Cerita Anak

Perjalanan Ke Solo

 

 

Gambar terkait

Ribuan pengungsi berduyun-duyun ke pelabuhan. Pelabuhan yang biasanya hanya ramai pada hari kapal bersandar, kini dipaksa menampung pengungsi yang jumlahnya sulit ditentukan. Karena yang datang terus bertambah, pelabuhan menjadi bising dan penuh sesak. Mereka mempunyai tujuan yang sama, ingin menyelamatkan diri. Satu diantara pengungsi itu adalah aku.

“Kemana kita pergi, Ma?” tanyaku.

“Yang penting kita bisa keluar dari kepulauan ini,” jawab Mama pendek. Sepertinya Mama tidak ingin aku bertanya lebih panjang.

Angkutan utama adalah angkatan laut. Kalau hari itu tidak terangkut, entah kapan lagi bisa keluar dari Maluku. Pasalnya, bersandarnya kapal dalam keadaan seperti itu siapa pun tidak bisa memastikan.

Kapal yang kami naiki adalah Lambelu, tujuan Surabaya. Entah bagaimana ceritanya, Mama dan aku terpisah dengan Papa. Keberadaan Papa tidak jelas. Pasti beliau juga bingung mencari kami.

Kapal sudah berlayar. Sambil memangku aku, Mama tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Tidak hanya Mama, begitu banyak pemandangan serupa, kujumpai pada penumpang lain. Yang lebih mengenaskan, ada beberapa orang jadi sedikit kurang ingatan.

Maklumlah, mereka adalah perantau di kepulauan itu. Sudah bertahun-tahun bahkan ada yang puluhan tahun mereka mengembara. Harta benda yang diperoleh dengan tetesan keringat kini hilang sudah. Kerusuhan telah menghanguskan tempat tinggal kami. Tidak ada pilihan bagi Mama untuk kembali ke tempat asalnya, yakni kota Solo.
Memang, aku pernah diajak ke Solo. Namun ketika itu usiaku masih balita, sehingga hampir tidak ingat orang tua mau pun saudara-saudara Mama. Kulihat mereka hanya dalam foto, yang mungkin kini sudah terbakar.

Pada hari keempat, kapal bersandar ke pelabuhan Tanjung Perak. Kami hanya sempat membawa baju sekadarnya, dan sedikit uang. Dari Tanjung Perak kami menuju ke stasiun. Dari sini kami masih menunggu kereta selama berjam-jam. Akhirnya, kereta yang melewati kota Solo datang juga. Gerimis kecil yang turun sore itu seolah mengiringi kepergian kami.

Perlahan-lahan kereta mulai berangkat. Seumur-umur baru kali itu aku naik kereta. Ternyata naik kereta itu seperti naik gerobak saja.

Gerbong kereta penuh sesak. Untunglah Mama dapat tempat duduk di gerbong tengah. Banyak orang yang tidak kebagian tempat duduk, terpaksa beralaskan tikar atau Koran di lantai. Sementara pedagang asongan hilir mudik menjajakan dagangannya, melangkahi tubuh-tubuh yang bergelimpangan di sana sini. Maklumlah, kereta api kelas ekonomi!

Lampu-lampu yang seharusnya memberi penerangan, telah habis dipereteli pencuri, membuat gerbong sedikit gelap.

Sebenarnya, jika benar-benar dinikmati, kereta rakyat ini bisa jadi tempat yang menyenangkan. Ada sekelompok pengamen yang hadir menghibur penumpang. Suaranya merdu dan pas sekali dengan iringan gitar dan gendang yang dimainkan kedua temannya. Untuk mereka tak segan beberapa penumpang mengeluarkan uang.

Meski sedikit terhalang, aku masih bisa memandang celah jendela kereta. Bangunan, pohon, pagar semuanya bergerak seperti dalam film yang diputar dengan cepat. Suaranya bergemuruh teratur.

Pemandangan di luar perlahan mulai samar karena waktu mulai malam. Mungkin kereta bergerak lebih cepat, atau aku yang lelah, atau barangkali aku bosan melihat pemandangan yang tak jelas, aku pun tertidur.

“Ayo, bangun! Kita akan sampai di stasiun Balapan,” kata Mama membangunkan aku.
Kereta melambat. Pemandangan kiri dan kanan terlihat remang-remang di balik jendela. Yang tampak cuma kerlap kerlip lampu malam. Suasana tak begitu bising, namun pasti lain ketika siang.

Memasuki stasiunnya sedikit berbeda. Stasiun Balapan Solo adalah stasiun besar. Meski masih malam, pedagang asongan dan penumpang yang akan naik cukup membuat keadaan di stasiun ramai.

Begitu turun, banyak tukang becak berebut menanyakan tujuan kami. Setelah tawar menawar, Mama mengikuti salah satu tukang becak. Udara dingin makin terasa. Aku tidak ingin mengganggu pikiran Mama dengan pertanyaan. Aku coba membayangkan rumah Nenek yang ada di foto.

“Berhenti, Pak. Turun sini!” begitu Mama mengisyaratkan pada tukang becak untuk berhenti.

Karena pintu pagar masih terkunci dan bel yang ada dibalik pintu pagar dimatikan, Mama memukulkan batu pada pagar besi sehingga menimbulkan bunyi, ‘Teng, teng, teng!’ Mama mengulanginya beberapa kali. Kemudian tampak orang mengintip dari jendela kamar tamu sebelum membuka pintu.

Pintu rumah dibuka. Perempuan setengah baya menghampiri kami. Mama sepertinya tidak mengenalnya. Dari pembicaraan mereka, aku menangkap keterangan bahwa perempuan itu adalah pembantu Nenek. Sedangkan Nenek, Kakek dan saudara Mama ada di rumah sakit. Mereka opname karena kecelakaan sore tadi.

Untuk sesaat aku melihat Mama memegangi kepalanya. Tak begitu lama, Mama jatuh pingsan. Aku tahu apa yang dirasakannya. Namun tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. @@@

 

 

Mentari, Edisi 267 Tahun 2005

4 thoughts on “Perjalanan Ke Solo”

  1. sebuah cerita bisa menggambarkan kondisi kehidupan pada jaman cerita itu dibuat ya?
    stasiun yang masih banyak pedagang asongan dan tukang becak, bukan merupakan Balapan era sekarang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s