Dongeng

Yi, Sang Pembebas

Gambar terkait

Negeri Yao, yang aman dan tenteram, tiba-tiba menjadi kacau. Suatu hari, tampak sepuluh orang anak kecil, sedang bermain-main. Tapi, mereka bukan anak manusia. Mereka adalah anak-anak dari Dewa Matahari, yang turun ke bumi dengan perantaraan pelangi. Mereka beristirahat di cabang-cabang pohon Fu Sang, pohon yang tumbuhnya di atas air dan sangat besar.

Anak-anak Dewa Matahari itu kemudian menuju Yao. Di sana mereka membuat kerusuhan. Seluruh penduduk Negeri Yao ketakutan. Rumah dan ladang hangus terbakar.

Seorang penduduk yang berhasil lolos dari kobaran api, berlari sambil berteriak-teriak ketakutan menuju istana. Kaisar Yao terkejut, melihat kedatangan orang tersebut.“Ada apa?” tanya Kaisar Yao. “Kenapa kau berlari-lari seperti dikejar hantu?”

“Ampunilah hamba, Yang Mulia,” jawab orang itu memohon. “Tolonglah kami, Kaisar Yao. Kami diserang oleh sepuluh anak Dewa Matahari. Mereka membakar dan menghancurkan harta benda kami.”

“Jangan takut. Aku akan segera menolongmu,” kata Kaisar Yao. Kemudian beliau memanggil Yi, pemanah ulung di kekaisaran Yao.

“Yi, tolonglah para penduduk itu. Kerahkanlah seluruh kepandaianmu. Selamatkan Negeri Yao, dari sepuluh anak Dewa Matahari,” titah Kaisar Yao.

“Baiklah, Kaisar. Hamba akan laksanakan,” jawab Yi.

Tanpa pikir panjang, Yi menuju tempat kejadian. Keadaan semakin kacau. Yi merentangkan busur panahnya. Anak panah melesat dan mengenai sasarannya. Dalam sekejab, sembilan anak Dewa Matahari musnah. Hanya satu yang tidak dimusnahkan Yi.

Kaisar Yao melihat Yi menyimpan panahnya kembali. Tinggal empat buah anak panah yang tersisa. Yi sengaja tidak memusnahkan kesepuluh anak Dewa Matahari.

“Biarlah,” kata Kaisar Yao. “Ia harus hidup, sebagai satu-satunya matahari. Karena bila kehilangan dia, dunia akan kegelapan dan kedinginan.

Keadaan Negeri Yao tenteram kembali. Langit biru dan matahari pun bersinar lembut. Rakyat Negeri Yao menyanjung-nyanjung Yi, sang pembebas. Yi, tersenyum dan berlalu dari tempat itu.

Matahari mulai tenggelam. Tapi Yi tidak pernah beristirahat untuk tidur. Senja itu ia melihat seekor burung yang sangat besar, melayang-layang di angkasa.

“Inilah rupanya Burung Badai yang sangat berbahaya. Rumah-rumah penduduk juga sawah dan ladang, rusak dibuatnya. Aku harus memusnahkannya,” ujar Yi.

Yi segera memanjat pohon yang tinggi, untuk memanah burung itu. “Satu anak panahku belum tentu dapat membunuhnya. Aku harus membuat anak panah yang lebih besar dan panjang, untuk membunuhnya,” kata Yi dalam hati.

Kemudian Yi membuat panah itu. Bersamaan dengan selesainya panah itu, terdengarlah suara yang memekakkan telinga. Ternyata, Burung Badai telah datang. Dengan sigap, Yi memanjat pohon dan siap membidikkan panahnya. Burung itu mendekati Yi, sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Anak panah meluncur pesat dan burung yang gagah perkasa itu, jatuh ke tanah. Yi tersenyum puas. Segera diambilnya pedang, lalu memenggal kepala burung itu untuk dipesembahkan kepada Kaisar Yao.

Sembilan anak Dewa Matahari telah mati dan Burung Badai juga telah sirna. Tapi, di Danau Tung Ting tinggal Naga Laut, yang membuat semua penduduk ketakutan.

Atas perintah Kaisar Yao, Yi berangkat menuju Danau Tung Ting. Danau itu sangat luas seperti lautan. Dengan kapal yang sederhana, Yi mengarungi danau itu. Sesampainya di tengah danau, air bergelombang sangat dasyat. Tiba-tiba, Naga Laut muncul. Badannya sangat panjang dan mulutnya menganga lebar, memperlihatkan empat buah taring yang tajam.

Yi lalu menghunus pedangnya dan dikibaskan kesana kemari. Naga Laut menyambutnya dengan buas. Maka, terjadilah pertarungan yang seru. Tak disangka, ekor naga itu menghantam perahu Yi sehingga sang pembebas dari Negeri Yao itu terlempar. Secepat kilat, ia naik ke punggung Naga Laut seraya menghujamkan pedangnya, berkali-kali. Darah mengalir membasahi tubuh Naga Laut. Air danau berubah menjadi merah.

Kini semuanya telah berakhir. Naga Laut telah mati. Yi kemudian membalikkan perahunya, menuju tepi danau. Rakyat menyambut kedatangannya. Mereka mengelu-elukan Yi, sang pembebas. Negeri Yao kembali aman dan tenteram, seperti sediakala. @@@

 

Mentari, Edisi 415 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s