Dongeng

Si Bisu

Gambar terkait

Di suatu perkampungan Indian. hiduplah seorang gadis kecil bersama keluarganya. Ia sangat pemalu dikarenakan keadaan dirinya. Ia punya tangan yang lebih besar daripada teman-teman sebayanya. Mulutnya terlalu lebar. Begitu juga badannya yang gendut.

Bila memetik buah-buahan bersama orang tua dan orang kampungnya di hutan, dia sering menjatuhkan keranjangnya hingga buah-buahan yang sudah dipetik itu berjatuhan ke semak belukar. Ia juga sering bertindak tidak hati-hati bila memunguti buah-buahan itu kembali, sehingga kena duri-duri. Orang-orang sering menentawakannya. Sebab itu, ia menjadi tertutup dan jarang mau bercakap-cakap dengan orang lain. Sehingga orang-orang kampungnya memanggil Si Bisu.

Suatu hari, ia kembali menjatuhkan keranjangnya. Orang-orang pun menetertawakannya. Si gadis kecil sangat sedih. Ia tidak tahan dengan keadaan ini.

Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi dari kampungnya. Ketika, orang-orang kembali dari pekerjaannya, diam-diam ia memisahkan diri. Sambil membungkuk-bungkuk, ia menyelinap ke bagian hutan yang lain.

Ia tetap merenungi nasibnya yang malang. Ia tidak mau begini. Ia sedih. Ketika melihat batu yang teronggok dengan kokoh menghujam bumi, tiba-tiba si gadis kecil ingin menjadi batu juga. Ia berharap menjadi kecil dan sekeras batu itu. Hanya duduk, tidak butuh apa-apa, tidak akan dikatakan gendut, dan tidak aneh punya mulut yang besar. Untuk membuktikan bahwa ia adalah batu, Si Bisu duduk seharian di samping batu itu, tidak bersuara, dan tidak bergerak-gerak.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah seekor beruang kelabu yang besar. Beruang tersebut berdiri di atas dua kakinya seperti manusia. Ia memperhatikan Si Bisu tanpa berkata apa-apa, sementara si gadis kecil tetap duduk membatu. Hari mulai gelap. Udara pun semakin dingin. Si Beruang pun akhirnya berkata, “Apa kamu ingin sendirian diantara kegelapan ini? Ayo ikut bersamaku! Aku tahu masalah yang menimpamu. Nanti aku akan tunjukkan tempat dimana kamu tidak akan ditertawakan, tidak ada perubahan. Akan aku tunjukkan apa yang harus kamu lakukan untuk mencapainya.”

Si Bisu hidup bersama beruang dan menolongnya mencari buah-buahan dengan jari-jari yang besar. Ketika ia menjatuhkan keranjangnya, seperti biasanya, beruang itu tidak menertawakannya dan juga tidak berkata apa-apa. Ia diam saja. Si Bisu yang biasanya sangat takut bila melakukan hal-hal yang bodoh tersebut, sekarang tidak merasa cemas lagi. Ia merasa tidak tertekan lagi.

Suatu hari, beruang membawa pulang sepotong daging aneh. Si Bisu tidak memakannya. Ia hanya memakan buah-buahan yang di petiknya di hutan tadi. Si beruang diam saja. Suatu malam, ketika beruang sedang tidur. Si Bisu mendengar suara seseorang sedang menangis di luar. Si Bisu keluar dengan hati-hati, takut akan membangunkan beruang.

Ia menemukan seorang wanita di samping gua. Badannya setengah menjadi batu, sehingga tidak dapat menggerakkan badannya. Sambil menghapus air matanya, wanita itu bercerita pada Si Bisu, “Beruang telah membawa daging aneh itu padaku. Karena lapar, aku memakannya sedikit. Dengarlah, ia juga ingin menjadikanmu batu sepertiku juga. Kamu harus lari. Ia ingin kamu tidur terus seperti batu selama musim dingin.”

Wanita itu memperingatkan Si Bisu. Ia memberi Si Bisu sisir, beberapa helai rambut, minyak rambut dan segenggam pasir. “Larilah, ini alat-alat kepunyaanku yang biasa di punyai oleh setiap wanita juga. Mereka akan menolongmu untuk lari.”

Si Bisu mengambil dan menyimpannya di tempat tersembunyi. Ia memasuki gua kembali dan melihat beruang tertidur pulas.

Si Bisu merenung dekat beruang itu. Di bawah sinar bulan, ia memperhatikan beruang. Ia terlihat begitu besar, begitu menakutkan. Kalau berjalan selalu membungkukkan badannya. Cakarnya besar. Gigi-giginya yang begitu banyak dan duri-duri sering menusuk kulitnya. Beruang itu tidak pernah berkata apa-apa. Si Bisu tercengang.

Bukankah ia sebenarnya seperti beruang: Mulutnya besar, badannya gembul, tidak suka berbicara, dan karena cerobohnya duri-duri sering menusuk kulitnya? Apakah ia ingin seperti ini terus-terusan seperti beruang? Tidak!

Beruang tersentak bangun ketika menyadari Si Bisu lari. Ia mengejarnya. Kuku-kukunya yang besar berderak-derak. Dalam waktu singkat, ia telah berada di belakang Si Bisu.

Gadis kecil yang gembul itu melempar sisir, yang kemudian berubah menjadi pohon-pohon besar yang mengurung si beruang. Tapi, beruang itu mencabutinya dengan mudah. Beruang kembali mengejar. Si Bisu kembali melemparkan rambut-rambut ke arah beruang. Rambut-rambut itu berubah menjadi semak-semak yang melilit tubuh beruang. Tapi, kembali beruang menyentakan tanaman yang melilitnya itu, hingga putus dan melanjutkan pengejarannya. Si Bisu melemparkan minyak rambut.

Terciptalah danau yang memisahkannya dengan beruang. Dengan cepat, beruang mengelilingi danau itu untuk mendapatkan Si Bisu. Akhirnya, Si Bisu melemparkan bekalnya yang terakhir, yaitu segenggam pasir. Pasir-pasir itu berubah menjadi tebing yang sangat curam dan memisahkan jauh mereka. Tebing itu sangat licin. Beruang yang berada di bawahnya mencoba memanjatnya dengan menancapkan kuku-kukunya yang tajam itu. Namun gagal. Ia terus mencoba. Tak lama kemudian, beruang itu menyerah dan bergerak pergi.

Si Bisu dengan gembira kembali melanjutkan perjalanannya menuju perkampungannya. Ia tidak ingin lagi duduk seperti batu. Ia ingin bercerita banyak pada orang-orang di kampungnya. Ia siap untuk bercerita dan tidak ingin menjadi Si Bisu lagi. @@@

 

 

Fantasi, Januari 1995

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s