Cerita Anak

Saling Membantu

Gambar terkait

Minggu pagi, Dodi datang ke rumah Eko. Wajahnya terlihat masam. Pipinya terluka, ada bekas cakaran memanjang yang memerah.

“Duduklah,” kata Eko mempersilahkan. “Pipimu kenapa? Habis dicakar kucing, ya?” tanya Eko.

“Bukan. Adikku yang mencakar. Kami tadi berkelahi, saling memukul dan mencakar. Untung ayah datang memisahkan. Kalau tidak, sudah habis adikku itu aku hajar,” cerita Dodi dengan mimik marah.

Eko tersenyum mendengar cerita temannya. Kemudian dengan suara lembut dia berkata, “Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi sampai berkelahi. Hanya rasa sakit yang kau dapatkan.”

“Aku tahu. Tapi adikku itu benar-benar menjengkelkan.

“Bagaimana pun nakalnya adikmu, tidak saeharusnya di pukul. Kalau dia sampai jatuh sakit, siapa yang susah?”

Tanpa sadar, Dodi menganggukkan kepala mendengar penuturan sahabatnya. Dika membenarkan kata-kata Eko. Tapi dia masih belum bisa menerima kalau dirinya dianggap bersalah. Adiknyalah yang bersalah, dan telah membuat darahnya naik ke ubun-ubun kepala.

“Mas, cucian Mas Eko sudah saya jemur semua,” kata Tio, adik Eko tiba-tiba masuk ke ruang tamu, melaporkan hasil kerjanya.

“Terima kasih. Sekarang ada tugas lagi yang lain,” kata Eko.

“Tugas apa?”

“Kalau ada tamu, dan meja belum ada isinya, tugasmu apa?”

“Oh ya, tugasku mengisi meja,” ujar Tio sambil tersenyum lucu, dan berlalu dari ruang tamu.

Percakapan yang berlangsung antara Eko dengan adiknya itu membuat Dodi terperangah. Dia tidak menyangka Eko begitu akrab dengan adiknya. Sangat akrab. Sampai Tio rela membantu menyelesaikan tugas kakaknya, dan Eko tidak segan-segan memerintah adiknya.

Keakraban Eko dan Tio, sangat bertolak belakang dengan keadaan dirinya. Hubungannya dengan Sapto, adiknya, seperti kucing dengan anjing, selalu saja bertengkar. Entah mengapa masalah diantara mereka tidak pernah ada habisnya. Dan yang lebih menjengkelkan, Sapto tidak pernah menurut bila disuruh mengerjakan sesuatu. Tidak seperti Tio yang selalu patuh pada Eko, kakaknya.

Belum hilang keterperangahan Dodi, terdengar suara Ayah Eko dari halaman depan rumah.

“Sebentar ya, Di. Aku dipanggil ayah,” ujar Eko sambil beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan ruang tamu.

Sesaat setelah Eko pergi, Tio kembali memasuki ruang tamu. Kali ini dia datang sambil membawa nampan yang berisi dua gelas sirup dan sepiring kue kering. Kesendiriannya bersama Tio, tidak disia-siakan oleh Dodi. Dia ingin mengetahui, rahasia apa yang membuat hubungan Tio dengan kakaknya bisa begitu akrab.

“Tadi kamu membantu menjemurkan pakaian kakakmu, ya?” tanya Dodi memancing pembicaraan.

“Iya, ketika Mas Dodi datang, Mas Eko baru saja selesai mencuci pakaian. Karena itu saya membantu menjemurkan, agar Mas Dodi tidak terlalu lama menunggu,” Tio menjawab panjang lebar.

“Kamu benar-benar anak yang baik,” puji Dodi.

“Tidak juga. Mas Eko pun sering membantu saya, bila kebetulan saya membutuhkan bantuannya.”

“Tapi kamu tetap anak yang baik. Buktinya, saat diperintah kakakmu untuk mengambilkan suguhan, kamu menurut.”

“Itu karena Mas Eko juga sering mengambilkan suguhan buat tamu-tamu saya. Kami sudah terbiasa untuk saling membantu,” tutur Tio.

Penuturan Tio seolah mengingatkan Dodi akan kesalahannya. Anak itu termenung.

Kalau tadi yang dia ingat hanya kesalahan adiknya, maka kini dia mengoreksi dirinya sendiri. an ternyata, dia memang bersalah. Dia juga ikut bersalah dalam menciptakan hubungan yang tidak baik antara dirinya dengan Sapto, adiknya.

Selama ini Dodi tidak pernah peduli pada adiknya. Jangankan membantu, memikirkan urusan adiknya pun dia tidak pernah. Tidak heran, bila Sapto pun enggan mengulurkan tangan untuk membantu dirinya. Bahkan, adiknya itu juga tidak pernah menurut bila dia perintah.

Pertengkaran pagi tadi pun disebabkan karena Sapto menolak saat disuruh membantu memompakan ban sepeda. Penolakan yang wajar, karena sebelumnya Dodi juga menolak ketika Sapto meminta bantuannya untuk mengangkat kasur yang akan dijemur.

“Kenapa melamun? Ayo sirupnya diminum!” kata Tio membuat Dodi terkejut.

“Eh … iya … iya,” ujar Dodi sambil mengangkat gelas dari atas meja, dan menenggak isinya.

“Tio, sekalian aku mau pamit, ya.”

“Kenapa tidak menunggu Mas Eko? Dia hanya pergi sebentar, kok. Di suruh ayah ke toko. Tidak lama lagi juga pulang.”

“Ada yang harus aku selesaikan di rumah. Sampaikan saja salamku pada kakakmu, dan terima kasih untuk sirupnya,” kata Dodi.

Dodi pun pulang. Karena memang ada urusan yang harus diselesaikan di rumah. Dia harus meminta maaf pada adiknya, dan mencoba membangun kembali hubungan mereka. Terus terang saja, dia merasa iri melihat keakraban Eko dengan adiknya. @@@

 

 

Mentari, Edisi 267 Tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s