Fabel

Mimi Bosan Makan Ikan

Hasil gambar untuk gambar kartun binatang lucu

“Aku bosan makan ikan, Bu!” keluh Mimi pada induknya. Ia mengeong-ngeong minta diperhatikan.

“Kalau kamu bosan makan ikan, lalu mau makan apa?” Tanya induk Mimi, sambil menjilati kepala anaknya.

“Aku ingin seperti Paman Sapi, yang bisa makan rumput. Pasti segar rasanya. Apalagi saat cuaca panas seperti sekarang ini,” lanjut Mimi. Ia berguling-guling, sambil bermain dengan ekor induknya.

“Mimi … Mimi …, kamu ini ada-ada saja. Kalau mau makan rumput, ya minta saja pada Paman Sapi. Pasti dia mau memberimu sedikit,” kata induk Mimi bercanda.

Ternyata ucapan induknya itu dianggap serius, oleh Mimi. Siang itu, ia bergegas menuju kandang Paman Sapi. Ia ingin meminta rumput barang sedikit saja.

“Selamat siang, Paman Sapi!” seru Mimi dengan suaranya yang kecil. Paman Sapi yang tinggi besar, tidak melihat kehadiran kucing kecil itu di kandangnya.

“Oh, suara siapa itu?” gumam Paman Sapi keheranan.

“Ini aku, Paman. Mimi. Aku ada di sini!” seru Mimi.

Paman Sapi pun menundukkan kepalanya.

“Oh, rupanya kau, Mimi. Adaapa kau berkunjung ke kandangku, he?” tanya Paman Sapi.

“Paman, boleh tidak, aku minta sedikit rumput? Di siang hari yang panas ini, tentu segar sekali makan rumput,” kata Mimi membujuk.

“Oh, tentu saja segar. Tapi, apa kau mau makan rumput? Bukannya kamu lebih suka makan ikan?” tanya Paman Sapi heran.

“Aku bosan setiap hari makan ikan, Paman. Aku ingin mencoba makanan lain,” kata Mimi.

“Kalau begitu ambil saja semaumu. Kamu kan kecil, makannya pasti sedikit,” kata Paman Sapi sambil terkekeh.

Mimi sangat gembira.

“Terima kasih, Paman,” kata Mimi dengan riang, sambil melompat ke keranjang rumput, tempat makanan Paman Sapi.

Dengan penuh semangat, Mimi menggigit beberapa helai rumput, lalu mengunyahnya. Tapi, rasa rumput itu sangat jauh berbeda dengan apa yang dibayangkannya. “Puih, kok rasanya begini, Paman?” kata Mimi, sambil memuntahkan kembali rumput yang tadi dikunyahnya.

“Emmmuahh, rumput ya memang rasanya seperti itu, Mimi. Kamu merasa aneh, karena kamu tidak pernah memakannya. Coba saja kamu makan lagi,” kata Paman Sapi sambil tertawa.

Mimi mengikuti perkataan Paman Sapi. Dikunyahnya lagi beberapa helai rumput, meski pun menurutnya rasa rumput itu tidak enak. Tapi, sekeras apa pun usahanya, Mimi tidak bisa menelan rumput itu.

“Puih, aku tidak mau lagi makan rumput,” kata Mimi sambil memuntahkan kembali, rumput yang dimakannya.

“Ha … ha …, kamu itu kucing yang aneh. Kucing memang tidak bisa makan rumput. Kalau pun kamu berhasil menelan rumut itu, tubuhmu tidak akan bisa mencernanya,” kata Paman Sapi menjelaskan.

“Iya, Paman. Ternyata, rumput itu tidak seenak yang kubayangkan. Aku akan mencari makanan yang lain. Terima kasih, ya,” kata Mimi, sambil melompat turun dari keranjang rumput.

Keesokan harinya, Mimi berjalan-jalan. Tiba-tiba, ia tertarik pada sesuatu. Ia pun berhenti dan mendekati.

“Guk … guk …! Hai Kucing Kecil, berani sekali kau mendekati kandangku!” sere seekor anjing berbulu tebal, saat melihat Mimi mendekati kandangnya.

“Oh, maaf Pak Guk Guk. Aku kebetulan lewat dan sangat tertarik, melihat piring makanan ini,” kata Mimi sambil mengeong-ngeong ketakutan.

Untung saja hari itu hati Pak Guk Guk sedang senang. Ia tidak berniat mengejar-ngejar kucing kecil, yang kelihatan lemah dan tidak berdaya itu.

“Kenapa, Kucing Kecil? Kau tertarik dengan tulang kesukaanku?” tanya Pak Guk Guk.

“Apa rasanya enak?” tanya Mimi polos.

“Oh, tentu saja. Aku sangat menyukainya,” kata Pak Guk Guk

“Kalau begitu, bolehkah aku mencobanya sedikit saja?” kata Mimi memohon.

“Oh, kau mau makan tulang? Sungguh kau ini Kucing Kecil yang aneh,” kata Pak Guk Guk tertawa. “Coba saja kalau kau mau. Ambillah sebelum aku berubah pikiran!”

“Terima kasih, Pak Guk Guk,” kata Mimi sambil menggigit potongan tulang itu, lalu membawanya pergi.

Di sebuah pojok yang sepi. Mimi meletakkan tulang itu. Ia ingin menikmati tulang itu dengan tenang.

“Wah, tulang ini kelihatannya enak sekali,” gumam Mimi.

Mimi pun mulai menggigit tulang itu. Tapi, tidak juga ia berhasil mengunyahnya.

“Wah, tulang ini keras sekali, aku tidak bisa menggigitnya. Tapi, rasanya lumayan,” kata Mimi.

Tiba-tiba, sepotong tulang kecil masuk ke tenggorokannya dan membuat Mimi tersedak.
“Uhuk … uhuk …!” Mimi terbatuk-batuk.

Mimi berusaha keras mengeluarkan potongan tulang itu, dari tenggorokannya. Tapi, usahanya sia-sia. Mimi terus terbatuk-batuk, sampai meneteskan air mata. Ia tidak bisa mengeong. Mimi pun berlari pulang ke rumah, mencari induknya.

“Ya ampun, kamu kenapa, Mimi?” tanya induknya. Ia bingung, melihat mimi datang dengan air mata berlinang-linang.

“Uhuk … uhuk …!” Mimi hanya bisa batuk-batuk. ia sama sekali tidak bisa mengeong.
Induk Mimi langsung tanggap. Pasti Mimi tersedak.

“Ayo cepat minum air ini!” kata induk Mimi, sambil menuntun Mimi ke dekat kolam.
Mimi segera meneguk air kolam tersebut. Tapi, potongan tulang di tenggorokannya tidak juga mau masuk ke perutnya.

“Uhuk … uhuk …!” Mimi terbatuk-batuk lagi.

“Wah, tidak ada cara lain,” kata induk Mimi. Ia pun memukul bagian belakang leher Mimi, dengan kedua kaki depannya.

“Uhuk … !!!” Mimi batuk dengan keras. Seketika itu juga, potongan tulang di tenggorokannya terlempar keluar. Mimi bisa mengeong lagi.

“Terima kasih, Bu. Aku janji, tidak akan makan makanan yang aneh-aneh lagi,” kata Mimi. Tenggorokannya masih terasa sakit.

Induk Mimi tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi, ia senang mendengar janji Mimi. Ia pun mengeong senang dan menjilati kepala anaknya. @@@

 

Bobo Edisi/Tahun –

4 thoughts on “Mimi Bosan Makan Ikan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s