ikan yang sangat luas. Mereka bertanya-tanya mengapa Brian Herston mengajak mereka ke pinggiran kolam.

“Kolam di taman ini sudah kotor. Coba kalian bersihkan dan ambil lumpurnya!” perintah Brian Herston dengan santai. “Kak, jika anak-anak kalian bisa membersihkan kolam itu, aku tidak segan-segan lagi menunjuk mereka sebagai ahli warisku,” janjinya pada ketiga saudara tirinya.

Mendengar janji itu, mereka segera menyuruh ketiga anak itu untuk mengambil ember dan masuk ke tengah kolam untuk mengambil lumpur yang mengotori kolam. Padahal dalam hati mereka sendiri ragu anak-anak itu akan sanggup membersihkan kolam yang begitu luas. Dikerjakan oleh sepuluh orang dewasa saja pasti membutuhkan waktu beberapa hari.

Ternyata benar. Baru satu jam mondar-mandir mengangkuti lumpur dengan ember, seorang dari tiga anak itu menangis kelelahan. “Wuaaa … wuaaa … aku tidak mau lagi disuruh begini, bajuku kotor semua … mama!” jeritnya memanggil mamanya.

Brian Herston menutup mulut menahan tawa waktu melihat dua anak lainnya malah berkelahi setelah sebelumnya saling menyalahkan. “Kamu sih ngomong mau melakukan apa saja!” tuduh seorang anak dengan kesal.

“Lho, papa yang menyuruhku bilang begitu!” tangkis anak satunya. “Salah sendiri ikut-ikutan, bodoh!”

Melihat tingkah keponakannya yang memalukan itu, Brian Herston cuma bisa geleng-geleng kepala. “Anak-anak yang manja … kalau begitu mana bisa kalian jadi ahli warisku?”

Meski dongkol, ketiga saudara tirinya masih berusaha membela anak-anaknya. “Dik, anak kecil dimana saja hasilnya pasti akan begini. Masa anak kecil disuruh membersihkan kolam, jelas mereka tidak mampu.”

“Mungkin saja begitu. Tapi aku belum bisa mengambil keputusan sebelum Dick mencobanya,” jawab Brian Herston.
“Dick, sekarang giliranmu membersihkan kolam ini!” perintahnya pada Dick yang sedari tadi berdiri disampingnya.

“Pokoknya asal kolam ini bersih, kan?” tanya Dick.

“Ya,” sahut Brian Herston singkat.

“Bisa selesai hari ini, nggak ya?” gumam Dick sesaat, lalu berlari menemui tukang kebun rumah itu yang sedang memangkas dahan pohon. Tampak Dick berbicara dengannya.

Saudara-saudara tiri Brian Herston dan anak-anaknya mencemooh dalam hati. Walau pun Dick dibantu tukang kebun itu, berdua mengangkuti lumpur dengan ember, hasilnya pasti sama saja seperti yang mereka kerjakan tadi, begitu pikir mereka.

Tidak lama kemudian, tiga truk bertangki besar memasuki halaman belakang rumah itu.

Beberapa orang dewasa turun dari truk dan memasang selang-selang besar pada lubang-lubang tangki. Tukang kebun tadi yang berbicara pada Dick berkata, “Tuan, lumpur ini buat saya saja. Kami akan mulai mengambilnya.”

Dereeed, dereeer, dereeed, dereeer …! Bunyi mesin penyedot air kolam melalui selang-selang masuk ke dalam tangki. Sementara itu, sopir-sopir truk dan tukang kebun langsung mengangkuti lumpur dengan gerobak. Karena kolam sudah kering, tentu tidak sulit mengangkuti lumpur-lumpur itu. Sebelum matahari terbenam, lumpur di kolam sudah terangkut semua, tinggal memenuhi kolam dengan air besih.

Setelah truk-truk itu pergi, Brian Herston bertanya pada Dick, “Kenapa kamu minta tolong tukang kebun?”

Dick menjawab, “Saya rasa harus ada cara paling cepat membersihkan kolam ini … Kalau sendirian mana mungkin. Tukang kebun pernah berkata bahwa lumpur kolam bisa jadi kompos yang baik bagi tumbuh-tumbuhan karena banyak vitaminnya. Bagi tukang kebun itu barang berharga, jadi saya minta bantuannya memanggil truk-truk tadi. Kolam jadi bersih, dan tukang kebun senang.”

Brian Herston sangat puas mendengar penjelasan itu. Tanpa mengotori bajunya, Dick memikirkan keuntungan untuk kedua belah pihak, dan tujuannya sendiri pun tercapai.
Saudara-saudara tiri Brian Herston tidak bisa membantah lagi. Mereka mengakui bahwa Dick memang pantas menjadi ahli waris kekayan Brian Herston. @@@

 

Mentari Edisi 128 Tahun 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s