Cerita Anak

Si Tambun Kena Batunya

Gambar terkait

Tambun sekedar nama ejekan untuk anak laki-laki berbadan gemuk itu. Karena sukanya makan dan jajan di sekolah, badannya cepat mekar. Mulutnya selalu komat-kamit karena menguyah makanan. Berbagai akal dilakoninya demi memperoleh uang jajan. Tetapi si Tambun tidak pernah mencuri.

Otaknya tergolong cerdas. Ia memperoleh rangking tiap kenaikan kelas. Inilah yang disukai teman-temannya, karena ia tidak sayang untuk memberikan contekan kepada temannya yang lupa belajar saat ulangan.

Pada suatu siang, sepulang sekolah, hujan lebat mengguyur bumi. Jalanan menjadi banjir, air meluap keluar dari selokan. Anak-anak tidak bisa pulang. Para penjual makanan pun buru-buru mengangkat dagangannya. Tinggal penjual soto ayam yang bertahan di teras sekolah.

“Tambun! Ayo kita pulang!” teriak Marwan. “Daripada nanti malah tidak bisa pulang terhalang banjir.”

Tambun tampak tidak memperdulikan ajakan Marwan. Memang mereka berdua selalu berangkat dan pulang bersama.

“Lihat, teman-teman kita sudah pada pulang. Tinggal kita sendiri di sini, dengan penjual soto ayam itu!” kata Marwan lagi. Marwan adalah anak yang tergantung pada Tambun. Ia takut pulang sendiri.

Marwan memandang ke langit yang mendungnya makin tebal. Hati kecilnya makin kecut. Bagaimana kalau tenggelam di sini?

“Ayolah, Tambun!” bujuk Marwan. “Besok kan ada ulangan Matematika. Aku belum belajar,” Marwan berdalih.

Tambun memandang temannya yang tampak pucat, “Bagaimana mungkin kita akan pulang, sementara aku sudah sangat lapar,” jawab Tambun sambil matanya memandang penjual soto ayam yang masih bertahan di teras sekolah. Betapa nikmatnya melahap soto ayam di dalam cuaca begini, pikir Tambun. Seketika timbul akalnya memperdayai Marwan.

“Sebentar lagilah kita pulang. Tunggu air surut dulu. Toh, pelajaran matematika itu mudah,” kata Tambun sambil melirik reaksi Marwan.

Marwan menoleh ke arah Tambun, “Bagimu mudah, tetapi untukku harus belajar keras agar tidak memperoleh nilai merah,” jawab Marwan.

“Bagaimana untuk nilai ulangan Matematika besok, kau tidak perlu belajar, cukup contek pekerjaanku,” saran Tambun. “Tetapi … sekarang perutku lapar. Bagaimana kalau kita beli soto ayam itu, memakai uangmu dulu.”

“Apa maksudmu?” jawab Marwan tidak mengerti.

“Begini …,” kata Tambun. “Jika besok kau mencontek hasil peker-jaanku, aku tidak perlu mengembalikan uang pembelian soto itu. Bila engkau tidak mencontek, uang pembelian soto akan kukembalikan.”

Marwan tercenung sebentar. Tawaran Tambun memang perlu dipikirkan. Sepulang dari sekolah tidak perlu payah-payah belajar. Bisa langsung tidur berselimut tebal. Dengan cuaca hujan seperti ini tentu lebih nikmat untuk langsung tidur. Tetapi uang disakunya itu adalah uang untuk membeli buku.

“Bagaimana?” desak Tambun. Matanya memandang Marwan penuh harap.

“Baiklah, Tambun! Pakailah uangku,” jawab Marwan akhirnya. Wajah Tambun seketika berbinar.

Keesokan harinya, ulangan matematika benar-benar dilaksanakan. Namun anehnya, Marwan duduk agak menjauh dari Tambun. Tentu saja hal ini diluar kebiasaan. Pada saat dan berakhirnya ulangan tidak ada satu pun jawaban yang ditanyakan Marwan kepada Tambun, apalagi men-contek jawaban Tambun. Hal ini membuat Tambun gelisah. Bagaimana seandainya Marwan menagih uangnya sesuai perjanjian kemarin.

Pada saat istirahat Tambun cenderung menghindar. Tapi saat ia berjalan ke belakang sekolah, ada anak yang mengikutinya, “Hai Tambun! Bagaimana dengan perjanjian kita kemarin?” serang anak laki-laki itu, yang ternyata Marwan.

Tambun sangat terkejut dan berusaha menimpali dengan tenang, “Kita kan sudah lama bersahabat, mengapa kau permasalahkan hal sepele itu?”

“Hal sepele katamu?! Semalam aku berusaha belajar keras agar uangku dapat kembali. Uang yang kuberikan kemarin adalah uang untuk pembelian buku. Ayolah, Tambun, kembalikan uangku,” desak Marwan.

Terpaksa Tambun meraih uang dari kantong celana seragam pramuka. “Ini hutangku! Kalau uang hanya segitu bukan masalah bagiku,” katanya dengan nada sombong. Setelah itu ia berjalan meninggalkan sahabatnya.

Tapi berikutnya, Tambun merasa cemas. Uang yang diberikan kepada Marwan itu adalah uang pemberian ayahnya untuk beli buku.

Di rumah, apa yang ditakutkan Tambun terjadi juga. Ayahnya menanyakan perihal buku itu. Tambun menjawab dengan sejujurnya.

Seketika Ayahnya berdiri menghampiri Tambun dan menepuk pundak anak itu dengan lembut. “Baiklah, kali ini ayah bisa menerima. Tetapi kau tetap mendapat hukuman, kau tidak mendapat uang jajan selama satu bulan.”

Tambun tercenung mendengar jawaban ayahnya. Ia hanya bisa bergumam seorang diri, “Sungguh berat untuk tidak jajan selama satu bulan. Tapi, apa boleh buat, memang aku bersalah.”

Tambun juga berjanji akan meminta maaf pada Marwan besok pagi. Tambun yakin Marwan akan menjadi sahabatnya kembali, dalam suka dan duka. @@@

 

 

Mentari, Edisi 128 Tahun 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s