Abunawas

Keledai Tua Abunawas

Gambar terkait

Suatu ketika, Abunawas bingung mencari uang. Uang simpanannya benar-benar tandas. Padahal besok adalah batas akhir, pembayaran sewa rumahnya. Jika Abunawas tidak mampu membayar, sudah pasti ia dan keluarganya harus rela tidur di jalanan.

Abunawas makin bingung, ketika dilihatnya sudah tidak ada lagi barang-barang miliknya, yang pantas untuk dijual. Abunawas menghela nafas panjang. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada keledai kesayangannya. Namun, keledai itu sudah tua dan kulitnya pun sudah kusam. Sama sekali tidak ada menariknya. Siapa pula yang tertarik membelinya, dengan harga mahal? Tapi, dia harus tetap dijual, karena keadaannya sudah mendesak!

Akhirnya, Abunawas nekat menjual keledai tua itu, ke Abu Kir. “Bah, keledai sudah tua bangkotan kayak begitu, kok dijual? Diberi pun aku tak sudi. Cihh!” ejek Abu Kir sambil membuang mukanya.

Abunawas tak patah arang, ia tetap bersikeras menjual keledai tuanya itu ke beberapa orang, namun jawabannya tak jauh beda dengan Abu Kir. “Apa pun alasannya, pokoknya keledai tua ini harus terjual hari ini juga!” tekadnya.

Gambar terkait

Abunawas kemudian nekad menemui Baginda Harun Alrasyid di istana. “Tumben, tak dipanggil kau sudah menghadapku? Ada apa Abunawas?” tanya Baginda Harun sambil mengulum senyumnya.

“Gawat, Baginda Harun! Hamba baru saja berkeliling Baghdad, ternyata rakyat Baghdad banyak yang mencibir anda. Kata mereka, Baginda Harun tak merakyat! Suka barang-barang mewah. Tak pernah mau merasakan penderitaan rakyat kecil!” oceh Abunawas.

Mendengar berita itu, Baginda Harun kontan tersentak. “H-haahh, masak sih, penilaian rakyatku seperti itu? Padahal aku tak seperti yang mereka pikirkan. Aku sangat mencintai rakyatku, bahkan sanggup mengerti penderitaan rakyat!” bantah Baginda Harun.

“Ya, hamba sangat paham, Baginda. Tapi, jika itu hanya ada di dalam hati saja, siapa yang akan tahu? Satu-satunya cara, Baginda Harun harus menunjukkannya lewat perbuatan nyata,” saran Abunawas.

Baginda Harun terdiam, ia hanya manggut-manggut sambil memilin kumis tebalnya.

“Lalu bagaimana caranya?”

“Nah, sekarang ini, hamba sudah siapkan seekor keledai untuk Baginda Harun tunggangi, berkeliling Baghdad,” kata Abunawas sambil menunjukkan keledai miliknya.

“Ha … aah! Keledai tua dan kumuh seperti itu, yang kau tawarkan padaku? Kau ini keterlaluan!” bentak Baginda Harun.

“Justru dengan kondisi keledai seperti itu, Baginda akan banyak menaruh simpati rakyat Baghdad. Karena, mereka menganggap Baginda Harun tidak pilih-pilih kendaraan, dan suka hidup sederhana,” jawab Abunawas meyakinkan.

Baginda Harun tersenyum sambil manggut-manggut. Akhirnya beliau menuruti saja permintaan Abunawas. Ia bersedia berkeliling Baghdad, menunggangi keledai milik Abunawas itu. Yang paling mengesankan, Baginda Harun tak lupa membagikan sedekah bagi rakyatnya.

Ternyata, benar saran Abunawas, rakyat Baghdad langsung bersimpati pada Baginda Harun. Bagi Abunawas, keledai tuanya kini punya nilai penting, yaitu pernah ditunggangi seorang Sultan Baghdad yang termasyur.

Keledai tua Abunawas kontan jadi perhatian banyak orang. “Hei, itu keledai milik siapa sih? Pasti keledai itu punya kehebatan luar biasa, karena Baginda Harun sudi meningganginya,” bisik orang-orang.

“Aku berani membelinya 300 dinar tunai, jika keledai itu dijual!” sahut seseorang bersemangat.

Abu Kir kebetulan juga ada di tempat itu. Rupanya juragan yang terkenal kikir itu, sedari tadi ikut mengamati aksi Abunawas, dengan keledai tuanya. Ia benar-benar tak menyangka, keledai tua itu adalah tunggangan Baginda Harun. “Jika aku tahu sejak awal, aku berani langsung membelinya 500 dinar tunai!” kata Abu Kir.

Saudagar-saudagar yang juga tak mau kalah. Maka, terjadilah perang penawaran harga beli. Abunawas mendengar semua perdebatan para saudagar kaya itu. Dalam hati, ia tertawa riang mendengarnya. Kini Abunawas tinggal menunggu saja, penawaran siapa yang lebih tinggi.

“1500 dinar tunai!” pungkas Abu Kir dengan nada tinggi. Semua orang terdiam mendengar lontaran Abu Kir itu. Sama sekali tak ada yang berani menawar lebih tinggi.
“Bagaimana, Abunawas? Maukah keledai tuamu itu kubeli 1500 dinar, tunai sekarang juga?” pinta Abu Kir berharap.

Abunawas cepat-cepat mengangguk, karena memang itulah yang sejak tadi ditunggunya. Penawaran dengan harga paling tinggi.

“Baiklah, silahkan bawa keledai tua ini. Pesanku, rawat baik-baik, karena usianya sudah tua. Kadang ia sering bersikap manja dan rewel,” kata Abunawas pada Abu Kir.

Tanpa merasa rugi, Abu Kir langsung menggelandang keledai tua itu, dengan penuh rasa bangga. Abunawas langsung dapat bernafas lega. Bukan hanya karena telah berhasil menjual keledai tuanya dengan harga mahal, ia juga mendapat hadiah dari Sultan Harun, karena usahanya membuat simpati rakyat pada Baginda Harun. @@@

 

 

Mentari Edisi 455 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s