Cerita Misteri

Ayam di Perhutani

Gambar terkait

Ini adalah kisah nyata. meski bukan aku sendiri yang mengalaminya, tetapi aku tahu karena yang mengalaminya temanku sendiri. Kejadiannya kira-kira dua tahun yang lalu. Tepatnya hari Sabtu. Avien (temanku) bersama tujuh temannya pergi kemping. Mereka memilih lokasi di hutan Perhutani yang kebetulan dekat dengan rumah Avien. Avien biasa main ke sana.

Mereka tiba di Perhutani kira-kira pukul 7 malam. Di tengah kegelapan malam mereka mendirikan tenda. Kira-kira pukul 9 malam tenda baru selesai didirikan. Tugas membereskan barang-barang memang membosankan. Tetapi mereka dengan cepat menyelesaikan karena sudah kepingin menikmati malam.

Saat yang di tunggu tiba. Mereka duduk-duduk sambil bercanda. Pokoknya senang-senang, dech! Malam pun semakin larut. Udara juga makin dingin. Tapi tidak ada yang merasa ngeri tinggal di hutan malam-malam. Toh, mereka berdelapan.

“Siapa yang lapar?” tanya Andre. “Bakar ayam, yuk!”

Tentu saja tidak ada yang menolak. Mereka memang sudah menyiapkan ayam untuk di bakar. Ayam itu sudah di bersihkan dan tinggal membakar. Ini memang puncak acara kemping.

“Asyiiik!” kata Yudi sambil menyiapkan kayu bakar.

Ranting-ranting yang berserakan di kumpulkan. Di dekat tenda mereka membuat api unggun. Tentu saja sebelumnya sudah minta izin pada petugas Perhutani.
Acara membakar ayam jadi semakin marak karena mereka selalu ribut. Maklum delapan anak laki-laki berkemah. Wuih … seisi hutan jadi gegap gempita karena mereka.

Mereka masih terus bercanda sampai menjelang pukul 2 dini hari. Karena ada 3 tenda yang dipasang, mereka berbagi tempat. Tiga orang di tenda kanan, tiga lagi di tenda kiri, tenda tengah dihuni Andre dan Avien.

Malam yang tadinya ramai sekarang menjadi sepi. Andre yang setenda dengan Avien menjadi gelisah. Dia tidak bisa tidur karena gelap dan sepi banget. Memang sih, kata Avien, Andre tuh penakut.

Sinar bulan yang sedikit masuk lewat celah tenda. Andre memasang mata. Dilihatnya jam di tangan menunjukkan pukul 3. Andre sekarang benar-benar tidak tahan. Dia memutuskan untuk tidak tidur. Percuma berbaring kalau matanya tidak bisa terlelap. Lagi pula, ternyata Avien kalau tidur mendengkur.

“Vien, bangun dong. Aku tidak bisa tidur, nih,” kata Andre sambil mengguncangkan badan Avien.

Avien terbangun. “Huaaah!”

Tanpa menunggu persetujuan, Andre berteriak, “Hei … siapa yang mau ubi bakar!”
Tentu saja tidak perlu menunggu teriakan kedua. Serempak seisi tenda di sebelah kiri dan kanan terbangun. Mereka langsung berseru, “Mauu …!”

Andre sedang menyiapkan kayu bakar di belakang tenda kiri. Yang lain segera mengelilingi api unggun. Pagi yang sangat dingin rasanya nyaman berada di dekat api unggun. Apa lagi menunggu ubi bakar. Avien berdiri, “Aku ambil cokelat dulu di tenda.”
Avien masuk ke tenda. Tetapi ketika keluar dia heran. Kabut yang ada di luar sangat tebal. Sampai-sampai dia tidak bisa melihat dalam jarak dua meter.

“Ya … kabut, nih!” teriak Avien.

Arya yang dipanggil balas menjawab, “Kabut apanya? Kamu yang rabun, kali!”

Tetapi Avien benar-benar melihat kabut sangat tebal. Dengan berpedoman pada arah yang diingat, Avien segera keluar. Lampu senter dinyalakan.

“Lo … seperti suara ayam,” kata Avien.

Sinar senternya menangkap bayangan bergerak. Benar. Itu ayam yang sedang mencari induknya. Dia sedang berbalik di pohon sengon dekat tenda kanan.

Karena penasaran, Avien mendekati ayam itu. Dia tidak sadar kalau langkahnya makin menjauh dari teman-temannya. Semakin didekati, ayam itu pun semakin besar. Avien mengira itu biasa. Bukankah benda yang dari jauh kecil jika dilihat dari dekat bertambah besar?

Tetapi ayam ini aneh. Makin didekati makin besar. Hampir sebesar tubuhnya!

Lalu setelah ayam itu berubah menjadi ayam raksasa, tiba-tiba saja dia berubah menjadi sehelai kain putih.

Avien mematung.

Hingga akhirnya Andre mendekati dan memukulnya dari belakang.

“Hei … dari mana saja? Ini sudah hampir pagi. Dicari-cari tidak ada,” kata Andre.

“Ha-hampir pagi? Aku baru saja sampai di sini,” bantah Avien.

Tetapi Andre segera mematahkan. “Baru saja gimana? Kamu ngambil cokelat lama sekali. Kami mencarimu sampai capek.”

Avien melongo. Andre benar. Matahari mulai memunculkan sinarnya. Berarti tadi dia berjalan cukup jauh dari tenda.

Paginya Avien segera mengajak semuanya pulang. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s