Dongeng

Si Cerdik dan Penyihir

Hasil gambar untuk gambar kartun penyihir

Seperti biasa setiap tahunnya. Bahulun si Penyihir sombong selalu memamerkan kemahirannya. Kali ini, Bahulun mengundang para penyihir lebih banyak lagi dari daerah lain, untuk bertanding limu sihir.

Banyak penduduk yang diundang untuk menyaksikan pertandingan tersebut. Warga sebenarnya enggan, hanya saja tidak berani menentang perintah Bahulun.

Beberapa hari berselang, ajang kemahiran menyihir pun digelar. Ditengah seru-serunya pertandingan, tiba-tiba menyeruak seseorang dari penonton, ke tengah arena.

Bahulun sebagai tuan rumah kontan marah besar dan berkata, “Hai, kamu! Jadilah penonton saja. Jangan maju ke tengah, kalau tidak ingin kena sihir-sihir kami!”

Penonton yang dihardik itu adalah seorang pemuda, yang bernama Soma. Dengan lantang ia menjawab pertanyaan Bahulun, “Kalian para Penyihir, tiap tahun memamerkan keahlian kalian. Kami sudah bosan menyaksikan. Tidak adakah pertunjukan yang lain dari kalian? Selain menyihir dan menyihir!”

“Apa maksudmu, anak muda?” tanya Bahulun mulai berang.

“Aku ingin bertanding dengan kalian, tapi tidak menggunakan keahlian menyihir. Kita bertanding dengan cara yang lain. Aku yakin, para penonton pun sudah bosan, dengan kesombongan kalian.”

Terdengar suara penonton menggemuruh, mendukung ucapan Soma, si Pemuda Pemberani.

“Pertandingan apa yang kamu inginkan, untuk melawan kami?” tanya salah seorang penyihir.

“Aku memiliki kekebalan tubuh untuk di rebus. Aku ingin pertandingan yang jujur, tidak boleh ada campur tangan sihir-sihir kalian.”

Para penyihir terdiam. Mereka berpikir seribu kali untuk bertanding, tanpa menggunakan sihir. Hanya untuk menjaga gengsi, para penyihir menyanggupi. Mereka pun ingin melihat, apakah pemuda itu berkata benar.

Setelah mengumpulkan kayu bakar, maka kuali besar yang sudah berisi air, direbus hingga mendidih. Satu persatu para penyihir mencoba masuk ke kuali tersebut, tapi tidak ada yang sanggup karena panas. Tanpa terkecuali si Bahulun sendiri.

Akhirnya, tiba giliran Si Pemuda itu untuk mencebur ke air mendidih, dalam kuali. Sebelum pemuda itu memulainya, ia berkeliling menyalami para penonton untuk minta restu, sekaligus di doakan agar selamat. Penonton yang jumlahnya ratusan itu, satu persatu menyalaminya. Setelah itu, Soma naik ke kuali dan menceburkan diri ke dalam air, yang tengah direbus.

Benar-benar di luar dugaan. Soma Si Pemuda Pemberani itu tidak apa-apa, bahkan ia berenang dengan santainya.

Para penonton bersorak kegirangan, sedang para penyihir hanya menundukkan wajah. Mereka semua yang menyaksikan, mengakui kalau Soma memang memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa. Karena, ia tahan air yang mendidih.

Tapi, sebenarnya Soma Pemuda Pemberani itu telah mengakali para penyihir dan penonton, tanpa disadari telah memakan waktu yang lama untuk meminta restu. Karenanya, air yang mendidih dalam kuali sudah agak dingin, sehingga menjadi hangat. Makanya, Soma kuat berlama-lama di dalam kuali tersebut. Sungguh pemuda yang cerdik. @@@

 

 

Mentari, Edisi 437 Tahun 2008

2 thoughts on “Si Cerdik dan Penyihir”

  1. Wah, kok sy jadi ingat Limbad, saat ia dg atraksinya masuk k dlm air mendidih.

    Btw, masa si tukang sihir gak nambah apinya sih sehingga ttp panas, ada bagian yg kurang msuk akal di sini, hehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s