Cerita Anak

Selamat Jalan, Papa

Hasil gambar untuk gambar kartun pelaut

“Ma, malam ini kok hujannya deras sekali, ya?” tanya Antok di teras rumah.

“Nggak seperti biasanya kamu bertanya begitu, Antok,” balas Mama.

“Antok teringat sama Papa, Ma,” kata Antok singkat.

“Ya, kamu berdo’a saja semoga saat ini Papa baik-baik saja. Ayo masuk! Apa kamu tidak kedinginan?” ajak Mama. Namun Antok menolak.

“Sebentar lagi, Ma. Antok masih ingin disini,” jawab Antok.

Genap sebulan sudah Papa meninggalkan mereka demi tugas. Antok sadar sebagai anak pelaut tidak bisa sepenuhnya mendapat kasih sayang dari Papa. Namun Antok bangga, bahkan ingin seperti Papa, menjadi pelaut yang berani dan tegar menghadapi segala rintangan.

Terkadang Atok berharap Papa pulang membawa oleh-oleh. Entah mainan robot, mobil-mobilan, atau sekedar sepatu dan tas sekolah. Bagi Atok, oleh-oleh selalu menjadi penghias kepulangan Papa.

“Atok, ayo masuk! Sudah malam,” suara Mama terdengar dari dalam. Atok menurut, walau pun rasanya masih ingin menatap derasnya air hujan dan membayangkan wajah Papa. Wajah yang ingin bisa dia lihat sebulan sekali, atau bahkan lebih.

Pada waktu masih balita dulu, Atok pernah bertanya kepada Papanya, “Pa, laut itu seperti apa, sih?”

Namun Papa tidak langsung menjawab, malahan tertawa. “Atok, Atok, pertanyaanmu, kok aneh.”

“Aneh? Kenapa?” Atok balik bertanya.

“Ya aneh. Memang anak Papa ini belum pernah lihat laut di TV, ya?” jawab Papa sambil menepuk pundak Atok. Atok terdiam bercampur malu. Memang sejak kecil dia belum pernah melihat keindahan laut dari dekat. Antok hanya tahu laut dari TV. Maklum, tempat tinggal mereka memang jauh dari pantai.

“Ya sudah, besok hari Minggu kita pergi ke pantai dan melihat kapal Papa yang megah. Oke?” ujar Papa.

Atok bersemangat menyambut ajakan Papa saat itu.

Δ Δ Δ Δ Δ

Ma … lihat deh, Ma!” kata Atok sambil menunjuk ke TV yang sedang menyiarkan berita.

“Ada apa, Antok?” tanya Mama penasaran.

“Di TV ada berita kapal ‘Lautan’ tenggelam dalam perjalanan pulang di Samudera Hindia, Ma,” jawab Antok.

“Kalau nggak salah itu kapal yang dinahkodai Papa saat ini,” kata Mama sambil berurai air mata. “Antok, Papa kita, Antok …”

Tiba-tiba Mama melangkah ke meja telepon di sudut ruangan.

“Mau menelepon siapa, Ma?” tanya Antok pelan.

“Papa kamu,” jawab Mama. Mama pun menekan tuts telepon. Namun setelah beberapa saat wajah Mama kelihatan pucat.

“Bagaimana, Ma?” tanya Antok tidak sabar.

“Tidak ada sinyal dari HP Papa,” jawab Mama sambil meletakkan gagang telepon.

“Coba telepon kantor Papa, Ma,” saran Antok.

Mama pun kembali menekan tuts telepon. Namun wajah Mama makin pucat. Kata Mama, telepon di kantor Papa bernada sibuk.

Perasaan Antok menjadi tidak karuan. Dia membayangkan keadaan Papa sekarang.

Sementara Mama masih menatap layar TV yang telah berubah acara menjadi sinetron.

Antok tahu apa yang dirasakan Mama. Antok berharap ada regu penolong yang segera menyelamatkan jiwa Papa.

Pagi hari, Antok segera menyalakan TV untuk melihat berita mengenai kapal ‘Lautan’ yang semalam diberitakan tenggelam. Namun sayang, ditunggu-tunggu berita tentang kapal tenggelam belum juga muncul.

“Ma … kita ke kantor Papa saja, yuk! Biar bisa mendengar kondisi terakhir Papa,” pinta Antok pada Mama.

“Kalau begitu, segeralah siap-siap. Kita ke kantor Papa sekarang.”

Ternyata di kantor Papa telah banyak orang. Kemungkinan mereka adalah keluarga penumpang kapal ‘Lautan’. Antok pun bertanya kepada petugas di belakang meja tamu.

“Mbak … bagaimana keadaan Bapak Widayat, nahkoda kapal yang tenggelam semalam?”

“Maaf, Dik, belum ada berita tentang semua kru dan kapal ‘Lautan’”, jawab petugas itu.

“Kenapa kapal itu bisa tenggelam, Mbak?” tanya Antok lagi.

“Menurut dugaan sementara, kapal tenggelam karena diterjang badai.”

Satu hari, dua hari bahkan tiga hari belum juga ada kabar mengenai bangkai kapal ‘Lautan’ telah ditemukan. Begitu pula dengan kru kapal dan para penumpang. Antok jadi khawatir, jangan-jangan Papa telah wafat karena tenggelam.

Namun Antok berusaha sabar dan selalu berdo’a seraya menunggu hasil kerja tim SAR yang mencari bangkai kapal itu. Hingga enam hari kemudian, pencarian malah dihentikan karena ombak dilautan sedang ganas disertai angin kencang. Pencarian tidak mungkin dilanjutkan.

Pada hari ke tujuh, Antok berkata pada Mama. “Ma, kita ke pelabuhan yuk! Kita tabur bunga untuk Papa.”

Mama mengangguk setuju, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak berapa lama kemudian, tibalah Antok dan Mama di dermaga pelabuhan, tempat kali terakhir kapal ‘Lautan’ bersandar sebelum berlayar. Antok memandangi laut luas yang membentang di hadapannya.

Sambil menaburkan bunga, Antok berdo’a, “Ya Tuhan, andaikan kami tidak mungkin bertemu Papa lagi. Pintaku Ya Tuhan … lapangkanlah jalan Papa menuju ke hadapan-Mu. Berilah Papa tempat yang terindah di sisi-Mu dan ampunilah segala dosa Papa. Amin. Selamat jalan Papa. Tidak ada kenangan terindah selain bersamamu. Tidak ada sesuatu yang aku banggakan selain diri Papa.”

Terima kasih atas perjuangan dan kebaikan yang engkau berikan pada kami selama ini. Do’a kami menyertaimu, Papa … @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s