Abunawas

Abunawas Jadi Petinju

Gambar terkait

Abu Jahil, tetangga Abunawas melakukan perjalanan keluar negeri. Dia mengajak serta istrinya. Anaknya yang baru berumur tiga tahun dititipkan kepada Abunawas.
Abunawas merawat anak Abu Jahil penuh kasih sayang. Dia menganggap sebagai anak sendiri. Dan yang menyenangkan, selama di rawat Abunawas, anak Abu Jahil tidak pernah rewel.

Setelah tiga hari, Abu Jahil pun kembali. Dia dan istrinya pun langsung menuju rumah Abunawas untuk mengambil anaknya. Tapi betapa kagetnya dia ketika melihat anaknya tidur tengkurap. Hal tersebut membuat Abu Jahil menjadi berang.

“Abunawas, kenapa kau biarkan anakku tidur tengkurap seperti itu?!” kecam Abu Jahil.

“Lho semenjak tinggal di sini, dia selalu tidur tengkurap seperti itu,” jawab Abunawas tenang. “Tapi, tidurnya selalu pulas, kok!”

“Bukan masalah pulasnya!” bentak Abu Jahil. “Tapi dia belum waktunya tidur tengkurap seperti itu. Lihat ini akibatnya … hidungnya menjadi pesek seperti ini!”

Abunawas sebenarnya ingin tertawa. Tapi dia khawatir emosi Abu Jahil akan semakin meledak. Dia tidak mau itu. Hanya yang tidak masuk akal, masak gara-gara tidur tengkurap hidung bisa berubah menjadi pesek. Memangnya terbuat dari bahan tanah lempung apa?

“Kau harus bertanggung jawab!” terdengar lagi amarah Abu Jahil. “Kau harus kembalikan hidung anakku seperti sedia kala. Kalau kau tidak sanggup membuat hidung anakku menjadi mancung seperti sebelumnya, kau akan ku tuntut sebesar 10.000 dinar! Mengerti?”

Abunawas tidak bisa berbuat apa-apa tatkala Abu Jahil pergi meninggalkan rumahnya serambi membopong anaknya. Abunawas pikir, Abu Jahil pasti mendatangi Kadi untuk mengadukan permasalahannya.

Tapi dugaan Abunawas ternyata meleset. Abu Jahil justru mengadukan permasalahan ini ke hadapan Baginda Harun Alrasyid. Hal ini diketahui Abunawas setelah beberapa pengawal kerajaan mendatangi tempat tinggalnya beberapa saat setelah kejadian berlangsung. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Abunawas pun pergi menghadap Baginda.

“Abunawas …!” seru Baginda Harun setelah Abunawas tiba di istana.

“Apakan benar kau biarkan anak Abu Jahil tidur tengkurap di rumahmu?” tanya Baginda Harun.

“Benar, Baginda,” jawab Abunawas apa adanya. “Dia anak yang pintar. Dalam usia segitu dia sudah bisa tidur tengkurap sendiri.”

“Bukan masalah pintar atau tidak!” bentak Baginda seolah-olah membela Abu Jahil.

“Tapi akibat kecerobohanmu,” lanjut Baginda, “Hidung anak Abu Jahil jadi pesek seperti ini. Apakah kau sanggup mengembalikannya seperti semula?”

“Wah, ya tidak sanggup, Baginda …,” sahut Abunawas cepat. “Memangnya saya Tuhan?”

“Diam kamu! Aku tidak butuh banyolanmu. Aku minta kau bertanggung jawab. Kalau kau tidak sanggup membuat hidung anak Abu Jahil kembali mancung seperti sedia kala, kau harus membayar ganti rugi sebesar 10.000 dinar. Bagimana? Mengerti?”

Abunawas tidak segera menjawab. Dia segera tanggap dengan apa yang terjadi. Ini pasti ulah Baginda Harun untuk menguji kecerdasannya.

“Ayo, jawab! Mengapa kau diam saja?!” bentak Baginda membuyarkan lamunan Abunawas.

“Hamba bayar ganti rugi saja, Baginda,” akhirnya Abunawas membuka suaranya.

“Membayar ganti rugi? Dari mana kau mendapat uang sebanyak itu? Dalam waktu berapa lama kau sanggup membayarnya?” cecar Baginda.

“Seminggu, Baginda. Kalau dalam waktu seminggu hamba tidak menepati janji, silahkan datangi rumah hamba. Hamba siap dihukum gantung,” jawab Abunawas.

“Kalau begitu pulanglah sekarang!” ujar Baginda.

“Tapi, awas!” ancam Baginda, “Kalau dalam waktu seminggu kau tidak datang kemari, aku dan para pengawalku yang akan ke rumahmu untuk menjemputmu.”

Seminggu berlalu.

Abunawas tidak muncul juga ke istana. Baginda menjadi berang. Dia lantas mengajak pengawalnya pergi menjemput Abunawas.

Di rumah, Abunawas sedang santai sembari menyeruput secangkir kopi yang dihidangkan istrinya. Dia sama sekali tidak kaget, tatkala Baginda datang ke rumahnya.

Bahkan, ketika Baginda memaki-maki, Abunawas menghadapinya dengan tenang.

“Begini Baginda,” ujar Abunawas menjelaskan alasannya tidak datang ke istana.

“Seminggu yang lalu, ada orang yang menjanjikan memberi uang 10.000 dinar. Syaratnya cuma satu, hamba disuruh bertinju dengan juara tinju dari desa sebelah. Hamba sanggup. Karena kalah pun, hamba tetap dapat uang 10.000 dinar. Tapi hamba tidak mau kalah konyol. Hamba harus dapat menjatuhkan mentalnya lebih dulu. Oleh sebab itu, untuk membuat dia keder, hamba bermaksud membuat kulit hamba menjadi hitam legam seperti orang negro. Sejak seminggu yang lalu, hamba minum kopi sebanyak-banyaknya. Tapi sampai sekarang, kulit hamba belum hitam-hitam juga …”
Mendengar penjelasan Abunawas, Baginda tertawa terbahak-bahak.

“Mana mungkin? Mana mungkin ada orang minum kopi kulitnya bisa jadi hitam legam?”

“Siapa bilang tidak mungkin?” sahut Abunawas menjawab Baginda. “Wong ada anak tidur tengkurap hidung bisa menjadi pesek, kok. Masa tidak bisa ada orang minum kopi menjadi hitam kulitnya?”

“Iya… ya…”
Baginda akhirnya menyadari kekeliruannya. Beliau sekali lagi mengakui kecerdasan Abunawas melepaskan diri dari jebakan yang tengah membelitnya. @@@

 

 

Mentari, Edisi 267 Tahun 2005

1 thought on “Abunawas Jadi Petinju”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s