Cerita Anak

Berkat Tabunganku

Gambar terkait

“Ibu … Putri sudah pulang!” teriak Putri sambil berlari ke kamar ibunya.

“Oh, kamu sudah pulang, Nak,” sahut Ibu yang masih berbaring di ranjang. “Sini, ganti baju dulu, terus makan ya …”

“Iya, Bu. Ibu istirahat saja, biar Putri nyiapin makan sendiri,” jawab Putri, sambil memegang tangan ibunya.

Putri memang anak yang rajin dan mandiri. Akhir-akhir ini, ia terlihat selalu ceria. Ia senang karena ibunya mengandung lagi. “Sebentar lagi, aku bakalan punya adik, teman bermain di rumah. Asyik …,” kata Putri, setiap melihat perut ibunya yang besar.

Tapi, sejak mengandung lagi, kesehatan ibunya sering terganggu. Mungkin ibu banyak memikirkan ayah, yang belum pulang berlayar. Melihat kondisi ibu, Putri memutuskan sekolah sambil bekerja. Ia bekerja sebagai loper koran setiap pagi hari, sebelum berangkat sekolah. Sore harinya, dia berjualan koran di perempatan jalan.

“Bu, ini ada kelebihan uang jualan koran kemarin. Putri tabung lagi ya, Bu,” kata Putri, sambil memperlihatkan uang dua lembar lima ribuan.

“Memangnya tidak perlu disisihkan untuk jajan kamu, Putri?” tanya ibu.

“Tidak usah, Bu. Mending ditabung, buat beli sepeda baru,” jawab Putri tersenyum.

“Sekarang Putri berangkat dulu ya, Bu.”

Semenjak mulai bekerja sebagai loper koran, Putri memang rajin sekali menabung. Putri ingin mengganti sepedanya yang sudah usang dan sering lepas rantainya.

Malam itu, Putri sedang mengerjakan PR sekolahnya. Tiba-tiba terdengar suara ibu memanggil, “Putri … Putri … Kemari sebentar…”

“Sebentar, Bu,” sahut Putri bergegas menuju kamar ibunya.

“Putri, sepertinya ibu sudah mau melahirkan. Cepat, kita ke rumah sakit, ya,” pinta Ibu kepada Putri.

“Ba … baik. Mari berangkat sekarang, Bu,” jawab Putri sedikit bingung. Maklum ini adalah pertama kalinya Putri melihat ibunya, akan melahirkan adiknya.

Akhirnya, Putri membawa ibu ke rumah sakit terdekat. Berkat pertolongan dokter, ibu berhasil melahirkan dengan selamat. Putri gembira sekali, sekarang dia memiliki adik laki-laki yang lucu.

Setelah istirahat dua hari, akhirnya ibu diperbolehkan pulang. Permasalahannya sekarang, ibu harus membayar biaya peralinan yang cukup besar. Ibu kelihatan resah sekali, karena tidak punya cukup uang untuk itu.

“Putri, coba kamu pergi ke Pak Rahmad. Pinjam uang seratus dua puluh ribu, buat bayar kekurangan biaya persalinan ibu,” pinta ibu pada Putri.
“Baik, Bu,” jawab Putri bergegas ke rumah Pak Rahmad.

Dalam perjalanan, Putri teringat akan tabungannya di rumah. Putri bergegas pulang dan memecahkan tabungannya, “ Seratus lima belas ribu … seratus dua puluh lima ribu … seratus tiga puluh lima ribu delapan ratus rupiah …,” Putri menghitung uang tabungannya. “Horeee … tabunganku cukup buat bayar persalinan ibu,” sorak Putri.

“Tapi, bagaimana sepedaku?” tiba-tiba wajah Putri terlihat murung. “Ah … yang penting, ibu bisa pulang,” kata Putri sambil berusaha riang. Memang, ibu bisa segera pulang setelah melunasi seluruh biaya rumah sakit.

Sebulan sudah berlalu. Putri tetap menjalani kegiatan sehari-harinya, bersekolah dan bekerja. Siang hari itu, sepulang sekolah, Putri melihat seseorang di rumahnya.

“Putri …,” sapa suara ayah.

“Ayah … yah sudah pulang!” teriak Putri kegirangan, berlari memeluk ayahnya. Kegembiraannya bertambah, saat melihat oleh-oleh dari ayahnya, sebuah sepeda baru.

“Terima kasih, ayah … ibu,” kata Putri sambil memandangi sepeda barunya.

“Ayah yang seharusnya berterima kasih pada Putri. Ayah bangga sekali. Berkat tabunganmu, ibu bisa terbantu,” ayah melanjutkan perkataannya.

“Lho, kok ayah tahu?” tanya Putri heran.

“Tadi ibu bertemu Pak Rahmad. Katanya, kamu tidak pinjam uang padanya,” jelas ibu sambil menyusui adik Putri. “Terus ibu lihat tabunganmu sudah pecah. Ibu menduga saja, pasti kamu pakai uang tabunganmu?” lanjut ibu lagi.

“Untung kamu menabung, Nak,” kata ayah memeluk Putri. Putri terlihat gembira sekali. Ternyata menabung itu sangat bermanfaat, ya. Ayah dan ibu tertawa, melihat mimik Putri yang tampak lucu. @@@

 

 

Mentari, Edisi 393 Tahun 2007

2 thoughts on “Berkat Tabunganku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s