Cerita Anak

Kena Batunya

 

Hasil gambar untuk gambar kartun karate keren

Bagi orang lain, berpindah-pindah sekolah, mungkin merupakan masalah besar. Tetapi, bagiku tidak. Sebab sejak TK, hingga kelas 5 SD ini, aku sudah empat kali kualami.

Aku berpindah-pindah sekolah dari tempat tinggal, lantaran ayahku seorang anggota TNI, yang sering ditugaskan ke wilayah-wilayah tertentu di tanah air ini. Terutama ke daerah-daerah rawan kerusuhan, konflik dan bencana alam, untuk menciptakan dan memelihara suasana yang aman, tenteram, dan nyaman bagi seluruh anggota masyarakat.

Dengan kebiasaan berpindah-pindah tersebut, perlahan-lahan membentuk jiwa petualangan yang kokoh pada pribadiku. Aku menjadi sangat suka, pada hal-hal baru dan menantang.

“Haikal! Kamu jadi pindah ke sekolahku, nggak?” tanya Fauzi.

“Jadi,” ucapku.

“Menurutku, kamu sebaiknya cari sekolah lain. Aku saja mau pindah sekolah,” kata Fauzi.

“Kenapa?” jawabku.

“Soalnya, di sekolah itu ada anak nakal. Anto namanya,” jelas Fauzi.

Kemudian, Fauzi membeberkan kenakalan Anto, yang ia ketahui, antara lain, suka memeras siswa yang punya uang, mengganggu anak-anak putri, bahkan mencelakai Bu Guru.

“Mencelakai Bu Guru?” aku kaget.

“Pernah ia menukar kursi guru dengan kursi yang reot, sehingga pantat Bu Guru terjepit ketika mendudukinya,” jelas Fauzi.

“Keterlaluan anak itu!” ucapku geram. “Kenapa kalian diam saja?”

“Kami tidak berani, soalnya ia tidak segan-segan menyakiti” ucap Fauzi.

“Dan ini …,” Fauzi memegang punggungnya.

“Kenapa punggungmu, Zi?” tanyaku heran.

“Kemarin lusa, aku terjatuh ketika hendak duduk di kursi. Lantaran kursi yang akan aku duduki, tiba-tiba ditarik olehnya. Makanya hari ini aku tidak ke sekolah, karena susah berjalan,” jelas Fauzi, dengan wajah meringis menahan sakit.

“Jadi itu alasanmu mau pindah sekolah?” tanyaku.

“Ya,” kata Fauzi, sambil mengangguk.

“Kuharap kau jangan pindah sekolah. Kita coba mencari jalan pemecahannya yang terbaik,” ucapku.

“Mana bisa?” ucap Fauzi putus asa. “Kepala sekolah saja hampir kewalahan dibuatnya.”

Seperti yang direncanakan, aku tetap masuk ke sekolah Fauzi. Suatu pagi, Anto memanggil-manggil namaku. Aku pura-pura tidak mendengar, sehingga ia sangat marah padaku. Lalu ia menghalangi langkahku.

“He, anak baru! Mana uangmu?” ucap Anto dengan suara menggelegar.

“Ada, di saku celanaku bagian depan,” jawabku sambil menunjuk dan berlagak dungu.

“Rupanya kau belum tahu, semua siswa di sini wajib menyetorkan uang harian kepadaku. Tak terkecuali kamu!” ucap Anto sambil berkacak pinggang.

“Sejak kapan aturan itu?” tanyaku sambil menatap wajahnya yang memerah.

“Sejak aku masuk sekolah ini,” jawab Anto ketus.

“Aku bersumpah! Mulai detik ini, aturan itu akan kuhapus!” ucapku lantang. Kemudian aku meludah dan kuinjak-injak ludahku itu, sebagai isyarat perlawananku padanya.

Anto melangkah ke depan, untuk merogoh sakuku dengan kasar. Aku mundur selangkah, lalu kudorong badannya ke depan dengan cepat dan keras, sehingga ia terjerembab ke tanah. Secepat kilat, kuhentakkan kakiku ke punggungnya, sambil memegang erat kedua tangannya. Ia tidak bisa bergerak. Ia merengek-rengek minta dilepaskan.

“Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat,” ucapku lantang, sambil menatap wajahnya dengan tajam.

Anto tidak menjawab, walau pun kata-kata itu kuucapkan berulang-ulang. “Dasar keras kepala!” gumamku.

Sepertinya, ia sudah tahu, betapa berat syarat yang kuminta. Kutarik tangannya lebih keras, sambil menghentakkan kaki pada tulang belakangnya. Ia merintih kesakitan.

“Apa syaratnya?” jawab Anto dengan suara memelas.

“Tidak nakal lagi terhadap siapa pun. Bagaimana?” ucapku.

“Baiklah,” ucap Anto pasrah. “Lepaskan aku,” pintanya lagi.

Saat kami sedang asyik belajar, tiba-tiba wali kelas kami mengetuk pintu. Beliau memberi salam lalu menyerahkan sebuah surat dispensasi, untuk mengikuti pertandingan karate tingkat nasional di Jakarta. Terdengar decak kagum teman-temanku.

Ketika pelajaran usai, teman-temanku berlarian ke mejaku. Ada yang memesan oleh-oleh kaos bergambar olah raga karate, Tugu Monas, Masjid Istiqlal dan lain-lain.

“Kau akan mengikuti pertandingan tingkat nasional?” tanya Anto mendekati aku, penuh takjub.

“Ya, kawan. Do’akan, agar aku menang,” pintaku penuh harap.

“Semoga kau dapat menundukkan lawan, seperti menundukkan hatiku, yang tadinya keras bagai batu,” ucap Anto.

Aku mengangguk sambil tersenyum dan menggenggam erat tangannya. @@@

 

 

Mentari, Edisi 268 Tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s