Cerita Anak

Bukan Milik Dela

Hasil gambar untuk gambar boneka kartun lucu

Saat turun hujan deras ini Dela sedang menyelesaikan tugas sekolah. Ibu membuatkannya camilan agar Dela merasa senang. Berkali-kali Dela menarik nafas panjang karena hujan tidak berhenti juga. Diperhatikannya air hujan melalui jendela kacanya.

Tiba-tiba mata Dela melihat seorang anak kecil berlari-lari di tengah hujan deras. Didekapnya sebuah boneka basah kuyup seperti pemiliknya. Masih penuh keheranan, Dela mencoba menghampiri anak itu di seberang jalan, di bawah pohon. Namun kilatan cahaya dan suara petir mengurungkan niatnya.

“Bu, ada anak kecil diseberang sana. Kasihan Bu, diajak masuk ya …,” pinta Dela pada ibunya.

“Boleh …,” jawab Ibu Dela. Namun anak itu sudah tidak ada di sana saat Ibu dan Dela ke tempat itu. Padahal Ibu sudah membawakannya sebuah payung. Kecewa hati Dela. Ia pun memungut boneka anak kecil yang terjatuh di jalan.

“Boleh Dela simpan, Bu?” tanya Dela pada Ibunya.

“Sampai kita menemukan pemiliknya, ya …,” jawab ibu setelah menganggukkan kepala.
Dela pun senang. Ia merasa mengenal gadis kecil itu. Walau pun ia tidak sempat menemuinya.

Beberapa hari berlalu, setelah boneka cantik itu bersih dan berganti baju. Seorang anak kecil terlihat lagi di seberang jalan. Seakan-akan mencari sesuatu. Ibu yang melihat itu teringat akan boneka yang sekarang di simpan anaknya.

“Del, anak itu mungkin pemilik boneka yang itu,” tunjuk Ibu Dela pada boneka cantik berwarna pink.

“Ehm … bukan kali, Bu. Anaknya sudah pergi kok …,” jawab Dela. Sepertinya ia mulai sayang pada boneka temuan itu.

“Coba kita tanya dulu pada anak itu, yuk!” ajak Ibu. Sebenarnya Dela menolak. Berat ia harus berpisah dengan boneka temuan itu.

“Lho, anak ibu kok begitu sih. Dela kan sudah punya banyak boneka. Lihat tuh … Lagi pula boneka ini bukan milik Dela,” bujuk Ibu.

“Tapi, Bu … Dela kan tidak mencuri,” jawab Dela lugu.

“Ibu tahu, boneka itu Dela yang temukan. Sekarang pemiliknya mencari, kewajiban kita mengembalikan, ya sayang …,” kata Ibu dengan bijak. Dela mengangguk tanda mengerti.
Dan benar, setelah boneka itu ditunjukkan pada anak kecil itu, ia pun sangat berterima kasih. Kegembiraan terpancar dari wajah kecilnya.

“Terima kasih, Kak. Ini adalah boneka satu-satunya milik Sisi,” kata anak itu tulus. Lalu ia berlari meninggalkan Dela dan ibunya.

Dela menghela nafas panjang. Walau merasa kehilangan, ia merasa lega juga dapat mengembalikan kegembiraan anak itu. Bukankah itu boneka satu-satunya yang dimilikinya? Ah, benar kata Ibu. Kita tidak boleh mengambil barang yang bukan milik sendiri, sekali pun barang temuan. Karena siapa tahu pemiliknya sangat membutuhkan. @@@

 

Mentari Edisi 285 Tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s