Abunawas

Raja Kelaparan

Gambar terkait

Suatu ketika, dalam perjalanannya Abunawas merasa sangat lapar dan kehausan. Ia memutuskan berhenti di sebuah desa, untuk mencari warung makanan. Namun, setelah sekian lamanya berkeliling, ia tak kunjung menemukan kedai makanan, barang satu pun.

“Hmmm, ini desa yang aneh! Masak, sih. Kok tidak ada warung makanan sama sekali? Bagaimana kalau orang-orang kampung ingin jajan?” gumam Abunawas tak habis mengerti.

Lalu, Abunawas bertanya dengan seorang lelaki, yang kebetulan lewat. “Pak, di mana warung makan di desa ini?” tanya Abunawas sambil tersenyum ramah.

“Ah, boro-boro warung makan. Cari makan saja susah di tempat ini! Tidak ada warung makan di desa ini!” ujar lelaki bertubuh kurus itu, sambil berlalu. Abunawas makin bingung, mendengar perkataan itu. Tapi, Abunawas tetap mencari warung makan yang diinginkannya. Ia pun berjalan, mengelilingi desa kecil itu.

Tiba-tiba Abunawas melihat rumah, yang dapurnya mengepulkan asap. “Ah, pasti keluarga itu sedang masak! Aku akan minta sekadar makanan dan minuman, untuk mengurangi rasa lapar dan haus!” gumamnya.

Ternyata benar juga, ada seorang ibu sedang sibuk di dapur. “Maaf Bu, saya ini musafir. Bolehkah saya minta makanan dan minuman, sekadarnya saja?” tanya Abunawas penuh harap.

Wanita itu menatap Abunawas dengan tajam. “Tidak! K-kami tidak punya makanan! Cari yang lainnya saja!” kata wanita itu ketus.

“Ah, sedikit saja, sekadarnya saja! Kalau tidak boleh meminta, bagaimana kalau aku membelinya!” kata Abunawas.

“Bukannya aku tidak memperbolehkan kau meminta kepadaku, tapi memang nyatanya keluarga kami tidak punya makanan. Makanan yang aku masak ini, sesungguhnya adalah nasi basi yang tidak sepantasnya aku hidangkan, untuk tamu!” kata wanita itu lugu.

Abunawas terhenyak mendengarnya, ia mendekati bakul nasi yang dibawa wanita itu. Astaga, ternyata benar juga, semuanya sudah basi! “Inilah makanan kami sehari-harinya, karena memang kami tidak bisa membeli makanan apa pun!” keluh wanita itu, diiringi tangis anak-anaknya.

Abunawas terdiam, hilanglah seketika rasa lapar dan hausnya, melihat penderitaan warga desa itu. Ternyata, sudah Sembilan bulan lamanya, desa itu mengalami paceklik. Tak ada air, tak ada tanaman, dan tak ada makanan! Warga desa yang semuanya petani, sama sekali tidak bisa bekerja. Abunawas mengelus dadanya, ia langsung bergegas kembali ke Baghdad.

Meski sangat capek, lapar dan haus, ia langsung menghadap Baginda Harun Alrasyid.
“Baginda, baru saja saya melihat desa yang sangat unik sekali! Semua penduduknya makan biji emas!” ujar Abunawas.

“Benarkah? Kok aku belum pernah mendengarnya? Ayo, segera bawa aku ke sana?!” perintah Baginda Harun.

“Tapi, ada syaratnya! Baginda, sebelumya harus berpuasa dulu. Nah, nanti bukanya di sana!” kata Abunawas meyakinkan. Tanpa curiga sedikit pun, Baginda Harun menuruti saja perintah Abunawas.

Ketika menjelang berbuka puasa, Abunawas langsung mengajak Baginda Harun ke desa terpencil itu. Tentu saja, Baginda Harun merasa sangat kelaparan dibuatnya.

“Ayo, Abunawas! Segeralah! Aku sudah tidak kuat lagi, perutku sudah lapar sekali! Aku lapar, aku haus!” keluh Baginda sambil memegangi perutnya.

Abunawas diam saja tidak berkomentar. Ia terus saja mengajak Baginda Harun mengelilingi desa kecil itu. Beberapa saat berkeliling. Baginda Harun heran juga. Ia tak menyangka, di desa itu sama sekali tidak ada warung makan.

Sultan Harun semakin gusar, karena sudah terlampau lapar. “Waduh, kalau tidak ada warung makan, lebih baik kita minta saja pada penduduk!” pinta Baginda Harun lemas.
Abunawas langsung membawa Baginda Harun masuk ke rumah seorang warga, di desa itu.Tapi, betapa terkejutnya Baginda Harun. Ternyata di rumah itu sama sekali tidak ada makanan, yang bisa dimakan. Hanya nasi dan makanan basi, yang ada di meja makan.
Abunawas lalu mengajak Baginda Harun berkeliling kembali, tetapi semua penduduk di desa itu memang tidak punya makanan. Mereka semua kelaparan.

“Gila! Apa-apaan ini Abunawas! Katamu, semua warga di desa ini makan emas! Kok, ternyata malah tidak ada makanan sama sekali! Aku ini sudah lapar sekali! Kau akan aku hukum cambuk!” maki Baginda Harun.

“Sebentar Baginda. Sesungguhnya, hamba ingin menunjukkan pada Baginda, bahwa ada rakyat Baghdad yang kelaparan dan sangat miskin! Satu-satunya cara untuk turut merasakan betapa menderitanya lapar, adalah dengan berpuasa! Makanya, hamba menganjurkan Baginda, untuk berpuasa!” kata Abunawas menjelaskan.

Baginda Harun langsung terdiam mendengar perkataan Abunawas. Matanya berkaca-kaca dan terharu, melihat penderitaan warganya. “Kau benar Abunawas. Apa artinya aku makan enak. Kalau rakyatku yang kelaparan! Kalau begitu, sekarang juga aku akan mengirim beras dan bahan makanan lain, ke desa ini!”

Kontan seluruh warga desa bersorak sorai mendengarnya. “Terima kasih Abunawas! Terima kasih Baginda Harun, akhirnya kami terbebas dari kelaparan!” kata para penduduk desa dengan gembira.

 

 

Mentari, Edisi 443 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s