Abunawas

Andil Membuang Ikan

Hasil gambar untuk gambar kartun anak lucu

Abu Licik tampak memancing di pinggir kali. Sudah dua jam di sana, namun tak satu pun di dapat. Ketika hampir putus asa, tiba-tiba ada yang berberak-gerak di ujung kailnya. Astaga …!! Hanya seekor ikan sepat. Sambil mengomel sendiri, Abu Licik melepas ikan sepat dari kail dan melempar ikan tak berharga itu, ke kolam ikan di sebelahnya.

Tiga bulan setelah kejadian itu, Wan Kecik, pemilik kolam ikan, berniat memanen kolamnya, betapa kagetnya dia. Ikan-ikan yang dipanen, bukan hanya yang ditebarkan benihnya saja. Ada juga beberapa ratus ikan sepat, yang dia merasa tidak menaburkan benihnya.

Abu Licik yang mendengar hal itu, timbul rasa tamaknya. Dia ingin minta bagi hasil, pada Wan Kecik. Dengan berlagak marah, dia mendatangi rumah Wan Kecik.

“Wan Kecik, aku minta bagian dari hasil penjualan ikan sepat, yang kau panen. Sebab, aku yang memeliharanya di kolammu,” tuntut Abu Licik dengan muka garang.

“Lho, siapa yang menyuruh menabur ikan di kolamku? Apa sebelumnya aku punya perjanjian denganmu?” jawab Wan Kecik, menolak tuntutan Abu Licik.

“Kalau kau tidak memenuhi tuntutanku, kau akan kuadukan pada Kadi. Kau akan di hukum, karena tidak bersedia berbagi hasil,” ancam Abu Licik.

“Terserah saja! Aku tidak takut!” tantang Wan Kecik.

Setelah Abu Licik pulang, Wan Kecik baru ingat, kalau Pak Kadi masih ada hubungan kerabat dengan Abu Licik. Di pengadilan nanti, Pak Kadi pasti berpihak pada Abu Licik. Segera Wan Kecik bertandang ke rumah Abunawas, guna minta saran dan pertimbangan.

“Sudahlah, tidak usah khawatir,” kata Abunawas menenangkan hati Wan Kecik. “Di pengadilan aku akan jadi pembelamu di ruang sidang.”

Mendengar janji Abunawas, hati Wan Kecik merasa lebih tenang.

Beberapa hari kemudian, Abu Licik ternyata benar-benar membawa kasus ini ke siding pengadilan. Seperti yang telah di duga, Pak Kadi cenderung membela Abu Licik.

“Saya ingin bertanya!” tiba-tiba Abunawas berteriak. “Apa alasan utama yang mendasari Pak Kadi, memaksa Wan Kecik berbagi hasil dengan Abu Licik?”

“Karena benih ikan itu milik Abu Licik. Jadi, sepantasnya dia mendapat bagian dari hasil penjualan ikan sepat, yang di dapatkan Wan Kecik,” jawab Pak Kadi, penuh dengan percaya diri.

“Kalau begitu, memang benar apa yang dikatakan Pak Kadi. Wan Kecik harus membayar separo dari penjualan ikan sepat, kepada Abu Licik. Ngomong-ngomong berapa hasil penjualan ikan sepat yang kau panen?” tanya Abunawas menoleh kepada Wan Kecik. Dia pura-pura membela Abu Licik.

“Seratus dinar!” jawab Wan Kecik sembari bertanya-tanya dalam hati, mengapa Abunawas tiba-tiba jadi berubah arah.

“Kalau begitu, 50 dinar harus kau serahkan kepada Abu Licik. Bagaimana Pak Kadi, adil, kan?”

“Memang itu yang kumaksudkan,” jawab Pak Kadi berbangga hati. Dia tidak tahu, apa yang ada dalam pikiran Abunawas selanjutnya.

“Sekarang kau harus bayar 50 dinar kepada Abu Licik,” perintah Abunawas. Tanpa berpikir panjang, karena ini sudah menjadi keputusan, Wan Kecik langsung menyodorkan uang 50 dinar kepada Abu Licik.

Namun sebelum Abu Licik menerima uang itu, Abunawas berteriak mencegah, “Eiit … tunggu dulu!” sergah Abunawas. “Karena benih ikan sepat milik Abu Licik itu dipelihara ke kolam ikan milik Wan Kecik, sudah seharusnya Abu Licik membayar sewa lahan, kepada Wan Kecik. Bukan begitu, Pak Kadi?”

Mendengar kilah Abunawas, Pak Kadi seketika bungkam seribu Bahasa. Sebelum Kadi tersadar dari lamunannya, Abunawas sudah menimpali dengan penjelasan selanjutnya.
“Berapa sewa lahan yang kau minta?” tanya Abunawas, sembari berpaling kepada Wan Kecik.

Mendapatkan kesempatan seperti itu, tentu saja Wan Kecik tidak menyia-nyiakannya.

“Sewa lahan kolamku selama tiga bulan senilai seratus dinar, jadi Abu Licik masih berhutang kepadaku 50 dinar!” tandas Wan Kecik tanpa di komando lagi. Kini dia tahu, apa maksud Abunawas sebenarnya.

“Bagaimana Pak Kadi? Keputusan yang adil, bukan?” cecar Abunawas lagi.

Mendapat serangan bertubi-tubi seperti itu, Pak Kadi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia tidak berkutik di hadapan Abunawas.

“Benar, kau harus membayar 50 dinar kepada Wan Kecik,” ujar Pak Kadi pada Abu Licik.
Mendengar keputusan itu, Abu Licik tidak bisa membantah lagi. Dia terpaksa membayar sewa lahan sebesar 50 dinar, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. @@@

 

Mentari, Edisi 392 tAHUN 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s