Dongeng

Faris dan Kurcaci Jigo

Hasil gambar untuk gambar kartun kurcaci

Besok adalah ulang tahun Peri Cita. Semua penghuni Negeri Bahagia, sibuk meyiapkan hadiah istimewa untuknya. Mereka ingin mendapat kesan istimewa di mata Peri Cita, karena dia kesayangan Ratu Peri. Bisa dekat dengan Peri Cita, merupakan kebanggaan tersendiri.

Semua punya hadiah istimewa untuk Peri Cita, kecuali Jigo. Jigo adalah kurcaci imut berambut perak. Orang tuanya sangat miskin, sehingga dia tidak punya uang untuk membeli hadiah, bagi Peri Cita. Jigo bersedih hati dan duduk melamun, di tepi sungai Pelangi.

“Wo … pagi yang indah! Udara yang segar. Sungai yang jernih dan banyak ikannya, ha … ha …. ha … benar-benar hari keberuntunganku. Aku akan memancing dan kubawa pulang ikan sebanyak-banyaknya, untuk ibu,” terdengar suara bocah lelaki, tak begitu jauh dari tempat duduk Jigo. Buru-buru Jogo bersembunyi, mengintip siapa gerangan dia.

“Astaga! Anak manusia! Celaka kalau dia melihatku!” gumamnya.

Bocah lelaki itu langsung memancing. Sebentar saja, bakulnya hampir dipenuhi ikan. Jigo kagum pada keahlian memancing sang bocah, tapi dia juga tak suka melihat kerakusan bocah itu.

“Sudah dapat sebakul, tapi masih terus memancing. Ikan di Sungai Pelangi bisa cepat habis. Padahal, ini sungai favoritku. Harus kucegah dia memancing lagi!”
Jigo bergegas menghampiri anak itu. Ia lupa, kalau dia cuma si mungil yang seukuran pensil.

“Hai, jangan memancing berlebihan begitu!” teriak Jigo disamping kaki bocah itu. Sayangnya, si bocah tak mendengarnya. Dia malah asyik bersiul, sambil memancing. Jigo tak kurang akal, ia bersusah payah naik ke bongkahan batu, yang diduduki anak itu. Sekuat tenaga ia berteriak, dan kali ini berhasil. Si bocah kebingungan, mencari sumber suara yang meneriakinya.

“Di sini! Aku di sini!” teriak Jigo sambil melompat-lompat. Hampir saja ia terjatuh. Untunglah, dengan cekatan bocah itu menangkapnya. Kini Jigo terduduk di telapak tangan si bocah, yang terkesima melihatnya.

“Kau … kau siapa?” anak itu tergagap, bingung mau menyebut apa pada Jigo. Ia belum pernah melihat manusia berkuping lancip dan bertubuh super mungil.

“Halooo! Kau tidak akan mengapa-apakan aku, kan?” kerling Jigo tersenyum manis.
“Kau … kau siapa?” tanya bocah itu terheran-heran.

“Aku makhluk Tuhan juga, sama sepertimu. Cuma aku Jigo dari bangsa kurcaci, apa kau tahu tentang kurcaci?” Jigo balik bertanya. Si bocah makin terkesima, begitu tahu Jigo kurcaci.

“Tentu saja aku tahu! Seperti sering aku baca di buku dongeng. Sulit dipercaya … kau betul-betul ada! Kalau kutunjukkan pada teman-temanku, mereka pasti senang,” bocah bergegas berkemas, hendak pulang.

Buru-buru Jigo mencegahnya. “Jangan, teman baruku! Jangan kau perlihatkan aku, pada anak manusia yang lain. Cukup kau saja yang tahu, tentangku, kumohon!” pintanya penuh harap.

“Baiklah,” anak itu menurut. Ia meletakkan Jigo di atas batu.

“Siapa namamu?” tanya Jigo.

“Aku Faris. Nah, Jigo, sekarang kita berteman, yach?” Faris mengulurkan jari kelingkingnya. Jigo menatap bingung.

“Bersalaman adalah tanda persahabatan kita,” kata Faris. Jigo pun segera menyambut, dengan tangan mungilnya. “Aduh … amit-amit, ternyata biar cuma kelingking, beratnya minta ampun,” kata Jigo dengan terhuyung mau jatuh. Faris tertawa melihat itu.

“Salam persahabatan yang sangat berat,” tawa Jigo. Keduanya pun terbahak-bahak. Faris kembali memancing. Ikan-ikan kembali berlompatan masuk bakulnya. Jigo tidak suka. Menurutnya Faris rakus, masa sudah sebanyak itu, masih terus memancing.

“Jangan memancing lagi! Nanti ikannya habis. Bakulmu sudah penuh, kan? Jangan rakus, nanti sungai rusak tak berpenghuni!” larang Jigo. Faris terbahak-bahak mendengarnya.

“Apa yang lucu?” kata Jigo kesal. “Kata-katamu, masa ikannya habis? Aku cuma memancing, bukan menggunakan pukat atau bom ikan untuk menangkap mereka. Lagi pula, ukuran bakul ini biasa saja. Aku jamin, ikannya tidak akan habis. Aku perlu menangkap banyak ikan, untuk membeli makanan bagi keluargaku, juga obat bagi adikku yang sakit,” cerita Faris.

Ternyata, mereka sama miskinnya. Jigo pun ganti menceritakan masalahnya. Faris ikut prihatin, dia ingin membantu sahabat barunya. Tiba-tiba Faris tersenyum lebar.

“Apa kau pernah makan otak-otak ikan, pepes ikan, ikan masak kuah asam manis?” tanya Faris ceriwis.

“Makanan apa itu? Di negeriku ikan digoreng atau dibakar. Aku belum pernah memakan yang seperti itu. Apa masakan itu sangat enak?” Jigo balik bertanya.

“Ya, enak sekali. Ibuku sangat ahli mengolah masakan, dari bahan ikan. Bagaimana kalau Peri Cita kau hadiahi aneka olahan ikan? Dia pasti suka. Kan lain daripada yang lain,” usul Faris. Jigo setuju. Mereka janjian, siang nanti bertemu di tepi sungai Pelangi lagi. Faris akan membawa hasil olahan ikan itu. Keduanya pun berpisah. Jigo pulang dengan hati riang, kecemasan hatinya telah hilang, berkat teman barunya.

Ternyata, anak manusia tidak seburuk pikirannya. Mereka hanya perlu saling mengenal. Sehingga benih kasih sayang, tumbuh dalam persahabatan mereka. Jadilah mereka saling membantu. @@@

 

 

Mentari, Edisi 413 Tahun 2008

1 thought on “Faris dan Kurcaci Jigo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s