Cerita Anak

Ultah Terindah

Gambar terkait

“Angga …, ayo bangun. Sudah siang.”

Aku terlonjak dari tempat tidur. Ibu membangunkan aku dengan belaian tangannya yang lembut.

“Anak ibu kok telat ke sekolah?”

“Iya, Bu. Hmm. Malas. Angga boleh ya, bolos hari ini?” aku tertunduk, takut ibu marah.

“Bolos? kenapa?” tanya Ibu.

Hu uh, mana mungkin aku berani bilang pada ibu, kenapa aku ingin sekali bolos sekolah hari ini. Aku juga tidak mungkin berbohong. Selama ini, ayah dan ibu tidak pernah mengajari aku dan Dina, adikku, untuk berbohong, dengan alasan apa pun.

“Ayo cepat mandi. Hari ini Ibu dan adikmu ingin sekali ikut ke sekolah. Dina kepingin lihat Kak Angga main bulu tangkis.”

“Hah, bulu tangkis? Waduh, untung saja ibu mengingatkan. Jam Sembilan pagi ini, aku ikut pertandingan bulu tangkis.” Aku teringat pertandingan bulu tangkis antar kelas, yang kuikuti pagi ini. Hampir saja gagal, gara-gara niatku membolos. Aku bergegas mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, aku kembali bingung memikirkan antara keinginan membolos dan pertandingan bulu tangkis. Aku harus bilang apa, pada teman-teman sekelas? Angga ulang tahun, dirayakan dimana? Di lapangan bulu tangkis? Mereka pasti akan menertawakanku.

Tok … tok … tok … “Angga …!” terdengar teriakan Ibu, sambil mengetuk pintu kamar mandi.

“Sebentar, Bu. Aku sudah siap,” jawabku.

“Sudah jam setengah tujuh. Ayo, kita ditunggu becak Pak Min,” Ibu mengingatkan.

Tuh, kan. Benar perkiraanku. Di rumah ini tidak satu pun ingat hari ulang tahunku. Sudah pasti, tidak ada perayaan juga. Tahun lalu masih lebih baik, Ibu masak nasi kuning kesukaanku. Senang rasanya, merayakan ulang tahun bersama keluarga, meski dengan cara yang sederhana. Lalu, sambil sarapan nasi kuning buatan Ibu, Ayah memberi pengertian kepadaku. Katanya, penghasilannya sebagai badut pengisi acara ulang tahun, hanya cukup untuk kebutuhan penting-penting saja. Untuk makan dan tentu saja membayar uang sekolah. Itu saja.

Selama perjalanan naik becak menuju sekolah, Ibu dan Dina tampak riang sekali. Berbeda dengan aku yang diam saja. Ulang tahunku kali ini, sudah pasti tidak akan dirayakan.

Akhirnya kami sampai di depan sekolah. Suasana tampak ramai. Hari ini adalah hari terakhir, pesta olah raga sekolah kami. Tapi, lho, Kok Pak Min menyeruduk masuk gerbang sekolah? “Pak Min berhenti di sini saja, Pak!”kataku setengah berteriak.

“Tenang, Pak Min jamin, tidak ada nada yang marah,” jawab Pak Min tenang. Ibu dan Dina pun tidak kalah tenangnya. “Santai, Kak Angga. Hari ini, boleh kok,” ujar Dina.

“Ibu sudah minta izin Pak Kepala Sekolah,” lanjut Ibu.

Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, kejutan berikutnya meng-hadang kami. Ada badut di tengah lapangan bulu tangkis sekolah! Hah?! Badut ulang tahun! Benar-benar badut. Matanya yang bulat, hidungnya yang warna-warni, wow, benar-benar kejutan. ‘Ini bukan mimpi, kan?!’ seruku dalam hati. Aku mengucek mataku berkali-kali. Ini bukan mimpi. Ada badut ulang tahun di tengah lapangan bulu tangkis yang akan kupakai bertanding nanti.

“Wow, hebaaat!” seru Pak Min.

Benar kata Pak Min, ini baru hebat, gumamku berkali-kali.

“Selamat ulang tahun, Angga!” sang badut menyapaku ramah. Suaranya membahana ke seluruh penjuru sekolah, karena ia menggu-nakan pengeras suara. Teman-teman yang tadinya berada di pinggir lapangan, berduyun-duyun ke tengah. Mereka bergabung bersama badut, ikut mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Sepertinya aku mengenal sekali, suara sang badut ulang tahun itu.

“Wah, hebat ya, Angga. Ulang tahunnya di kasih hadiah badut ulang tahun,” Yuni nyeletuk dengan nada kagum. Ketika kami mendekat, sang badut ulang tahun menghentikan sejenak atraksinya, lalu merangkulku sambil mengucapkan selamat ulang tahun. “Semoga jagoan ayah senang, dengan kado sederhana ini,” bisiknya.

“Terima kasih, Ayah,” kataku setengah tak percaya, aku menyadari bahwa sang badut ulang tahun ini, memang benar-benar istimewa. Ayah, hadir di lapangan bulu tangkis sekolahku, sebagai badut ulang tahun. Khusus merayakan ulang tahunku! Benar-benar ulang tahun terindah dan tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Terima kasih banyak Ayah, Ibu dan Dinda. @@@

 

Mentari Edisi 376 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s