Abunawas

Perampok yang Tertipu

Hasil gambar untuk gambar kartun saudagar kaya

Kabar Abunawas menjadi saudagar kurma, tersebar kemana-mana. Setiap hari puluhan petani mendatangi rumahnya guna mengirim hasil kebun mereka, untuk ditampung oleh Abunawas. Baginda Harun Alrasyid telah menurunkan kebijaksanaan, untuk membeli puluhan ton kurma, untuk diekspor keluar negeri.

Malam itu, tiba-tiba Abunawas terjaga dari tidurnya, karena mendengar suara langkah-langkah orang yang mencurigakan. Maka segera didekati istrinya, yang sedang asyik merenda. Dibisikkan sesuatu, ke telinga sang istri.

“Jadi, lima puluh tong kurma itu belum juga dibayar oleh Baginda?” tanya istri Abunawas.

Itulah sebabnya, mengapa aku merasa sedih. Uang, kita sudah tidak punya. Bahkan sebagian dari kurma itu, belum terbayar. Besok, tentu para petani akan datang menagih pembayaran kurma yang sudah disetorkan, pada kita,” terdengar jawaban Abunawas.
Di luar, lima orang perampok mendengarkan dengan seksama.

“Jadi, Sultan belum membayarnya. Percuma kita merampok Abunawas. Apa yang akan kita peroleh?” kata salah seorang perampok, setengah berbisik.

“Tapi, aku tidak akan kehabisan akal. Masih ada enam tong kurma di luar. Malam ini juga, aku akan membawanya ke rumah saudagar Thalib. Bersama dengan lima puluh tong kurma, yang berada di gudang milik Sultan,” kata Abunawas lagi.

“Tuan akan mencuri lima puluh tong itu?”

“Apa boleh buat. Baginda telah ingkar melakukan pembayaran.”

“Lalu, bagaimana cara mengambil lima puluh tong itu, dari gudang milik Baginda Sultan?”

“Aku katakan pada penjaga, bahwa kurma-kurma itu kubawa atas perintah sultan.”

“Tentu akan segera diketahui dan tuan akan segera ditangkap.”

“Kau tahu kecerdikanku, bukan? Sultan tidak akan dapat menangkapku,” kata Abunawas serius.

Di luar kelima perampok dengar kata-kata Abunawas. “Hmmm, kalau begitu, kita rampok dia, pada saat membawa lima puluh tong kurma. Tentu kita akan segera menjadi kaya raya,” bisik salah seorang diantaranya.

Tanpa mengalami kesulitan, Abunawas membawa enam tong kosong. Yang dikeluarkannya dari gudang. Dengan beberapa kereta, ia berhasil pula membawa lima puluh tong lainnya, dari gudang milik Sultan. Iring-iringan kereta itu berjalan di kegelapan.

Setelah jauh dari istana, tiba-tiba terdengar suara orang menghardik.

“Angkat tangan, menyerahlah kau. Serahkan lima puluh tong kurma itu kepada kami, atau nyawamu melayang,” kata seorang diantaranya.

“Baiklah. Tapi, untuk apa kalian mencuri kurma sebanyak itu?” tanya Abunawas.

“Kami akan menjualnya kembali kepada Baginda Harun.”

“Oooo, tentu Baginda akan curiga. Kalian pasti ditangkap. Aku ada cara. Sebaiknya kalian bekerja sama denganku.”

“Bagaimana caranya?”

“Tunggu dulu. Matahari sudah akan terbit. Sebaiknya, kita sembunyikan dulu tong-tong kurma itu, di gua sana. Agar tidak terlihat, jika ada orang lewat,” usul Abunawas.

“Setelah aman, kalian mejual kurma-kurma itu kepadaku, cukup lima atau enam tong perhari. Aku akan menjualkannya kepada Baginda Harun.”

“Tapi, bagaimana bisa Baginda tidak tahu, bahwa kau telah mencuri kurma dari gudangnya?”

“Oooo, seorang saksi seperti penjaga gudang itu, tidak akan dapat meyakinkan Baginda Harun. Aku justru akan menuduhnya sebagai tukang fitnah. Justru dia yang akan di tangkap, ha … ha …,” kata Abunawas sambil tertawa. Kelima perampok yang selama ini mengagumi kecerdikan Abunawas, turut tertawa tergelak-gelak.

Tiba-tiba …

“Hai, Abunawas! Menyerahlah! Kami para pengawal mengikuti jejak roda-roda keretamu, hai pencuri!” terdengar teriakan dari luar gua.

“Hahhh. Pengawal kerajaan. Celaka!” kata kelima perampok hampir bersamaan.

“Tenanglah. Kita memang sudah terjepit. Tapi, aku tidak suka mengorbankan kawan seiring. Biar aku sendiri, yang bertanggung jawab,” kata Abunawas.

“Bagaimana caranya?” sahut kelima perampok ketakutan.

“Cari tong yang kosong. Masuklah dan bersembunyi di dalamnya,” sahut Abunawas. Tanpa berpikir panjang, ke lima perampok itu memenuhi usul Abunawas.

Dalam waktu singkat, Abunawas sudah tertawan. Kereta dengan tong-tong kurma itu segera di bawa kembali, ke istana Baginda.

“Hai, Abunawas. Bagaimana kau bisa berubah sifat menjadi pencuri?” hardik Baginda Harun Alrasyid, menyambut kedatangan Abunawas.

“Ampun, Baginda. Hamba sengaja menjadi pencuri, justru untuk menangkap ke lima perampok, yang selama ini mengganggu ketentraman negeri,” kata Abunawas, tanpa menunjukkan sikap bersalah.

“Di mana perampok itu sekarang?” tanya Baginda tak sabar.

“Mereka ada di dalam tong-tong kosong itu,” sahut Abunawas cepat.

Dalam waktu singkat, ke lima perampok itu pun ditangkap, oleh para pengawal kesultanan. Dengan senyum-senyum, Abunawas pun menceritakan kisah sebenarnya.

“Hamba tahu, bekas-bekas roda kereta di padang pasir, memudahkan pengawal kesultanan untuk melakukan pengejaran,” kata Abunawas. Baginda Harun Alrasyid tersenyum lega.

Ke lima perampok itu lemas lunglai, mendengar kata-kata Abunawas. Mereka tentunya akan mendapatkan hukuman setimpal, sesuai dengan kejahatan yang di lakukan. @@@

 

Mentari, Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s