Dongeng

Gaun Pesta Peri Lila

Hasil gambar untuk gambar kartun pesta peri

Tak lama lagi, Ratu Reri akan mengadakan pesta. Semua peri akan berkumpul di sepanjang tepian sungai Naria. Di malam pesta nanti, tempat itu akan dihias dengan cahaya ribuan kunang-kunang. Kilaunya akan memantul seperti ribuan bintang tertanam di dasar sungai. Tak ada satu pun peri yang berniat tak datang. Demikian juga Peri Lila.

Jauh-jauh hari, Peri Lila telah menyiapkan sehelai gaun hijau lembut. Gaun itu pemberian Seli si Ulat Sutera. Digantungnya gaun itu di dekat bunga-bunga agar beraroma harum. Lalu, diletakkannya gaun itu di tepi ranjangnya yang terbuat dari bunga mangkokan berisi kapas. Lila ingin menjaga gaunnya setiap saat, agar aman hingga hari pesta tiba.

Pagi itu Peri Lila bangun tergesa-gesa. Ia bertugas membangunkan burung-burung agar mereka berkicau bersamaan saat terbit matahari. Sayangnya, hari ini Peri Lila bangun agak terlambat.

Buru-buru ia mengepakkan sayap lembutnya di sekeliling ceruk pohon tempat tinggalnya. Ia meraih secangkir air madu untuk mengisi perutnya. Cepat-cepat cangkir itu diletakkan di relung kecil pada kulit kayu pohon. Namun … ups! Cangkir mungil itu terjatuh!

“Aaaa!” pekik Peri Lila.

Air madu dari cangkir tadi menetes membasahi gaun hijau di atas ranjang. Peri Lila tak sempat menyelamatkan gaunnya. Buru-buru ia mengibas cairan manis itu dari gaunnya. Namun, ia lalu teringat pada tugasnya.

“Ah, nanti saja kubersihkan!” pikirnya, lalu bergegas mengepakkan sayapnya keluar dari lubang pohon itu.

Peri Lila lalu mulai membangunkan burung-burung untuk bernyanyi.

Setelah tugasnya selesai, Peri Lila cepat-cepat pulang. Namun … Astaga! Betapa terkejutnya ia melihat barisan panjang semut mengerubungi cairan manis yang tumpah di gaunnya.

“Apa yang kalian lakukan?!” jerit Peri Lila marah.

Para semut menjawab, “Kami sedang mengumpulkan makanan.”

Ups! Peri Lila kembali melotot. Tampak ada beberapa lubang di gaun hijaunya. Peri Lila benar-benar marah, “Bagaimana aku harus pergi ke pesta Ratu Peri dengan gaun seperti itu?”

Semut-semut memandangi gaun itu dengan perasaan bersalah. Tadinya mereka hanya ingin mengambil air madu yang menempel disana. Tetapi cairan manis itu meresap begitu kuat pada gaun. Tidak ada jalan lain bagi para semut untuk mengambil madu sekaligus dengan kainnya. Mereka segera meminta maaf dan pergi. Tetapi gaun itu terlanjur rusak.

Peri Lila benar-benar kecewa. Ia tak mungkin datang ke pesta istimewa itu dengan memakai rangkaian daun seperti biasanya. Sambil menangis, ia terbang melintasi jalan setapak menuju tepian hutan. Diatas sebuah pohon, ia berhenti dan duduk termenung. Semua peri akan datang ke pesta, kecuali aku, pikirnya gundah.

“Siapa namamu, Peri? Kenapa kau terlihat sedih?” sapa sebuah suara.

Peri Lila mencari-cari arah datangnya suara. Ternyata Bu Laba-Laba yang menyapanya.

Peri Lila menceritakan masalah gaunnya yang berlubang.

“Apakah kau harus mengenakan gaun itu?” tanya Bu Laba-Laba.

“Tentu saja. Aku sangat menghormati Ratu Peri. Aku tak mau datang mengenakan pakaian sehari-hari,” sahutnya gusar.

Bu Laba-Laba berjalan mendekatinya, melewati jaring-jaringnya yang kuat.

“Yang kumaksud, apakah kau mau jika kubuatkan gaun baru?” tanyanya lagi.

Peri Lila keheranan. Ia lalu mengangguk ragu. Bu Laba-Laba tersenyum. Ia lalu mulai memintal secepat ia membuat rumahnya sendiri. Tak lama kemudian, sebuah gaun dari bahan jaring laba-laba telah siap di hadapan Peri Lila.

“Ah, terima kasih Bu Laba-Laba, tetapi…,” Peri Lila tak melanjutkan ucapannya. Ia tak mau menyinggung perasaan Bu Laba-Laba.

“Terlalu sederhana, ya?” tanya Bu Laba-Laba penuh perasaan.
Peri Lila mengangguk.

“Bawalah gaun ini pada Peri Embun. Ia bisa memperindah gaun ini,” saran Bu Laba-Laba. Peri Lila menurut.

“Terima kasih, Bu Laba-Laba!” serunya, lalu terbang membawa gaun itu ke rumah Peri Embun. Setiba di sana, dengan ragu ia mengulurkan gaun jaring laba-laba tadi.

“Wah, ini gaun pestamu, ya?” tanya Peri Embun riang.

“Iya, kata Bu Laba-Laba, kau bisa memperindah gaun ini,” kata Peri Lila.

Peri Embun tersenyum. Ia menggeser tangannya dengan lembut keseluruh permukaan gaun. Ajaib! Di seluruh gaun itu kini tersemat butiran-butiran jernih embun bening.

Terakhir Peri Embun mengetuk tongkatnya pada gaun itu. Seketika embun-embun itu mengeras dan berkilau bagai berlian.

Peri Lila sangat gembira melihatnya. “Terima kasih Peri Embun.”

Sambil tersenyum lebar ia membawa pulang gaun barunya itu. Ia yakin, gaunnya itu pasti tampak istimewa di pesta Ratu Peri. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s