Abunawas

Mendayung Perahu Kandas

 

Gambar terkait

Sesuai namanya, Abu Jahil memang sangat jahil. Ia suka berulah yang menyakitkan hati. Anehnya, kalau ada orang yang sebal karena ulahnya, Abu Jahil kelihatan sangat senang dan puas.

Kali ini, tanpa ada angin tanpa ada hujan tiba-tiba Abu Jahil menempatkan sebuah perahu, di halaman depan rumahnya. Walau tidak seberapa besar, namun perahu itu kelihatan cukup bagus dan indah. Tak heran kalau banyak orang tertarik melihatnya.
Namun, bukan Abu Jahil kalau tidak jahil. Ia sengaja berbuat begitu, agar orang-orang tertatik dan berusaha menaikinya. Kalau sudah ada yang menaikinya, barulah Abu Jahil memainkan rancananya.

Abu Jahil mengintip dari balik kaca jendela rumahnya. Orang-orang sudah banyak yang berkerumun, melihat perahunya. Namun, belum ada satu pun yang berusaha naik. Abu Jahil bersabar menunggu.

Tidak berapa lama kemudian, ada satu orang yang berusaha naik. Begitu satu orang naik, yang lain ikut-ikutan naik. Sekarang, ada lima orang di atas perahu itu. Kesempatan itu tentu tidak di sia-siakan Abu Jahil. Dia langsung keluar rumah dan mendamprat orang-orang yang menaikinya. “Apa-apaan ini?!” gertak Abu Jahil.

“Mengapa perahuku kalian dayung ke tengah laut. Ayo kembalikan lagi di bibir pantai!”
mendengar dampratan Abu Jahil, orang-orang tentu saja terhenyak. Abu Jahil pasti gila, begitu pikir orang-orang. Masak perahu di pekarangan, dibilang di dayung ke tengah lautan. Mereka ingin membantah. Tapi, melihat kemarahan Abu Jahil yang seolah meluap-luap, orang-orang tidak berani bersuara. Melihat orang-orang pada bengong, Abu Jahil menghardik lagi. “Ayo jangan melongo saja!” teriak Abu Jahil. Kali ini lebih keras dari yang pertama. “Ayo dayung lagi kembali ke daratan!” perintahnya lagi.
Dengan rasa ketakutan, orang-orang menuruti perintah Abu Jahil. Mereka mendayung perahu, seolah-olah tengah berada di tengah lautan. Walau pun orang-orang menganggap ini perbuatan gila, namun mereka terpaksa melakukan hal itu.

Setelah mendayung kira-kira setengah jam, Abu Jahil menghentikan perintahnya. “Ya sudah, berhenti! Kita sudah sampai daratan. Kalian boleh turun,” ujar Abu Jahil sambil tersenyum simpul. Dia merasa bangga, sudah bisa ngerjai lima orang yang sangat tolol.
Usai kejadian itu, tentu saja orang-orang yang dikerjai Abu Jahil tidak terima. Mereka mengadu ke Abunawas. Abunawas yang mendengar pengaduan seperti itu, hanya menggeleng-gelengkan kepala keheranan.

“Yang bodoh itu kalian!” kata Abunawas bergurau. “Kok mau saja dibodohi si Abu Jahil?”
“Kami takut, Abu,” elak orang-orang membela diri. “Mata Abu Jahil seolah-olah melotot, hendak menelan kami. Makanya, kami harap kamu bisa membalaskan sakit hati kami.”

“Ya, sudah,” kata Abunawas menyanggupi diri. “Besok, kalian ikut semua ke tempat Abu Jahil. Kita naiki perahunya dan nanti kita kerjai dia, bareng-bareng,” tambah Abunawas. Mendengar bisikan itu, kelima orang tadi tertawa terbahak-bahak.

Keesokan harinya, Abunawas dan lima pengadu datang ke halaman depan rumah Abu Jahil. Mereka seolah-olah mengagumi keindahan perahu. Setelah puas melihat-lihat, Abunawas memberi aba-aba untuk melakukan kegiatan yang dirancang sebelumnya, menaiki perahu itu.

Jebakan Abunawas dan kawan-kawan itu, tampaknya berhasil. Tak berapa lama, Abu Jahil tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Seperti kemarin, Abu Jahil pura-pura marah dan melontarkan dampratan. “Hei, apa-apaan ini?!” teriaknya dengan mata sengaja di bikin melotot. “Mengapa perahuku kau bawa ke tengah lautan? Ayo dayung lagi, kembali ke daratan!!!”

“Baaa … ikkk … baaa … iiik, Jahil,” jawab seorang penumpang seolah-olah ketakutan. “Tapi kau harus ikut naik juga. Soalnya kami tidak tahu arah menuju daratan.”
“Oke, aku ikut naik,” sahut Abu Jahil. “Tapi aku tak sudi ikut mendayung. Aku hanya tunjukkan arahnya saja.”

Setelah berkata begitu, Abu Jahil ikut naik ke atas perahu. Begitu Abu Jahil naik, Abunawas langsung memberi komando kepada kelima penumpang lainnya. “Ayo dayung!” teriak Abunawas bersemangat. Melihat kejadian itu, Abu Jahil tersenyum simpul penuh kemenangan.

Sesuai yang direncanakan, kayuhan dayung penumpang perahu semakin lama semakin kuat. Seolah mendayung di tengah lautan yang sesungguhnya. Hingga pada saat yang ditentukan, Abunawas berteriak keras, “Awaaaasssssssssss … ssssssssssss!!!”

Seiring dengan teriakan Abunawas, lima penumpang langsung melompat, turun dari atas perahu. Saat yang sama, Abunawas mendorong Abu Jahil keluar dari perahu sekuat tenaga, sehingga dia terjerembab ke atas tanah. Saking kerasnya dorongan itu, muka Abu Jahil babak belur dibuatnya.

Diperlakukan seperti itu, tentu saja Abu Jahil berang. Dia mengumpat Abunawas habis-habisan.

“Aduh! Apa-apaan ini?!! Kalian sengaja mencelakai aku, ya?!!!” omel Abu Jahil sembari mengepalkan tangan, hendak meninju Abunawas. Tapi, Abunawas segera berkelit dan berusaha menangkan Abu Jahil.

“Sabar, Jahil,” kata Abunawas. “Mengapa kau tidak berterima kasih, tapi malah menyalahkan aku? Apakah kau tidak tahu, di depan ada batu karang dan perahu kita hendak menabraknya? Kalau kau tidak kudorong ke tengah laut, tubuhmu pasti hancur terhempas batu karang, betul tidak?!”

Mendengar penuturan Abunawas, mulut Abu Jahil terdiam seribu bahasa. Dia terjebak dengan permainannya sendiri. Dia merasa kena batunya, di hadapan Abunawas. Dia benar-benar kapok dan tidak ingin berbuat jahil lagi, di depan Abunawas. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s