Dongeng

Zuska yang Malas

 

Hasil gambar untuk kartun lucu

Suatu ketika tinggallah satu keluarga yang sangat miskin. Keluarga itu terdiri dari seorang ibu dan seorang anak gadis yang bernama Zuska. Mereka tidak mempunyai harta sedikit pun. Satu-satunya cara mencari nafkah dengan memintal kapas menjadi benang.

Zuska seorang gadis yang cantik dan baik. Cuma ada satu kekurangannya, dia sangat malas memintal. Setiap kali ibunya memerintahkannya memintal, dia menangis tersedu-sedu. Bila ibunya memaksa, dia akan menangis lebih keras lagi. Karena marah, ibunya terpaksa memukulnya. Zuska menangis sangat keras, sehingga terdengar sampai jauh sekali.

Pada saat Zuska sedang menangis, seorang Ratu kebetulan lewat di depan rumahnya. Sang Ratu mendengar Zuska menangis. Dia kemudian, memerintahkan saisnya berhenti.
“Sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi.”

Sang Ratu mendatangi rumah itu. “Apakah gerangan yang terjadi, sayangku?” tanya Ratu, lembut.

Ibu Zuska terkejut ketika melihat seorang Ratu mengunjungi rumah reotnya. Ibu Zuska tidak ingin sang Ratu mengetahui kejadian yang sesungguhnya.

“Oh, Sang Ratu. Hamba mempunyai seorang anak gadis yang tidak mau melakukan hal lain selain memintal dan memintal. Pada hari ini, hamba memerintahkannya agar beristirahat. Hamba khawatir terlalu lelah dan kemudian jatuh sakit, karena bekerjanya terlalu keras. Tetapi, putrid hamba tidak mau berhenti bekerja. Hal itu membuat hamba kesal dan memukulnya.”

Ratu membujuk ibu yang miskin itu agar memberikan anaknya padanya.

Di istana, Sang Ratu mengajak Zuska masuk ke dalam tiga ruangan yang penuh dengan serat-serat kapas berwarna keemasan.

“Jika dapat bekerja dengan baik dan dapat memintal seluruh kapas yang ada dalam tiga ruangan ini, maka kau akan kunikahkan dengan putraku. Kau akan menjadi seorang putri di istana ini,” kata Ratu.

Setelah itu, Ratu segera meninggalkan Zuska sendirian dalam ruangan itu. Zuska yang malang itu tahu bahwa dirinya tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan itu, sampai akhir hayatnya. Zuska terlalu malas, sehingga tidak satu pun bisa dipintalnya. Zuska menangis sepanjang malam, hingga matahari terbit, tanpa mengerjakan apa-apa.

Siang harinya, Ratu kembali untuk melihat hasil pekerjaan Zuska. Namun, betapa terkejutnya sang Ratu saat melihat Zuska belum mengerjakan apa pun.

“Maafkan saya, Yang Mulia. Saya belum pernah jauh dari rumah. Saya kesepian dan rindu pada ibu, sehingga tidak dapat bekerja,” kilah Zuska.

Sang Ratu memahami perasaan Zuska. Dia memaafkannya. Hari berikutnya, Ratu datang kembali. Dia menjadi marah, karena Zuska masih belum dapat hasil apa-apa.
“Dengarlah, Zuska yang malas. Ini peringatan terakhirku. Bila sampai besok kau belum memintal, kau akan kupenjara di dalam gua yang penuh ular, cacing dan kau tidak akan kuberi makan!”

Zuska merasa cemas mendengar ancaman hukuman dari Ratu. Dia gemetar ketakutan bila membayangkan akan dikurung dalam gua. Zuska yang malang itu mencoba memintal. Tapi tak satu pun yang terpintal. Zuska putus asa dan menyerah.

Tepat pada saat matahari terbenam, Zuska mendengar ketukan di jendela. Zuska segera menyalakan lilin dan melihat tiga wanita dengan wajah buruk. Yang pertama, mempunyai bibir sangat besar. Yang kedua, mempunyai ibu jari yang sangat besar. Dan yang ketiga mempunyai kaki yang sangat besar. Walau pun ketiganya buruk rupa, tetapi mereka bersedia membantu Zuska. Dengan syarat, Zuska bersedia mengundang mereka pada saat pernikahannya dengan Pangeran dan memperbolehkan mereka duduk satu meja dengan Zuska, tanpa rasa malu dengan keadaan mereka. Zuska bersedia asal mereka mau memintalkan serat-serat kapas yang ada di ketiga ruangan itu.

Saat pagi tiba, Zuska melihat gulungan kapas itu telah terpintal menjadi benang. Ketiga ruangan itu penuh dengan gulungan benang. Begitu cepat ketiga wanita itu bekerja. Zuska berterima kasih kepada ketiganya. Karena mereka, Zuska lolos dari hukuman sang Ratu.

Akhirnya, hari pernikahan tiba. Seluruh bangsawan dan para undangan menghadiri pesta meriah itu. Saat makan malam tiba, mereka duduk semeja. Hidangan-hidangan yang lezat telah ditata di atas meja. Tiba-tiba, pintu terbuka. Disana berdiri ketiga wanita buruk rupa yang telah membantu Zuska.

Zuska berdiri menyambut mereka dan mempersilahkan ketiganya duduk semeja dengan Zuska dan Pangeran. Para bangsawan dan undangan yang hadir saling pandang. Mereka ingin menertawakan keburukan ketiga wanita itu. Tapi, tak ingin seorang pun membuat Pangeran marah.

Saat makan malam selesai, Pangeran menghampiri ketiga wanita buruk rupa itu. “Wahai ketiga wanita yang baik, apakah yang telah kalian lakukan, sehingga berbibir besar, beribu jari besar dan berkaki besar?” tanya Pangeran.

Ketiganya menjawab serempak, “Karena memintal, Pangeran. Karena memintal.”

Mendengar jawaban ketiga wanita tersebut, Pangeran merasa khawatir Zuska yang cantik akan menjadi buruk rupanya bila sering memintal. Maka, Pangeran memerintahkan Zuska tidak menyentuh alat pintal dan tidak memperbolehkan memintal sampai kapan pun.

Zuska merasa sangat bahagia mendengar perintah Pangeran. Ia berterina kasih pada ketiga wanita buruk rupa, yang telah banyak membantunya. Setelah Zuska selesai mengucapkan terima kasih, ketiga wanita tersebut lenyap, tanpa seorang pun tahu kemana mereka pergi.

Zuska dan Pangeran hidup bahagia. Dan, Zuska tidak pernah lagi menyentuh pemintal yang dibencinya.

 

 

Dari buku Never Give Up dengan Judul Lazy Zuska
Karya Ziata Paces, Holt, Rinehart and Winston Inc, 1973