Cerita Anak

Sepak Bola

Hasil gambar untuk gambar kartun bermain sepakbola

Azhari paling suka sepak bola. Setiap sore, ia selalu bermain olah raga paling terkenal di dunia ini, bersama teman-temannya. Walau hanya memakai kaus seadanya dan tanpa sepatu.

Suatu hari, terdengar berita sebuah klub sepak bola terkenal di Kalimantan Selatan, Barito Putera Junior, membuka penerimaan pemain baru. Banyak anak-anak yang mendaftarkan diri, sebagai calon pemain.

“Kau sudah mendaftarkan diri?” tanya Fauzan.

“Tidak,” jawab Azhari.

“Ini peluang terbaik, untuk mewujudkan cita-citamu, menjadi pemain bola terkenal,” kata Fauzan.

“Azhari kan tidak punya kostum khusus sepak bola, sehingga tidak mungkin bisa ikut seleksi,” potong Eky.

Kemudian dengan pongahnya Eky bercerita panjang lebar, tentang harga kostum, sepatu dan perlengkapan sepak bola lainnya, yang harganya serba mahal.

Azhari diam. Ia membayangkan betapa enaknya Eky, anak seorang pedagang emas. Apa pun yang Eky inginkan, selalu dikabulkan oleh ayahnya, termasuk untuk membeli kostum, sepatu dan aksesoris sepak bola lainnya. Beda dengan dirinya, anak seorang tukang bangunan, yang uang jajan saja terkadang ada dan terkadang tidak ada.

“Begini saja,” ucap Fauzi sambil menarik tangan Azhari. “Kamu kan telah menerima beasiswa subsidi BBM. Uang itu bisa kau gunakan untuk bayar pendaftaran, beli kostum dan sepatu,” ucap Fauzan.

Azhari tersenyum, mendengar saran yang cukup menarik itu. Namun, tiba-tiba ia teringat pesan kepala sekolah. Uang tersebut untuk keperluan belajar, seperti membeli buku, pensil, tas dan sebagainya. Azhari kembali lesu.

“Tidak usah risau, kau sudah kudaftarkan,” ucap Rida tiba-tiba. “Ini nomor pendaftarannya.”

“Tapi …?” sela Azhari.

“Kostum dan sepatu, maksudmu?” tanya Fauzan.

“Pakai saja punyaku,” ucap Rida.

“Terima kasih. Kau baik sekali,” ucap Azhari.

Hari H seleksi tiba, beberapa anak sudah menunjukkan kebolehannya masing-masing. Azhari mendapat giliran tampil paling akhir. Ini sangat menguntungkan, sebab ia bisa mengambil pelajaran dari penampilan kawan-kawannya terdahulu. Selain itu, ia bisa memakai kostum, sepatu dan perlengkapan sepak bola, yang baru dipakai Rida.

Dalam uji coba, Azhari mempermainkan bola dengan bagus sekali. Dua orang penjegal, siap menghadangnya. Berkat kepiawaiannya, keduanya terkecoh dan hampir terjatuh.

Kontan saja emosi kedua penjegal mulai meningkat, bahkan sikap kasar mulai mereka perlihatkan. Namun, Azhari tetap tenang dan membawa bola dengan gesit. Ia lalu mengoper bola ke arah temannya, yang berdiri bebas. Temannya memanfaatkan peluang yang sangat sempit, dengan menendang bola ke arah gawang. Gol!!

“Penampilan Azhari payah,” komentar Eky, saat ia dan teman-temannya menunggu hasil seleksi.

“Kenapa” tanya Rida.

“Ketiga dijegal, malah menghindar dan tidak berani duel. Itu namanya bukan pemain sejati,” ucap Eky. “Seperti tadi, mestinya bola tidak perlu dioper lagi, langsung tendang ke arah gawang lawan. Sebab sebagai pencetak gol, pasti lebih tinggi nilainya dari pada pengoper,” lanjut Eky.

“Terserah kaulah. Yang jelas, menurutku permainan sepak bola tidak hanya mengandalkan kekuatan dan keberanian. Tapi juga kerja sama yang baik,” kata Azhari.

“Aku setuju itu,” ucap Rida

Tidak lama kemudian, sekretaris panitia maju ke podium, untuk mengumumkan hasil seleksi. Para peserta Nampak tegang. Besar harapan mereka, agar bisa diterima. Tidak terkecuali Azhari. Ia tertunduk dengan mulut komat-kamit.

Azhari melompat kegirangan, saat namanya disebut sebagai satu-satunya siswa SDN Paliwara I, yang diterima. Ia mendapatkan ucapan selamat yang bertubi-tubi dari teman-temannya. Sementara itu, diam-diam Eky menghilang.

“Kemana si Eky itu?” tanya Rida ketika ia tidak melihat Eky.

“Entahlah,” sahut Azhari.

Tapi, tidak lama kemudian, Eky balik lagi dan mendekati Azhari.

“Selamat, ya! Maafkan ucapanku yang sering menyakitkan hatimu,” ucap Eky. “Kurasa barang-barang ini lebih berguna di tanganmu,” lanjutnya, sambil menyerahkan kostum sepak bola beseta perleng-kapannya, yang msih baru.

Azhari memaafkannya dan menerima pemberian dari Eky dengan senang hati. @@@

 

Mentari, Edisi 367 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s