Abunawas

Mencari Kambing Hitam

Atas anjuran seorang tabib, Baginda disuruh sering minum susu kambing. “Agar Baginda awet muda dan sehat selalu,” begitu saran sang tabib.

Tapi kambing yang dimaksud sang tabib, bukan kambing sembarang kambing. Tapi, kambing betina berbulu hitam, tanpa setitik pun warna lain. “Pokoknya hitam polos, tanpa warna lain,” jelas sang tabib.

Tidak mudah memang, mencari kambing seperti yang dimaksud sang tabib. Dalam keadaan sulit seperti itu, siapa lagi yang dimintai tolong, kalau bukan Abunawas.

“Abunawas, telusuri seluruh penjuru Baghdad. Cari kambing betina berwarna hitam pekat, tanpa ada setitik pun warna lain,” titah Baginda kepada Abunawas, setelah si cerdik ini datang ke istana.

“Mana ada kambing betina seperti itu, Baginda?” Abunawas mencoba mengelak.

“Kalau tidak sulit, buat apa aku memanggilmu kemari,” jawab Baginda tidak mau kalah.

Abunawas segera sadar, titah Baginda tidak bisa dibantah. Dia harus bisa menyiasati, agar Baginda puas dengan hasil usahanya.

“Baiklah, Baginda. Hamba akan mencarinya. Tapi hamba perlu ongkos untuk kesana kemari,” pinta Abunawas.

“Kalau soal itu jangan khawatir. Aku beri engkau seratus dinar. Nanti kalau engkau berhasil mendapatkan kambing betina itu, aku akan tambah lagi hadiahnya,” janji Baginda.

“Tapi kalau tidak berhasil, apa ada sangsinya?” tanya Abunawas.

“Jelas!! Kau harus masuk penjara selama tiga bulan!”

“Hah?!”

Berbekal uang seratus dinar, Abunawas berkelana menyusuri segala pojok negeri Baghdad. Tapi sampai seminggu mencari, kambing yang dimaksud Baginda belum ketemu juga. Ada yang berwarna hitam pekat, tetapi ada setitik warna putih di punggungnya. Baginda jelas akan menolaknya.

“Tapi kambing ini hampir mendekati keinginan Baginda,” gumam Abunawas, tatkala menjumpai seekor kambing betina berwarna hitam pekat. “Yang lain tampak lebih jelas nodanya (warna lainnya),” gumamnya lagi.

Iseng-iseng Abunawas menanyakan kepada pemiliknya. “Seandainya kambing ini aku beli, berapa harga yang engkau tawarkan?”

Mengetahui gelagat Abunawas sangat berminat membeli, pemilik kambing menawarkan dengan harga seenaknya. “Lima ratus dinar! Pas, tidak boleh kurang!” jawab pemilik kambing jual mahal.

Abunawas hanya geleng-geleng kepala, mendengar tawaran itu.

“Sayang kambingmu ada setitik warna putih di punggungnya, seandainya noda itu tidak ada, kambingmu akan kubeli tanpa kutawar lagi,” ujar Abunawas berlagak kaya.

Pemilik kambing tersenyum kecut, mendengar penjelasan Abunawas.

“Tapi, baiklah,” hibur Abunawas pada pemilik kambing. “Walau tidak jadi membeli kambingmu, tapi aku minta sehelai bulu ekornya saja. Untuk sehelai bulu yang kau berikan kepadaku, kau kuberi hadiah uang 100 dinar.”

Betapa kagetnya pemilik kambing. Sehelai bulu ekor kambing dihargai seratus dinar?
Tapi, perasaan kaget itu segera sirna, tatkala Abunawas benar-benar mengeluarkan uang seratus dinar, dari balik bajunya. Tanpa menunggu lama, pemilik kambing mencabut sehelai bulu dari ekor kambingnya dan diserahkan kepada Abunawas.

Baginda kaget bukan kepalang, tatkala Abunawas tiba di istana. Berbekal uang 100 dinar dia hanya mendapatkan sehelai bulu ekor kambing. Baginda marah bukan kepalang.

“Kau benar-benar bodoh! Kau menghamburkan uang begitu banyak, hanya untuk sehelai bulu ekor kambing?!” hardik Baginda tidak habis pikir.

“Tenang Baginda, jangan marah dulu. Sebentar lagi pasti banyak orang berbondong-bondong ke istana, untuk menawarkan kambingnya. Baginda tinggal memilih mana yang Baginda suka,” jawab Abunawas meyakinkan Baginda.

Berita Abunawas membeli sehelai bulu kambing seharga 100 dinar, akhirnya tersebar kemana-mana. Orang-orang tahu, siapa yang memerintahkan Abunawas berbuat seperti itu. Para pemilik kambing yang berwarna hitam pekat, akhirnya berbondong-bondong ke istana.

“Kalau sehelai bulu ekor kambing yang ada nodanya saja Baginda berani membayar seratus dinar, bagaimana dengan kambingku yang benar-benar berwarna hitam pekat tanpa ada setitik pun noda di dalamnya,” begitu pikir para pemilik kambing.

Sekitar dua puluh ekor kambing betina hadir di istana. Semuanya berwarna hitam pekat, tanpa ada setitik noda pun di tubuhnya. Baginda jadi kesulitan memilihnya.
Di saat Baginda berada dalam kebimbangan, Abunawas tampil ke depan.

“Baginda mengucapkan terima kasih atas tawaran kalian,” Abunawas berpidato di hadapan para pemilik kambing. “Tapi Baginda hanya butuh seekor kambing saja. Maka dari itu, siapa yang menawarkan harga yang paling murah, itulah yang akan dibeli Baginda.”

Taktik Abunawas ternyata jitu juga. Para pemilik kambing akhirnya berlomba menawarkan harga yang paling murah. Dari pada pulang dengan tangan hampa, pikir para pemilik kambing. Pada akhirnya, Baginda bisa membeli seekor kambing hitam pekat, dengan harga lima puluh dinar saja.

“Bagaimana, Baginda? Hamba tidak bodoh, kan?” sindir Abunawas, setelah acara jual beli usai.

“Ya … ya … aku akui kau sangat cerdik,” respon Baginda pada Abunawas.

“Tapi mana hadiah yang Baginda janjikan? Kan kambingnya sudah Baginda dapatkan?” tagih Abunawas.

“Kalau masalah uang, selalu saja kau tidak pernah lupa!” sentil Baginda seraya mengulurkan uang seratus dinar, kepada Abunawas.

Yang diberi uang hanya mesam-mesem, membuat gatal hati orang yang melihatnya. @@@

 

Mentari, Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s