Dongeng

Ito Dan Seekor Burung Jenjang

 

Gambar terkait

Pada zaman dahulu, di Jepang. Hiduplah serang petani muda bernama Itu. Dia menanam kacang-kacangan, wortel, lobak dan berbagai sayuran lain. Ito juga mengumpulkan kayu bakar untuk dijual di pasar.

Ito seorang pemuda yang baik hati. Dia suka menolong orang-orang miskin, dengan memberi makanan dan pakaian.

Pada suatu hari, dalam perjalanan pulang dari pasar, Ito melihat seekor Burung Jenjang yang sangat indah melintasi danau. Burung Jenjang itu mencari ikan untuk makanannya. Sekonyong-konyong Ito melihat pemburu bersembunyi dibalik semak-semak di tepi danau. Si pemburu itu sedang menyiapkan anak panahnya, siap menembak burung itu.

“Berhenti!” teriak Ito kepada si pemburu. “Jangan sakiti burung itu.”

Burung Jenjang yang mendengar keributan itu segera terbang jauh. Si pemburu sangat marah kepada Ito. “Mengapa kau lakukan itu?” tanyanya.

Kemudian, Ito mengeluarkan sejumlah uang dari kantongnya dan memberikan kepada pemburu.

“Saya tidak bisa membiarkan kamu menyakiti burung yang sangat indah itu,” kata Ito.

Si pemburu mengambil uang itu dan pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Pada malam harinya, Ito tidak bisa memejamkan matanya. Dia memikirkan Burung Jenjang itu. Ito belum pernah melihat burung seindah itu dalam hidupnya.

Pagi-pagi sekali, Ito mulai bekerja di ladang. Setelah beberapa saat, Ito melihat Burung Jenjang yang kemarin ditolongnya terbang mengitari kepalanya. “Turunlah! Mari kita sarapan bersama!” teriak Ito.

Burung itu hinggap di samping Ito yang sedang menikmati sarapannya. Burung Jenjang itu mulai mematuki nasi dari tangan Ito. “Saya harap kamu menyukainya,” kata Ito.

“Saya sebenarnya menginginkan kamu tinggal bersama saya. Tapi, sebaiknya, kamu pergi sebelum si pemburu kembali dan menangkapmu.”

Kemudian burung itu terbang, tinggi sekali menembus awan. Setiap hari setelah kejadian itu, Ito menaruh sejumput nasi dan sedikit ikan di depan pintu rumahnya untuk si Burung Jenjang. Tetapi, ia tidak pernah melihat burung itu kembali.

Pada suatu saat, di musim salju, ladang-ladang diselimuti dengan salju yang sangat tebal, sehingga Ito tidak dapat bekerja. Tiba-tiba, ia mendengar seseorang mengetuk pintu.

Ketika membukanya, Ito melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri di ambang pintu. Gadis itu mengigil kedinginan.

“Saya seorang musafir. Saya tersesat. Dapatkan kamu membiarkan saya masuk untuk menghangatkan diri?” kata gadis itu.

Ito menyilakan gadis itu masuk dan memberikannya semangkuk sup hangat.

“Kamu sangat baik hati,” kata si gadis. “Apa yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan hatimu? Mungkin saya dapat membersihkan rumah kamu atau menjahit baju-bajumu?”

Ito memberikan gadis itu segulung benang sutera peninggalan ibunya dan memintanya menenun pakaiannya.

“Baiklah,” kata gadis itu. “Tetapi, kamu harus berjanji tidak melihat saya pada saat menenun.”

Gadis itu pergi untuk mengerjakan tenunannya.

Klik. Klak. Klik. Klak. Ito mendengar suara tenunan yang sedang bekerja itu. Dan Ito tidak pernah bertemu dengan si gadis selama beberapa hari.

Akhirnya, pada suatu hari, Si Gadis keluar dari kamar tempatnya. Ia memberikan selembar kain sutera berwarna keemasan kepada Ito.

“Oh, alangkah cantiknya kain ini. Saya tidak pernah melihat kain seperti ini sebelumnya,” seru Ito penuh kekaguman.

“Bawalah ke pasar dan juallah!” kata Sang Gadis. “Kasmu akan mendapatkan banyak uang.”

Pada mulanya, Ito menolak untuk menjual kain itu. Tetapi, Gadis itu akan sangat bahagia kalau Ito melakukannya. Akhirnya, Ito menuruti kemauannya dan pergi ke pasar untuk menjual kain itu. Sesampainya di pasar, seorang Samurai yang melihat kain yang dibawa Ito sangat tertarik dan ingin membelinya.

“Saya tidak ingin menjualnya,” jawab Ito.

“Lalu, mengapa engkau membawanya ke pasar?”

“Kamu harus menjualnya,” kata orang-orang yang berkumpul mengelilingi Ito. “Kamu akan mendapatkan banyak uang.

Akhirnya, Ito setuju. Samurai itu membayar kainnya dengan emas yang sangat banyak.
“Apakah kamu mempunyai kain seperti ini lagi?” tanya samurai itu. “Saya akan membelinya semua.”

Ito bergegas pulang dan menceritakan yang dialami pada si Gadis. Lalu, Gadis itu mengambil beberapa gulung benang lagi dan memulai menenun di kamarnya.

Ito iba, karena si Gadis bekerja keras. Ito memperingatkannya untuk istirahat. Tetapi gadis itu menolak. Terdorong rasa iba, Ito masuk ke kamar Gadis itu untuk membawa makanan. Ito lupa dengan janjinya. Sesampai di dalam, ia sangat terkejut, karena yang sedang mengerjakan tenunan itu seekor burung jenjang!
“Sssaya … minta maaf,” kata Ito. “Saya lupa janji saya.”

Burung itu keluar. Ito mengejarnya. Sebelum sempat menangkapnya, burung itu telah terbang tinggi.

“Tunggu … tunggu …,” teriak Ito. “Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kembalilah!”

Tetapi, burung jenjang itu tidak mendengarkan Ito. Dia bergegas terbang tinggi, sambil menangis sedih. Ito memandang burung itu, sampai hilang dari pandangannya.
Ketika masuk ke dalam rumah, Ito menemukan tumpukan besar kain-kain yang indah berwarna emas dan perak. Ito menjualnya kepada Samurai. Ia hidup bahagia sepanjang waktu.

Ito tidak pernah bertemu burung jenjang itu lagi, walau pun telah mencari ke semua tempat.

Dari Buku More Favorite Stories from Asia
Diterbitkan oleh Heineman Asia, Asia Hongkong 1970

 

Hoplaa, Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s