Dongeng

Perang

Gambar terkait

Di tengah samudera yang luas, ada dua pulau kosong yang bertetangga. Pulau timur disebut Timuria, sedangkan pulau tetangganya bernama Baratia. Dahulu kala, kedua pulau ini berpenduduk. Tanah pulau Timuria berbatu karang dan bergunung-gunung, sedangkan Baratia rendah dan subur tanahnya.

Penduduk Timuria bertubuh kuat. Tanah di Timuria tidak bisa untuk bercocok tanam, namun pulau itu memiliki tambang emas, perak dan besi. Penduduknya membuat berbagai macam barang, dari bahan tambang itu, lalu menjualnya ke Baratia. Penduduk Timuria juga pandai membuat kapal.

Penduduk Baratia pandai bercocok tanam dan memelihara lembu. Mereka membeli kapal dari Timuria dan menjual bahan pangan ke Timuria.

Penduduk kedua pulau itu sangat bahagia. Bertahun-tahun mereka hidup saling membantu dan damai. Barang-barang dari logam didatangkan dari Timuria, dan bahan-bahan pangan didatangkan dari Baratia.

Suatu hari, Raja Bong Perkasa dari Timuria memanggil penasihatnya. “Harga lembu sekarang naik. Orang Baratia menjualnya terlalu mahal.”

Penasehatnya menjawab, “Benar, Yang Mulia. Orang-orang Baratia berkata, lembu-lembu mereka terserang penyakit dan sebagian mati. Mereka terpaksa menjual sisanya dengan harga tinggi.”

“Hemh … mungkin saja,” ujar Raja Bong Perkasa. “Tapi, mengapa kita harus beli lembu dari mereka? Bagaimana kalau kita beli sebidang tanah di pulau mereka dan mencoba memelihara lembu sendiri?”

“Itu bisa saja, Yang Mulia. Tapi mana mungkin mereka mau menjual sebidang tanah mereka kepada kita.”

“Kalau tidak mau, kita rebut saja! Kita punya kapal-kapal yang kuat dan siap berperang melawan mereka!”

Dan begitulah keputusannya. Penduduk Timuria segera mempersiapkan diri untuk berperang. Mereka membeli banyak bahan makanan dari Baratia. Sementara penduduk Baratia yang tidak tahu apa-apa, tidak melakukan persiapan apa pun.

Ketika semuanya telah siap, Raja Bong Perkasa mengirim surat kepada Raja Ho Lemah Lembut dari Baratia. Surat itu berisi, ‘Raja Ho Lemah Lemut, kami ingin membeli sebidang tanah di Pulau Baratia, supaya kami bisa memelihara lembu sendiri. Berapakah harganya? Raja Bong Perkasa dari Timuria.’

Setelah seminggu, jawaban dari Raja Ho Lemah Lembut pun datang, ‘ Raja Bong Perkasa, kalian tidak bisa memilikinya! Kami tidak mau menjualnya! Raja Ho Lemah Lembut dari Baratia.’

Raja Bong Perkasa sangat marah ketika membaca surat itu. “Sekarang kita harus berperang. Orang-orang Baratia tidak mau menjual sebidang tanah mereka. Jadi kita akan merebut seluruh pulau mereka!” katanya berapi-api kepada penasihatnya.

“Ya, kita bunuh saja Raja Ho Lemah Lembut, Sehingga Raja Bong Perkasa akan menguasai kedua pulau ini,” jawab si penasihat.

Kemudian diumumkanlah perang! Raja Bong Perkasa memerintahkan agar semua kapal dipersiapkan. Serdadu-serdadu perang pun segera berlayar ke Baratia. Penduduk Baratia sangat terkejut, melihat kapal-kapal perang Timuria. Mereka pun segera bersiap menghadapi serbuan pasukan Timuria.

Maka terjadilah perang yang sangat dasyat dan panjang. Pasukan Timuria ternyata tidak bisa menang dengan mudah. Orang-orang Baratia melawannya dengan gigih. Korban pun berjatuhan di kedua belah pihak.

Pada suatu hari, peperangan dihentikan. Mereka berdiam di kubu masing-masing, memikirkan siasat perang selanjutnya. Raja Bong Perkasa memerintahkan semua laki-laki Timuria datang dan berperang, kecuali orang-orang lanjut usia. Beberapa hari sekali, kapal-kapal datang membawa laki-laki Timuria.

Perang pun dimulai lagi. Kali ini dalam pertempuran yang hebat, Pasukan Baratia kalah. Raja Ho Lemah Lembut gugur. Raja Bong Perkasa pun gugur pada hari berikutnya. Penduduk Baratia tinggal sedikit. Para wanita dikerahkan membantu pasukan pria.

Beberapa hari kemudian, pasukan Timuria menyerah dan kembali ke pulau mereka.
Orang-orang Timuria menunggu kiriman bahan makanan dari Baratia, seperti biasanya. Tapi, ternyata lembu-lembu di Baratia mati karena orang-orang sibuk berperang. Ladang-ladang mereka pun kering, karena dijadikan ajang pertempuran. Timuria terancam kelaparan, karena persediaan bahan makanan mereka tinggal sedikit.

Akhirnya, mereka berniat untuk tinggal di Baratia dan bercocok tanam sendiri. Mereka kembali berlayar ke Baratia, mencoba menanam berbagai tumbuhan. Tapi, mereka tidak berbakat. Tanaman mereka tidak bisa tumbuh. Satu persatu dari mereka jatuh sakit, karena kekurangan makanan. Jumlah mereka semakin lama semakin berkurang. Dalam beberapa tahun, tidak ada lagi orang-orang Timuria yang tersisa.

Sekarang Baratia dan Timuria menjadi gurun pasir yang tandus. Andai saja Raja Bong Perkasa dari Timuria tidak memulai peperangan, tentu kedua pulau itu masih penuh dengan orang-orang bahagia. Perang memang sangat mengerikan. Semua itu gara-gara permusuhan yang kecil @@@

 

Mentari, Edisi 280 Tahun 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s