Fabel

Berkelahi Dengan Cermin

Gambar terkait

Di sebuah hutan belantara, tinggallah seekor Harimau yang sangat besar. Binatang-binatang seperti gajah, Kucing, Domba dan Kijang begitu mendengar suaranya saja, sudah tentu lari terbirit-birit. Karena takut kalau dimangsa. Hal ini membuat Harimau menjadi semakin sombong, karena merasa dirinya paling kuat dan paling ditakuti, di seantero hutan. Tapi sebaliknya, penghuni yang lain menjadi sangat terganggu, ketenteraman hidupnya.

Suatu hari, berkumpullah segenap penghuni rimba itu untuk bermusyawarah guna mencari jalan, untuk menghukum harimau yang semakin sombong itu.

“Kita keroyok saja dia!” usul Serigala.

“Wah, itu kurang tepat!” sahut Kelinci.

“Meski pun kita juga yang akhirnya menang, tapi pasti jatuh banyak korban,” lanjut Kucing.

“Sudahlah, kita tidak usah ribut-ribut. Bukankah hutan di timur cukup luas, dan makanan pun tersedia sangat banyak? Marilah kita pindah dan biar Harimau sendirian di sini!” kata Beruang Kemudian.

“Tapi perlu kalian ingat, hutan di timur itu dekat dengan perkampungan manusia. Huh! Manusia … justru paling jahat, terhadap binatang-binatang seperti kita! Nah … itu perlu kalian perhatikan!” jelas Kelinci.

Sebelum musyawarah selesai, tiba-tiba Kancil lewat di depan kerumunan para binatang itu. Seketika Kancil menghampiri mereka, untuk menanyakan masalah yang tengah dirundingkan itu. Mendadak, terdengarlah suara Kancil memecah kesunyian, “Aku ada akal!”

Semua yang hadir segera menoleh kepada Kancil. Betapa besar harapan mereka, atas usul Kancil. “Maaf, sahabat-sahabat semua. Apabila kalian bertemu Harimau katakan padanya, bahwa aku kini menjadi pertapa yang sangat sakti dan pandai beralih rupa.

Dengan demikian, akulah yang lebih patut menjadi raja, di rimba belantara ini! Jika harimau tidak terima, silahkan menantangku untuk duel. Siapa yang menang akan menjadi raja. di hutan ini. Marilah kita pulang sekarang, aku akan segera mengatur siasatku!” jelas Kancil.

Satu persatu binatang-binatang itu berjalan pulang meninggalkan kancil, yang tengah termenung dengan tenangnya.

Sampai dirumah, Kancil memindahkan cermin besar keluar. Diletakkannya cermin itu, persis di muka pintu masuk, sehingga pintunya tertutup oleh cermin itu. Sedang di dalam kamar, ia membuat lubang yang ditutup dengan papan untuk berlindung, apabila Harimau benar-benar datang dan menantangnya.

Sementara itu, Harimau sudah mendengar berita, jika Kancil menantangnya berkelahi di rumahnya. Tentu saja hatinya menjadi panas dan segera pergi ke rumah Kancil. Sampai di sana, didapatinya rumah Kancil tertutup. Tanpa sabar lagi, ditendangnya pintu rumah Kancil.

“Hai, Harimau, selamat datang! Ternyata kau satria juga. Beberapa hari yang lalu, memang saya pesankan kepada semua penghuni hutan, untuk adu kekuatan denganmu! Tentunya kau belum tahu bukan, bahwa saya sekarang telah jadi hewan yang sangat sakti, juga pandai beralih rupa? Apabila saya kalah denganmu dalam pertarungan nanti, pantaslah bila kau tetap memegang tampuk pimpinan, di hutan belantara ini. Tapi, kalau kau kalah, hentikan kesombonganmu itu!” ujar Kancil.

“Cukup! Akan kusumbat mulutmu Kancil!” teriak Harimau sambil melompat, ke arah datangnya suara. Tapi, dengan terkejut sekali, dia mundur kembali. Sebab, di depannya telah menghadang Harimau lain, yang tidak kalah besar dan garangnya. Tampak dia bergumam, “Benarkah ini siluman Kancil?”

Harimau berniat akan lari saja, meninggalkan musuhnya. Tapi, ketika dilihatnya, beratus-ratus penghuni rimba bersorak sorai di sekeliling rumah, untuk menyaksikan jalannya pertarungan. Niat itu akhirnya diurungkan. Malu dan gengsi, dong.

Ketika itu suara Kancil, “Ayo Harimau, segera majulah! Mari kita buktikan, siapa diantara kita yang paling hebat dan perkasa!”

Mendengar tantangan Kancil yang terus dilontarkan dengan pedas itu, Harimau pun sampai pada puncak kemarahannya. Digerak-gerakkan kakinya, dibukanya mulut lebar-lebar sambil merendahkan diri. Lalu weeerrrrr! Meloncatlah Harimau, menerkam gambarnya sendiri, di cermin. Tentu saja cermin menjadi pecah berantakan., dan bersamaan dengan itu hilang pula ‘Harimau siluman’, yang ada di dalamnya.

Harimau menjadi panik. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari musuhnya yang sebenarnya tidak ada. Sebentar kemudian, darah segar keluar dan menetas dari kepalanya, karena pecahan kaca yang melukai wajahnya, “Wah … hebat benar Kancil ini!” gumam Harimau.

Secepat kilat, Harimau membalikkan badannya, lalu berlari sekuat tenaga meninggalkan gua. Penghuni hutan belantara pun bersorak kegirangan. Mereka bangga akan kehebatan otak Kancil.

Nah, sejak saat itulah, keadaan hutan menjadi tenteram dan damai kembali. Karena, Harimau tidak berani, mengganggu penghuni hutan lagi. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s