Abunawas

Anak Raja Tak Mau Makan

Gambar terkait

Suatu ketika Baginda Harun Alrasyid bingung alang kepalang. Anak bungsu kesayangannya, Dul, tak mau makan. Segala bujuk rayu pun telah dilancarkan Baginda Harun, tapi tetap saja Dul tak mau makan.

Akhirnya Baginda Harun membuat sayembara. Barang siapa yang berhasil membuat Dul makan lahap, maka dia berhak atas hadiah tiga kantung emas,” demikian sabda Baginda.

Wah, tentu saja sayembara itu menggiurkan banyak orang. Mulai remaja sampai orang tua pun berlomba, mendaftarkan diri.

“Anak saya itu sepuluh dan cucu saya lima belas, urusan membuat anak kecil doyan makan, itu urusan sepele, kecil!” komentar seorang wanita pongah. Kemudian, ia pun beraksi, dengan segala bujuk rayunya. Namun, bukannya menurut. Dul, malah ngambek. Bahkan, ia menangis sejadi-jadinya. “Pokoknya, Dul nggak mau makan, Dul nggak mau makan!” teriak Dul memekakkan telinga.

Kemudian, tiba giliran seorang pedagang sate terkenal di Baghdad. “Sate saya ini paling uenak dan terkenal, di seluruh penjuru negeri. Silahkan Mas Dul habiskan sate saya semuanya. Kalau kurangm boleh nambah, kok!” rayu pedagang sate itu, sok percaya diri.
“Nggak mau makan sate! Pokoknya Dul nggak mau makan!” teriak Dul, sambil memalingkan muka dan memencet hidungnya rapat-rapat.

Baginda Harun dan panitia sayembara makin bingung, melihat polah Dul yang memaki hampir semua peserta lomba. “Wah, bagaimana ini? Lha satu yang paling uenak saja nggak mau makan, terus yang mau di makan itu apa?” gerutu Baginda Harun, yang bingung bercampur kesal.

Tak lama kemudian, Abunawas langsung menghadap Baginda Harun. Baginda Harun langsung memicingkan matanya. “Hai Abunawas, apa yang dapat kau banggakan? Tubuhmu kurus kering begitu, tentu juga kau tidak doyan makan, bukan? Apa kelebihanmu untuk merayu anakku, agar bisa mau makan?” tanya Baginda Harun menyangsikan.

“Maaf Baginda, terus terang saya tidak bisa merayu Mas Dul, untuk makan lahap. Makanya, saya tidak akan merayunya untuk makan,” kata Abunawas sambil melirik pada Dul.

“Lalu apa maksudmu?”

“Hamba hanya mohon izin. Setelah saya amati, ternyata Mas Dul itu sangat kelelahan menghadapi peserta sayembara, yang sibuk merayunya. Nah, saya pikir, ia butuh refreshing! Butuh penyegaran! Makanya, saya akan mengajaknya refreshing. Boleh, bukan?” kata Abunawas.

“Iya, aku mau refreshing! Aku mau jalan-jalan!” teriak Dul seketika. Baginda Harun pun mengizinkan. Tapi dengan syarat, tetap dalam pengawalan dan pengamatan Sultan Harun.

Sebenarnya, Abunawas tahu betul, Dul ini suka sekali bermain sepak bola. Makanya, ia telah mempersiapkan dua buah bola, dari rumahnya. Sepintas kilas, dua buah bola itu sama persis bentuknya, tapi sebenarnya sangatlah berbeda. Yang satu, benar-benar asli plastik yang enteng, sedangkan bola yang kedua didalamnya berisi pasir.

“Mas Dul, ayo main bola, yuk?!” ajak Abunawas, sambil tersenyum memamerkan dua bola itu, pada Dul. Benar juga, Dul kontan tertawa melihat Abunawas membawa bola.
“Dari pagi tadi, cuma di suruh makan aja. nah, sekarang ada yang ngajak main bola, asyik!” teriak Dul kesenangan.

“Sebelumnya, Paman Abunawas akan memberi contoh, bagaimana menendang bola yang baik dan benar. Nah, begini caranya!” kata Abunawas, sambil menendang bola yang asli. Karena ringan, maka bola itu pun langsung melambung jauh sekali.

“Bagaimana, hebat, bukan?” ujar Abunawas kemudian..Lalu, giliran Dul menendang bola. “Waduh! Kok bolanya nggak bergerak sama sekali? Dan, kenapa bolanya terasa sangat berat?” Tanya Dul sambil memegangi kakinya yang kesakitan.

“Ah, yang benar saja? Bola ini kan sama dengan bola yang aku tending tadi? Pasti ada yang tidak beres. Coba kau tengadah, aku mau lihat mulutmu?” kata Abunawas mulai beraksi. Dul pun menuruti saja perintah Abunawas. Ia langsung membuka mulutnya lebar-lebar, sambil menengadah kepalanya.

“Wah, tentu saja tendanganmu tak bertenaga! Tenagamu hilang jadi angin! Padahal, mestinya tenaga itu bisa tersimpan aman dalam tubuh kita. Tapi, kok kamu kayak ban kempes!” celoteh Abunawas. Kontan Dul semakin lesu mendengarnya.

“Ah, tapi jangan khawatir! Coba kita sumbat saja, biar nggak bocor, dengan roti bulat ini!” lanjut Abunawas, seraya mengeluarkan roti, dari dalam tasnya. Dul pun mengangguk cepat. Dengan terburu-buru, ia pun langsung melahap roti bulat itu, hingga bersih nggak bersisa.
Ketika Dul sedang asyik memakan roti itu, Abunawas menukar bola berisi pasir itu, dengan bola asli yang enteng.

“Sekarang, coba tendang bola ini, kencang-kencang!” ujar Abunawas.

Kontan Dul menendangnya, dan … benar juga! Bola itu melambung jauh sekali.

“Hebat! Hebat! Tendanganmu sekeras Ronaldo!” teriak Abunawas.

“Hmmm, asal kau tahu, kau bahkan bisa sepuluh kali lebih hebat dari Ronaldo, asal kau rajin mengisi perutmu dengan roti atau nasi,” saran Abunawas pada Dul. Baginda Harun melihat semua ulah Abunawas. “Hebat! Abunawas, Hebat! Kaulah yang berhak atas tiga kantung emas ini!” seru Baginda Harun, sambil memberikan tiga kantung emas pada Abunawas.

“Ehm, siapa itu Ronaldo? Aku, kok tak mengenalnya?” tanya Baginda.

“Ronaldo itu nama pemain bola ternama abad 21, Baginda. Saya pernah melihatnya dalam mimpi, tentang masa depan.”

“Dasar, tukang mimpi, kamu ini,” balas Sultan Harun terkekeh.

“Ayah, aku mau roti atau nasi sekarang!” pinta Dul sambil merengek. Semua orang tersenyum mendengarnya. @@@

 

Mentari Edisi 437 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s