Cerita Misteri

Sumur Tua

 

Gambar terkait

“S-samm … Sam! Tolong bantu cepat! Yanti dan Rina pingsan!” teriak Budhe Sum pada Kak Sam, dengan sangat panik.

Astaga, Yanti dan Rina pingsan di dekat sumur tua, yang dikeramatkan warga! Celakanya, orang-orang malah bingung dan ketakutan, sehingga tidak segera menolong dua bocah perempuan itu.

“T-takutt …! Nggak berani! Hii … sumur tua itu kan angker!” kata orang-orang kampung, sambil bergidik.

Kak Sam tidak memperdulikannya. Pemuda itu langsung menggendong Yanti dan Rina, kembali ke rumah. Melihat keberanian Kak Sam, beberapa orang tergerak membantu Kak Sam. Dalam hati, Kak Sam jengkel juga dengan sikap penduduk yang terlalu penakut, hingga menelantarkan Yanti dan Rina.

“Maaf Sam! Mungkin orang-orang teringat, pada kejadian beberapa waktu lalu. Pak Gono tiba-tiba pingsan di dekat sumur tua itu. Anehnya, ketika anak Pak Gono datang hendak memberi pertolongan, tiba-tiba ia ikut pingsan pula!” kata seorang penduduk pada Kak Sam.

Kak Sam memang sudah sejak lama, mendengar cerita angker sumur tua itu. Tidak hanya soal orang-orang yang tiba-tiba pingsan, tapi juga kerap kali orang-orang mengaku melihat penampakan, di sekitar sumur tua itu. Semula, Kak Sam tidak terlalu memperhatikan cerita-cerita itu. Akan tetapi, cerita-cerita itu sangat mempengaruhi penduduk. Hal ini membuat Kak Sam makin penasaran, dengan sumur tua itu.

Sumur tua itu konon peninggalan Belanda. Menurut orang-orang tua, sumur tua itu sengaja dibuat Belanda untuk sumber air perkebunan. Kak Sam kontan mengernyitkan dahinya. Masuk akal juga cerita itu. Karena sumur tua itu terletak di tengah-tengah perkebunan karet.

“Tapi, kemudian sumur itu tidak difungsikan lagi. Sejak Pemerintah membuat sumur bor baru!” ujar seorang warga. Beberapa saat kemudian, Yanti dan Rina siuman. Mereka langsung menangis memeluk ibunya.

“Apa kalian lupa nasihat ibu? Jangan pernah bermain dekat sumur itu!” kata Budhe Sum pada kedua anaknya. Yanti dan Rina tidak men-jawabnya, mereka hanya menangis dan menangis. Sore harinya, tubuh Yanti dan Rina menggigil. Mereka demam tinggi.

“Aduuuhhh, kepala rasanya pusing, perut mual dan dada terasa sesak!” keluh Yanti dan Rina.

“Waaduuhh, jangan-jangan dua bocah ini benar kerasukan! Gawat!” guncing orang-orang kampung.

Kak Sam makin penasaran dengan sumur tua itu. Benarkah sumur tua itu angker? Meski agak ragu, Kak Sam nekad juga mendekati sumur tua itu. Sesekali ia berhenti, untuk mencari posisi mnemotret sumur tua itu, dari berbagai sisi. Hingga kemudian, ia pun sampai juga di bibir sumur itu.

Kak Sam was-was juga melihatnya. Sumur tua itu tampak tidak terawatt. Di sekeliling sumur bahkan tumbuh ilalang, yang cukup tinggi. Kak Sam memberanikan diri melongokkan kepalanya ke dalam sumur itu. Dan, … H-hughh! Pfff! Baunya menyengat sekali.

Mata Kak Sam kontan berkunang-kunang, dadanya terasa sesak! H-hughh! Tiba-tiba, gelap! Ah, Kak Sam pingsan seketika! Orang-orang kaget melihat Kak Sam tergeletak, di samping sumur tua itu. Meski agak ketakutan, mereka akhirnya beramai-ramai mengangkat Kak Sam, menjauhi sumur.

Hingga beberapa saat lamanya, Kak Sam pingsan. Semua orang makin panik melihat kejadian ini. Dalam sehari, sumur itu sudah minta tiga orang korban!

Budhe Sum langsung menghubungi dr. Ritsuko, sahabat Kak Sam. Tidak lama kemudian dr. Ritsuko yang keturunan Jepang itu tiba. Dokter wanita itu langsung memeriksa Kak Sam, juga Yanti dan Rina.

“Wah, kalau begini, bukan karena kerasukan! Ini karena keracunan gas beracun! Untung segera terselamatkan, kalau tidak, bisa fatal! jelas dr. Ritsuko. Semua orang saling berpandangan. Sesaat kemudian, Kak Sam. Wartawan muda itu juga mengeluh pusing, perut mual, dan dada terasa sesak. Sama seperti yang dikeluhkan Yanti dan Rina.

“Tidak salah lagi, itu pasti karena gas beracun! Pasti kalian tanpa sengaja, menghirup gas beracun itu!” ujar dr. Ritsuko kemudian.

Kak Sam dan Budhe Sum langsung menceritakan soal sumur tua itu, pada dr. Ritsuko. Kebetulan dr. Ritsuko punya seorang kawan, ahli tentang geologi. Ia langsung memeriksa kandungan racun, di sumur tua itu. Ternyata benar juga, sumur tua itu dinyatakan berbahaya! Karena mengandung gas beracun.

Satu-satunya jalan untuk mengamankan lingkungan dari bahaya gas beracun, adalah dengan menutup sumur tua itu sesegera mungkin. Tanpa menunggu waktu lagi, penduduk langsung bergotong royong menutup sumur tua itu.

“Kalau sumur ini sudah ditutup, bisa dipastikan gas beracun didalamnya tidak bakalan mengganggu penduduk!” ujar dr. Ritsuko.

Ketika Kak Sam sudah pulih, ia langsung mencetak foto-fotonya. Tiba-tiba, Kak Sam terpaku pada sebuah foto sumur tua, hasil jepretannya itu. Di samping sumur tua itu, ada sesosok putih berambut panjang, yang tidak jelas wajahnya. Wujudnya hanya samar-samar, tapi nyata sekali ada. Kak Sam benar-benar tidak habis mengerti, dengan penampakan sosok putih itu. Ia yakin sekali, saat memotret sama sekali tidak melihat apa pun. @@@

8 thoughts on “Sumur Tua”

    1. Wow… masa’ sih….

      Tapi kalau di rumah sakit gak heran sih kalau banyak hantunya….

      Kalau aku sih setelah nikah justru sering (tapi gak sering2 banget sih) diliatin ama hantu

      Like

      1. Jadi ini cerita hasil karangan mbak arsy ya

        Yah soal hantu mah gitu. Kalau dipikir2 ada hikmahnya juga. Bahwa ternyata hal gaib yang kasat mata itu memang ada

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s