Cerita Anak

Bergeser Sepuluh Senti

Hasil gambar untuk gambar kartun sepakbola

Deni benar-benar luar biasa. Baru dua bulan di sekolah barunya, ia sudah menjadi anggota tim sepakbola. Dia dan teman-temannya sedang bertanding sekarang. Tentu, Aish dan Mama ikut mendukung Deni. Berseru-seru sambil mengacung-acungkan poster di tepi lapangan.

“Go, Deni go!” teriak Mama dan Aish kompak. Hi … hi … Mama tidak kalah semangat dari Aish.

Skor imbang sekarang, dua sama. Salah satunya golnya Deni, dong! Sekitar dua menit lagi pertandingan selesai. Kedua tim berusaha mencetak gol lagi.

Aish memegang kedua pipinya dengan cemas. Tim Deni terdesak! Deni ada di kotak penaltinya sendiri. Padahal dia seorang striker. Salah seorang tim lawan tiba-tiba menendang bola, tepat ke arah gawang! Gawat!

Untunglah Deni bisa menghalau bola. Bola itu melayang dan …

Mulanya Aish tidak mengerti apa yang terjadi. Sesaat kemudian, Aish tertegun!

Sepertinya semua penonton juga. Namun kemudian terdengar suara seruan sebagian penonton.

“Deni memasukkan bola ke gawang sendiri?” ujar Aish tidak percaya.

Benar. Tadi bola itu membentur mistar dan melenting masuk gawang. Tim Deni terlihat tidak percaya dengan kejadian itu. Deni tertunduk sedih.

Pendukung tim lawan bersorak sorai. Mereka unggul sekarang. Pertandingan dilanjutkan. Semua anggota tim Deni terlihat enggan. Mereka pasti berpikir, dengan sisa waktu semenit, bagaimana bisa mengejar ketinggalan gol?

Akhirnya wasit membunyikan peluit, tanda berakhir pertandingan. Tim Deni melangkah lunglai ke tepi lapangan. Bahkan dari jauh, Aish bisa melihat wajah-wajah kecewa mereka.

Deni membereskan barang-barangnya, lalu menghampiri Mama dan Aish. Beberapa orang terlihat mencuri-curi pandang ke arahnya. Sesaat Mama ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya hanya tersenyum dan menepuk bahu Dani.

Deni sepertinya mencoba tersenyum, tapi tidak berhasil.

Bertiga, mereka naik mobil dalam diam. Di perjalanan, suasana makin lama makin hening. Aish ingat bagaimana rasanya kalah dalam pertandingan basket. Dia juga ingat bagaimana rasanya ketika menumpahkan cat dilukisan seorang teman Mama. Perasaan Deni pastilah campuran keduanya.

Deni menyendiri begitu tiba di rumah. Dia sedang berandai-andai. Kalau bola tendangannya bergeser sepuluh senti, bola itu akan keluar lapangan. Sekali lagi dia akan menjadi pahlawan tim. Bukannya melakukan kesalahan seperti tadi.

Aish mondar mandir, mencari-cari cara menghibur Deni. Jangan-jangan apa yang dikatakannya nanti justru membuat Deni makin sedih. Tiba-tiba dia ingat boneka kataknya. Segera disambarnya boneka itu, lalu menuju halaman samping, tempat Deni menyendiri.

Aish bersembunyi di balik kursi teras samping. Dia hanya menyembulkan katak yang dibawanya di atas kursi. Meski pun Aish masih terlihat.

“Hai, Deni!” ujar Aish dengan suara serak.

Deni terkejut, mendengarnya.

“Aku mau curhat nih. Hu … hu … hu … aku katak yang malang.”

Deni memandang heran boneka katak Aish.

“Aku pernah merusak lukisan teman Mama yang baru selesai dibuat. Tanpa sengaja aku menumpahkan cat ke lukisan itu,” ujar Aish. “Rasanya menyesal sekali. Apalagi hukuman yang kuterima, membuatku pegal-pegal.”

“Jangan berlebihan,” terdengar tawa geli dari dalam rumah. “Kamu cuma harus berpose lima menit untuk teman Mama. Lagi pula kamu bergerak-gerak terus.”
Tentu saja itu Mama. Mama keluar membawa sebatang cokelat.

Deni geli mendengar perdebatan Mama dan Aish. Dia mengerti Mama dan Aish sedang berusaha menghiburnya. Apalagi Aish yang sudah bersusah payah menjadi katak. Meski pun menurut Deni, cara Aish lebih cocok untuk anak TK, hi … hi … hi …

“Aish hampir menangis waktu itu, lho,” goda Mama geli.

“Uuuh … Mama!” kata Aish cemberut.

Deni terdiam. Sekarang Mama dan Aish memang tertawa-tawa. Namun, Deni menduga waktu itu Aish pasti merasa sangat bersalah dan sangat menyesal. Sama seperti dirinya sekarang.

“Kesalahan seperti tadi pasti membuat siapa pun sangat sedih,” ujar Mama lembut.
Deni tertegun.

“Namun, kadang tanpa sengaja kita berbuat salah,” ujar Mama. “Yang penting kita harus memaafkan diri sendiri dulu. Besok-besok, berusaha tidak mengulanginya lagi.”

“Terus, teman-teman Deni besok?” tanya Deni khawatir.

“Yaaah … tadi mereka kesal karena masih kecewa,” jawab Mama. “Mudah-mudahan besok sudah berkurang.”

Deni tersenyum. Mama dan Aish memang ahli membuat perasaannya jadi lebih baik. Dia tidak tahu bagaimana sikap teman-temannya besok. Namun, benar kata Mama. Dia harus menghilangkan rasa menyesalnya dulu. Dia yakin akhirnya teman-temannya mau memaafkan. @@@

 

 

Mentari, Edisi – Tahun –

1 thought on “Bergeser Sepuluh Senti”

  1. Rasa bersalah atas suatu kesalahan yg tak disengaja dilakukan tentu punya rasa dan ruang tersendiri dlm relung hati seseorang. Tp betul, mengutuki diri sendiri trus menerus jg tdk baik, yg terpenting di lain waktu kslhan tsb tak terulang, dan kita dapat memetik hikmah dr stiap kejadian yg dialami.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s