Fabel

Asal Mula Ubur-Ubur Tak Bertulang

Hasil gambar untuk gambar kartun ubur-ubur

Dahulu kala, di dalam laut terdapat sebuah Istana Naga, tempat tinggal Raja bersama permaisurinya yang cantik. Pada saat permaisuri hamil dan hampir melahirkan, ia ingin sekali memakan hati monyet.

Raja terkejut mendengar permintaan itu, karena di dalam laut tidak ada monyet, barang seekor pun. Raja berpikir, bagaimana mendapatkan hati monyet untuk Permaisurinya. Tiba-tiba ia teringat akan Kura-Kura yang terkenal banyak akal. Maka, dipanggilnya Kura-Kura ke Istana.

“Kura-kura, istriku ingin makan hati monyet. Apakah kau punya akal untuk mendapatkannya?” kata sang Raja.

“Baiklah, Raja. Hamba akan mencarinya,” jawab Kura-Kura.

Kura-kura segera mencari monyet. Ia berenang menuju pulau. Di hari yang cerah itu, seekor monyet sedang bermain di atas pohon sebuah bukit. Kura-kura segera mendekati pohon itu dan berkata, “Monyet, apakah kau mau datang ke Istana Naga, di dalam laut yang sangat indah?”

Monyet tertarik dengan ajakan itu. Ia segera turun dari pohon dan mendekati Kura-kura.
Tapi Istana Naga, itu jauh sekali,” kata Monyet.

“Tidak apa-apa, aku akan mengendongmu.”

“Memang apa sih yang menarik di Istana itu?”

“Banyak sekali. Kamu ingin bermain, di sana ada gunung yang besar. Makanannya juga enak-enak, kamu bisa makan sepuas-puasnya. Marilah pergi bersamaku!”

Mendengar keterangan Kura-kura, Monyet makin tertarik.

“Baiklah,” kata Monyet sambil naik ke punggung Kura-kura. Keduanya lalu memulai perjalanan ke dasar laut, menuju Istana Naga. Monyet terkagum-kagum, melihat pemandangan di dalam laut. Ia baru pertama kali melihatnya.

“Alangkah bagusnya Istana ini. Luar biasa indahnya. Belum pernah aku melihat Istana sebagus ini,” kata Monyet tatkala keduanya sudah tiba di Istana Naga.

“Tunggu di sini dulu, saya akan masuk ke dalam,” kata Kura-kura.

Monyet di tinggalkan di depan pintu gerbang Istana. Dengan takjubnya, Monyet melihat kesana kemari. Penjaga pintu Istana, yakni Ubur-ubur, tertawa melihat ulah Monyet yang keheranan. Moyet tidak mengerti kenapa Ubur-ubur menertawakannya. Lama ia dibiarkan di depan pintu gerbang.

Karena tidak tahan, akhirnya Ubur-ubur menyapa monyet. “Monyet apakah kamu tidak tahu? Permaisuri Raja ingin sekali makan hati monyet? Itulah sebabnya, kamu diundang ke sini sebagai tamu.”

Monyet terkejut, tapi ia bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya itu. “Oh begitu,” katanya.

Tidak lama kemudian, muncullah Kura-kura. Monyet diantarnya ke sebuah kamar, yang sangat bagus. Ia diberi pakaian yang sangat indah dan makanan yang sangat lezat. Akan tetapi, pikiran Moyet terpusat pada cara melarikan diri, dari Istana itu. Ketika Kura-kura akan membawa Monyet ke hadapan Raja, Monyet berkata, “Saya ada kesulitan.”

“Apa?”

“Saya sedang menjemur hati saya di bukit. Tapi, kelihatannya mau hujan, saya khawatir hatinya akan basah.”

“Kalau begitu mari saya antar untuk mengambilnya.”

Monyet segera naik ke punggung Kura-kura. Keduanya berenang menuju pulau yang dimaksud monyet. Tak berapa lama, mereka telah sampai.

“Cepatlah Monyet, ambil hatimu, lalu kita kembali ke Istana.”

Cepat-cepat Monyet melompat ke daratan. Lalu memanjat pohon yang tinggi sekali. Kura-kura menunggu lama sekali, tapi Monyet tidak juga turun.

“Monyet, cepatlah turun! Apa sih yang kamu lakukan di sana?”

“Di dalam laut tidak ada gunung, diluar badan tidak ada hati!” teriak Monyet. Ia lalu menangkap Kura-kura, mengikatnya dengan tali dan menggantungnya ke dahan pohon.

“Tega-teganya kamu mau mengambil hati saya untuk Permaisuri. Yang benar saja, kamu pantas di hukum!” kata Monyet.

Kura-kura meronta-ronta, mencoba melepaskan ikatan. Usahanya berhasil. Tapi, ia meluncur ke bawah dan jatuh ke tanah. Kura-kura kesakitan.

Melihat itu Monyet tertawa-tawa. Lalu ia berkata, “Saya tahu, hati saya akan dimakan permaisuri, karena Ubur-ubur menceritakannya padaku.”

Mendengar itu Kura-kura geram sekali. Ia segera berenang ke Istana dan melaporkan hal itu kepada Raja. Tentu saja Raja Naga marah sekali. Ia segera mencari Ubur-ubur.

Dan sebagai hukuman, semua tulang Ubur-ubur dihilangkan dari badannya. Itulah sebabnya, sampai sekarang ubur-ubur tidak punya tulang. @@@

 

 

Mentari, Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s