Dongeng

Gudang Kecil Yang Tenang

Pada suatu negara. Tinggallah seorang laki-laki tua dengan putrinya yang bernama Maria. Maria adalah seorang gadis cantik. Di Negara yang sama pula, tinggal seorang raja. Raja itu masih muda dan tampan. Dia sedang mencari seorang istri. Raja mengadakan sayembara bagi semua gadis-gadis di negaranya. Gadis-gadis tersebut harus dapat menunjukkan keahliannya di depan raja. Tak ketinggalan Maria, ia datang bersama ayahnya.

“Anakku dapat memintal dengan baik. Dia dapat memintal jerami menjadi emas. Inilah dia!” kata laki-laku tua, ayah Maria.

Sang Raja berkata pada Maria, “Pintallah jerami menjadi emas atau kamu akan mati!”
Maria tidak dapat melakukannya. Ia hanya dapat menangis dan menangis. Tiba-tiba datang seorang cebol tua yang berwajah buruk. “Mengapa kau menangis, anak manis?” kata si cebol.

“Aku harus memintal jerami ini menjadi emas. Jika tidak, aku akan mati,” jawab Maria.
“Apa yang akan kamu berikan kepadaku, jika aku dapat memintal jerami ini menjadi emas?” tanya Si Cebol.

“Aku akan berikan gelangku ini,” jawab Maria.

Si Cebol itu memintal jerami menjadi emas. Tentu saja tanpa sepengetahuan raja. Sang raja senang ketika ketika melihat hasilnya. Tetapi, ia masih belum puas.

“Ini kamar yang penuh dengan jerami. Jika kamu dapat mengisi penuh kamar ini dengan jerami emas, kamu akan menjadi permaisuriku,” kata Raja pada Maria.

Tentu saja Maria tidak dapat melakukannya. Dia menangis. Tiba-tiba si cebol tua datang kembali. “Apa yang akan kamu berikan kepadaku jika aku dapat merubah jerami-jerami ini menjadi emas?” tanya si cebol.

“Aku tidak punya apa-apa lagi,” jawab Maria.

“Jika kamu menjadi permaisuri, berikan aku anak pertamamu,” kata si cebol.
Maria sudah putus asa.

“Ya, aku akan berikan anak pertamaku kepadamu.”

Si cebol pun mulai memintal dan mengisi kamar itu dengan jerami emas. Sang raja merasa senang sekali. Ia langsung Menikahi maria.

Dalam waktu beberapa tahun, lahirlah anak pertama mereka. Sang Raja dan permaisuri bahagia. Tiba-tiba datang si cebol tua menghadap permaisuri.

“Kamu harus berikan anakmu padaku,” kata si cebol.
Permaisuri tidak dapat berbuat apa-apa.

“Aku akan berikan apa saja kepadamu asal jangan ambil anakku!”

“Bagus,” kata si cebol. “Anak itu akan menjadi milikmu. Syaratnya, kamu harus memanggil namaku tiga kali dan aku akan datang padamu.”

Permaisuri berpikir sepanjang malam. Siapa nama si cebol tua?

“Apakah kamu bernama Franz, Peter atau mungkin Augustin?” tanya sang permaisuri.
“Bukan!” jawab si cebol.

Permaisuri hampir putus asa. Permaisuri menemukan nama-nama yang aneh. “Apakah kamu bernama Rippenbiest atau Hammelwade ataukah Schnuerbein?” tanya Permaisuri.

“Bukan, bukan itu namaku,” kata si cebol.

Si cebol tua memberi waktu beberapa hari untuk permaisuri guna menemukan siapa nama si cebol tua itu.

Ia bertanya kemana saja mencari siapa nama si cebol tua itu. Akhirnya, sang permaisuri mengutus seorang kurir untuk berkeliling ke seluruh negeri. Dia bertanya kepada setiap orang. Tetapi, tidak seorang pun yang tahu.

Kemudian, kurir itu mengendarai kuda menuju hutan yang gelap. Di dalam hutan itu terdapat satu rumah kecil, yang di depannya ada api unggun. Si cebol tua itu ada di sana.

Ia melompat-lompat mengelilingi api unggun itu sambil bernyayi.
Hari ini aku bakar kueku,
Besok aku akan buat masakanku,
Hari berikutnya aku ambil anak sang permaisuri,
Oh langkah bagusnya, tidak ada satu pun yang tahu,
Kalau aku bernama Rumpelstilzhen.

Si kurir itu segera menemui sang permaisuri. Ia menceritakan semua yang ia lihat dan yang ia dengar. Sang permaisuri merasa gembira. Tidak lama kemudian, datang si cebol tua, untuk yang ketiga kalinya.

“Hai Permaisuri Maria, siapakah namaku?” tanyanya.

“Apakah kamu bernama Kunz?”

“Bukan.”

“Apakah kamu bernama Heinz?”

“Bukan.”

“Atau mungkin namamu Rumpelstilzhen?”

Si cebol tua itu lalu berteriak dengan penuh amarah dan membelah diri menjadi dua. Maka, selamatlah permaisuri dan anaknya. @@@

Judul asli: Unbedingt Lesen, Nach Brueder Grimm
Pengarang: George Winkler and Margrit Meinel Diehl
Penerbit: Harcourt Brage Jovankh Publiser, Orlando, 1985

 

Dari Fantasi, Bulan Oktober 1995

1 thought on “Gudang Kecil Yang Tenang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s