Fabel

Ke Mana Si Rara?

Hasil gambar untuk gambar hewan kartun

Bu Kur-Kur kelihatan gelisah, saat melihat jarum jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam. “Kemana perginya anak itu, sampai jam segini belum juga pulang?” rasa cemas dalam hati Bu Kur-Kur bergejolak.

Bu Kur-Kur beranjak dari tempat duduknya menuju teras depan rumahnya, sambil celingukan kesana kemari berharap putrinya, Rara, segera kembali.

Sejenak terlintas kembali dalam ingatan Bu Kur-Kur, kejadian tadi pagi. “Rara. Pagi ini Ibu mau ke rumah Nenek. Kata Pak Beruang, Nenek kamu lagi sakit, kamu mau ikut Ibu tidak?” tanya Bu Kur-Kur pada Rara.

“Tidak, Bu. Rara di rumah saja, dan sampaikan salam Rara untuk nenek, ya,” sahut Rara sambil berlalu, dari meja makan.

Sebenarnya Bu Kur-Kur merasa kasihan, jika meninggalkan Rara di rumah sendirian.

“Rara jaga rumah baik-baik, ya. Setelah mengetahui keadaan Nenek, Ibu akan segera pulang!” pesan Bu Kur-Kur pada putrinya ketika mau pergi ke rumah orang tuanya.

Namun, ketika Bu Kur-Kur kembali, ia tidak lagi menjumpai putrinya di rumah. Pintu depan rumah dibiarkan terbuka begitu saja. Tentu saja, semua itu membuat hati Bu Kur-Kur cemas dan bingung. Mulai dari kerabat dekat, para tetangga, juga teman sepermainan Rara, sudah ditanyai Bu Kur-Kur tentang keberadaan anaknya. Akan tetapi, tidak satu pun yang tahu kemana perginya Rara.

Hingga datanglah Si Beo dan menceritakan apa yang dia lihat. Ternyata, sepeninggal ibunya, Rara merasa kesepian di rumah sendiri. Kebetulan, dia melihat sekawanan anak Gajah, sedang bermain petak umpet. Timbullah rasa ingin dalam hati Rara, untuk ikut bermain. Rara mencari persembunyian yang aman dan tidak mudah untuk ditemukan.

Di balik batu yang dirimbuni pepohonan yang rindang, Rara bersembunyi. Karena keteduhan dan semilir angin, membuatnya terlelap hingga sampai larut malam. Saat itulah, Pak Beo melintasi tempat Rara tertidur. Tanpa pikir panjang, Pak Beo mencari Bu Kur-Kur untuk memberitahukannya.

Betapa bahagianya hati Bu Kur-Kur, mendapati Rara dalam keadaan baik-baik saja. Dengan hati-hati, Bu Kur-Kur membangunkan putrinya serta mengajaknya pulang.

“Bu, maafkan Rara telah melupakan pesan Ibu, juga membuat hati ibu cemas!” kata Rara memelas, karena takut dimarahi.

“Iya, tidak apa-apa. Tapi, lain kali jangan diulangi lagi. Untung ada Pak Beo, yang melihat kamu. Kalau tidak, bagaimana jadinya?” jawab Bu Kur-Kur dengan nada setengah marah.”

“Udah ya Rara, lain kali kamu hati-hati. Sekarang kamu pulang. Tidak baik angin malam, untuk anak seusia kamu,” Pak Beo menimpali.

Rara hanya bisa tertunduk diam, mendengar semuanya. Akhirnya, mereka bertiga meninggalkan tempat itu. Sampai di pertigaan jalan, mereka berpisah. Tapi sebelum itu, Bu Kur-Kur dan Rara mengucapkan terima kasih, atas kebaikan Pak Beo. Rara berjanji, tidak akan mengabaikan pesan ibu lagi dan akan mematuhi perintahnya. @@@

 

 

Mentari, Edisi 392 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s