Fabel

Kisah Ninoi, Si Anak Burung Hantu

 

 

Gambar terkait

Hari masih siang. Ninoi, si anak Burung Hantu, keluar dari sarangnya di sebuah gudang tua. Siiuuuut! Nonoi melayang terbang.

“Lihat, terbangku sudah hebat!” seru Ninoi penuh suka cita. “Aku sudah bisa menjaga keseimbangan tubuhku! Aku sekarang akan mencari sarang untuk diriku sendiri. Selamat tinggal, Ayah. Selamat tinggal, Ibu!”

Dari sarang Pak dan Bu Burung Hantu terlihat cemas.

Ninoi tiba di sebuah lubang di sebatang pohon besar di hutan. Ninoi memutuskan tinggal di situ. Ia benar-benar senang dengan sarang barunya. Malam pun tiba. Ninoi mencoba untuk tidur. Namun matanya tidak mau terpejam sedikit saja.

“Ah, aku akan keluar mencari teman ngobrol,” gumam Ninoi.

Siuut! Ninoi melayang menembus hutan yang sunyi. Ia tiba di rumah keluarga Kelinci. Diketuknya pintu. Dengan wajah penuh marah, Pak Kelinci membuka pintu. “Ada apa, malam-malam begini?” tanyanya ketus.

“Aku tidak bisa tidur, Pak Kelinci,” kata Ninoi. “Maukah kau bermain denganku?”
“Huh! Hari sudah malam! Ini waktunya tidur!” omel Pak Kelinci. Brak! Pintu ditutupnya dengan keras.

Ninoi lalu mendatangi Pak Deri, si tikus tanah. “Boleh aku masuk Pak Deri?” seru Ninoi dari luar. “Aku tidak bisa tidur nih!”

Pak Deri tidak mendengar seruan Ninoi. Ia sedang sibuk menggali terowongan baru.
Ninoi kemudian pergi menemui Pak Katak, Kus Tikus, dan keluarga gagak. Dan juga pergi ke rumah Master Limbad, untuk mengajak bermain anaknya yang masih kecil. Namun mereka semua sedang tertidur lelap. Dengan penjuh sedih Ninoi bertengger di dahan pohon. Pandangannya menembuh gelapnya hutan. Tiba-tiba, ia melihat empat mata menakutkan sedang memperhatikannya di pohon di depannya. Empat mata besar itu lalu tampak bergerak mendekatinya.

“Halo, Ninoi,” sapa Pak Burung Hantu, lalu hinggap di sisi Ninoi.

“Selamat malam, Ninoi,” Bu Burung Hantu menyapa Ninoi.

“Oh, Ayah, Ibu,” ucap Ninoi penuh gembira. “Senangnya ada kalian. Di hutan ini semua penghuninya tidur lelap. Hanya aku yang tidak tidur. Eh, Ayah dan Ibu juga kenapa tidak tidur?”

Pak dan Bu Burung Hantu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ninoi. Ninoi sendiri merasa kebingungan, bercampur heran, kenapa ucapannya ditertawakan kedua orang tuanya?

“Ninoi, Ninoi,” Pak Burung Hantu berkata, “Kita ini burung hantu, Nak. Burung hantu tidak pernah tidur di malam hari. Ini saat kita mencari makan dan bermain. Siang hari baru kita tidur. Kami kira kau sudah tahu itu?”

“Oh!” ucap Ninoi sedih. “Aku bodoh sekali, ya?!”

“Jangan sedih, Sayang,” hibur Bu Burung Hantu. “Sekarang, yuk kita cari makan!”
Siuuut! Siuuut! Siuuut! Ketiga burung hantu itu pun terbang melesat menembus malam yang gelap. Dengan mata yang tajam dan cakar yang kuat mereka mencari mangsa. @@@

 

 

Mentari, Edisi 496 Tahun 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s