Cerita Anak

Petualangan Si Kutu Buku

Gambar terkait

 

Siang musim panas itu, langit tampak kelabu. Hilda dan temannya Santi, sedang duduk di beranda rumah Hilda. Mereka memikirkan hendak melakukan apa, siang itu. Tiba-tiba Hilda berkata, “Ayo kita ke perpustakaan dan membaca. Rasanya belum terlalu sore.”

“Ah, jauh,” sahut Santi. “Berjalan kaki membutuhkan waktu yang lama.”

“Kita menumpang mobil saja.”

“Mobil siapa?”

“Ya, mobil siapa saja.”

Akhirnya atas desakan Hilda, Santi mau juga berangkat. Ketika keluar pintu gerbang, mereka melihat Pak Firman, tetangga sebelah, sedang mengeluarkan mobil pick up. Kedua anak perempuan itu melambaikan tangan. Kebetulah Pak Firman hendak ke kota, sehingga Hilda dan Santi ikut menumpang.

Sampai di kota, kedua gadis itu turun. Kebetulan tempat tujuan Pak Firman, tidak jauh dari perpustakaan.

“Bagaimana nanti kalian akan pulang?” Tanya Pak Firman. “Mungkin nanti akan turun hujan lebat.”

“Ya, menunggu seseorang yang kita kenal,” jawab Hilda sekenanya.

Kedua gadis itu lalu masuk ke perpustakaan. Tempat itu berupa sebuah bangunan kuno, yang agak terpencil dari jalan. Bu Maryatun adalah pengurus tunggalnya.

“Selamat siang, Bu Maryatun,” sapa kedua gadis itu. Bu Maryatun membalas sapa mereka, lalu meneruskan pekerjaannya.

Kedua gadis itu lalu mencari buku kegemaran mereka. Setelah ditemukan, mereka lalu duduk dekat jendela lebar, dibelakang dua buah rak buku besar. Hilda suka buku tentang binatang buas. Santi membaca buku tentang petualangan seorang wanita muda, dibelantara Afrika. Untuk beberapa waktu lamanya, turun hujan lebat. Tetapi kedua gadis itu tidak memperdulikan sama sekali, kilat yang bersahutan. Mereka sangat terkecam oleh buku yang mereka baca.

Sekali Hilda mendongak, “Astaga, sunyinya!” cetusnya. “Barangkali perpustakaan sudah hampir tutup.”

“Tetapi kita belum lama di sini,” jawab Santi tidak sabar. Ia baru membaca bagian buku yang amat seru dan tidak suka di ganggu. Maka kedua gadis itu terus membaca. Santi akhirnya memperhatikan, bahwa hari mulai gelap.

“Wah, kok sunyi sekali di sini,” kata Santi. “Aku akan menanyakan waktu, pada Bu Maryatun.”

Ia lenyap mengitari rak buku. Sesaat kemudian, terdengar teriakan lantang, “Hilda, Bu Maryatun sudah pulang. Tidak ada lagi orang di sini!”

Hilda melompat dari tempat duduknya. Benar. Di tempat itu, tidak ada orang lagi! Mereka berlari ke pintu depan, tetapi terkunci. Jendela-jendela kaca yang berat sudah macet, karena tidak pernah dibuka, selama bertahun-tahun.

“Celaka,” desah Santi hampir menangis. Tetapi Hilda sebaliknya, amat girang.

“Yah, inilah yang namanya petualangan,” kata Hilda. “Kelak kita bisa menceritakan pada anak cucu kita. Semoga kita bisa tinggal semalam di sini.”

Santi mengisak, “Seandainya saja aku tidak membaca buku yang mencekam, aku tidak akan takut sekarang.”

Tiba-tiba terpercik rasa yang amat mengerikan. “Hilda!” seru Santi. “Tahukah hari apa sekarang? Sabtu! Kita akan terkurung di sini, sampai hari Senin. Kita akan kelaparan.”

Hilda kini tidak merasa gembira lagi, dengan petualangannya. “Mari kita gedor jendela,” kata Hilda. Semoga ada orang yang mendengarnya.

Mereka lalu menggedor-gedor jendela dan berteriak-teriak. Tetapi gedung perpustakaan itu jauh dari jalan, sehingga tidak seorang pun yang mendengarnya.

Ruangan itu sekarang menjadi semakin gelap. Akibat badai, maka listrik pun padam. Anak-anak itu tidak bisa menemukan korek api, untuk menyalakan lampu gas kuno.

Tetapi mereka menemukan sebatang permen cokelat, di meja Bu Maryatun. “Kita tidak perlu takut kelaparan lagi,” kata Santi. “Kita bisa membelikan Bu Maryatun nanti, setelah kita keluar.”

Sambil makan permen, mereka berdiri memandang keluar jendela depan.

“Hai, apa itu?” seru Hilda tiba-tiba. Sesosok tubuh mungil berjalan berlahan-lahan, muncul dari jalan raya.

“Itu anak kecil bermian bola,” sahut Santi. “Berteriaklah, Hilda!”

Mereka lalu berteriak dan menggedor-gedor jendela. Anak kecil itu memandang takut, ke arah jendela yang gelap. Ia lalu bergegas lari, kembali ke jalan.

“Apa kau pikir ia akan menceritakan pada orang, bahwa kita disini?” tanya Santi ingin tahu.

“Barangkali. Ia mengira perpustakaan ini berhantu,” jawab Hilda.

Kedua gadis itu berteriak sampai suara mereka serak. Akhirnya mereka menyerah dan kembali duduk. Mereka menyesal, tidak memberitahukan kepergian keduanya, pada orang tua mereka. Keduanya lalu menghibur diri dengan bercanda, sehingga lupa rasa takut. Rasa lapar juga tidak mereka pedulikan.

Waktu terus merambat, lonceng kota berdentang delapan kali, lalu Sembilan. Ketika berdentang sepuluh kali, keduanya tertidur.

Menjelang pukul dua belas, mereka terbangun oleh suara dentuman keras dan teriakan. Santi bangkit, ia merasa takut. Hilda berjalan berjingkat ke pintu. Jantungnya berdetak keras.

“Siapa di situ?” Hilda berseru.

“Kaukah itu, Hilda? Syukurlah aku bisa menemukanmu,” terdengar suara Pak Firman.

“Apakah Santi bersamamu? Bagus. Ayahmu telah mencarimu kesana kemari. Aku dengar orang mengatakan, ada hantu di perpustakaan. Kupikir itu pasti kalian. Buka pintunya!”

“Kami terkunci, Pak Firman,” sahut Hilda. “Kuncinya ada pada Bu Maryatun.”

“Baiklah. Kalian tunggu di sini,” kata Pak Firman. Anak-anak itu kini lega sekali.

Berkat pertolongan Pak Firman, kedua gadis itu selamat. Mereka bisa dikeluarkan dari gedung perpustakaan sebelum terlambat. Waktu ditanya ayah Santi, Pak Firman menjawab, “Saya tahu mereka kutu buku. Dugaan saya makin kuat, ketika mendengar berita munculnya hantu, di perpustakaan itu. Kemana lagi tujuan mereka ke kota, kalau bukan ke perpustakaan? @@@
Judul Asli: The Bookworas

 

 

Mentari, Edisi 368 Tahun 2007

2 thoughts on “Petualangan Si Kutu Buku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s