Fabel

Hilangnya Sarang Elang

Hasil gambar untuk gambar kartun elang

Di angkasa tampak sesuatu membelah langit. Itulah seekor Elang yang sedang terbang. Usai menemukan makanan untuk anak-anaknya, ia bermaksud kembali ke sarangnya. Jika tidak cepat pulang, telur-telurnya tidak akan menetas serta anak-anaknya akan kelaparan.

Beberapa saat kemudian, Elang telah tiba di atas hutan tempat sarangnya. Ia berputar-putar sebentar, untuk mencari pohon tempat menaruh sarangnya. Tidak lama matanya yang tajam pun menemukannya. Segera burung berparuh kuat itu menukik.

“Huh! Dimana dua anakku? Tiga telur yang akan kuerami juga tidak ada!” pekik Elang terkejut.

Elang berpikir sejenak mencoba mengira-ngira. “Mungkin karena ada gempa, telurku jatuh,” kata Elang tersenyum senang. Ia pun meluncur terbang ke bawah pohon. Namun Elang kembali bersedih, ketika ia tidak menemukan anak dan telurnya.

“Pasti ini semua karena ulah binatang. Berani benar mereka,” kata Elang mulai geram. Ia sangat khawatir dengan anak-anaknya, yang masih tidak berdaya. Demikian pula dengan telur-telur yang akan ia erami.

Elang masih bertengger di sebuah dahan pohon. Ia menduga-duga, siapa kira-kira yang telah mencuri anak dan telurnya. Di saat berpikir, seekor Kera tiba-tiba melintasi pohon tempat sarangnya serambi bernyanyi-nyanyi.

“Aha! Pasti Kera yang pintar memanjat pohon itu, yang telah mengambil anak dan telurku,” terka Elang. Ia segera menukik menghampiri Kera.

“Hei, Kera! Cepat kembalikan dua anak dan tiga telurku!” sergah Elang tanpa basa-basi.
Kera sangat terkejut dengan kehadiran Elang yang tiba-tiba. Ia sampai mundur tiga langkah. “Apa yang sedang kau bicarakan, Elang?” tanya Kera tidak mengerti maksud ucapan Elang.

“Kau jangan pura-pura. Anak dan telurku baru saja hilang. Hanya binatang yang pandai memanjatlah, yang bisa mencurinya. Kau apakan anak dan telurku?” terang Elang marah.

“Oooh … jadi kau menuduhku mengganggu sarangmu. Aku lari tadi bermain dengan Kelinci. Dan baru saja aku melintasi tempat ini. Kau tahu kan, banyak pisang di sana,” sanggah Kera yang tidak merasa mengganggu sarang Elang.

“Ia benar, Elang,” tiba-tiba Kelinci muncul dan menyahut. Rupanya ia telah mengerti permasalahan Elang. “Lagi pula, kau tahu kan, pohon ini banyak dirambati tumbuhan gatal. Jadi mana mungkin kera berani memanjatnya,” tambah Kelinci lagi.

Elang membenarkan perkataan Kelinci. Tapi ia masih bingung, kenapa anak dan telurnya bisa hilang begitu saja. Saat Elang masih kebingungan, ia tiba-tiba melihat Beruang melintasi.

“Hei, Beruang! Berhenti!” teriak Elang keras. Kali ini ia mengira Beruang pelakunya.

“Ada apa, Elang?” tanya Beruang saat sudah berada dekat Elang.

“Telur dan anakku baru saja hilang dari sarang. Pasti kau kan yang mencurinya?” sahut Elang ketus.

“Atas dasar apa kau menuduhku?” tanya Beruang marah.

“Hewan sebesar dirimu, pastilah yang telah menjatuhkan dua anak dan tiga telurku,” jawab Elang.

“Elang, Beruang tidak mungkin menjatuhkan anak dan telurmu. Pohon ini terlalu besar. Jangankan menjatuhkan, untuk menggerakkan pohon ini saja Beruang tidak akan mampu,” Kelinci lagi-lagi menyanggah tuduhan Elang.

Elang kembali membenarkan perkataan Kelinci. Kini ia kian bingung saja.

“Elang, kau seharusnya tidak boleh menuduh sembarangan, tanpa bukti atau saksi yang kuat,” kata Kera menimpali.

“Kera benar, Elang,” dukung Kelinci. “Baru saja kau salah menuduh Kera dan belum minta maaf. Tapi kau sudah salah menuduh lagi,” tambah Kelinci.

“Maafkan aku teman-teman!” ucap Elang menyesal. “Aku begitu khawatir pada nasib dua anak dan tiga telurku. Karena itulah aku tidak bisa mengontrol emosi.”

“Baguslah kalau kau sadar,” kata Beruang senang.

“Sekarang kita cari dua anak dan tiga telurmu,” ucap Kelinci membuat Elang senang, karena dibantu.

“Dimana lagi kita mencarinya?” tanya Elang putus asa.

“Elang, aku merasa ada yang aneh dengan pohon dan sarangmu ini. Sebab, aku juga pernah melihat pohon sebesar ini dengan sarang diatasnya. Persis sekali deh pokoknya. Hanya saja … sepertinya tidak di tempat ini,” urai Kelinci panjang.
“Maksudmu, ada kemungkinan aku lupa dengan sarangku?”
“Mungkin saja. Hanya untuk membuktikan kemungkinan itu, sebaik-nya kamu terbang lagi dan cari dengan lebih teliti, apa ada sarang seperti ini dan di pohon yang sama!” perintah Kelinci. Elang pun langsung mengepakkan kedua sayapnya.

Di ketinggian Elang berputar-putar mencari sarang yang sama. Sejenak kemudian, terukir senyum dari wajahnya. Kemudian ia bergegas menukik turun, menemui Kelinci dan kawan-kawannya.

“Kau benar, Kelinci. Ternyata aku lupa sama rumahku sendiri,” kata Elang yang telah menemukan sarang asli miliknya.

“Apa aku bilang. Syukurlah masalah ini akhirnya selesai. Sekarang aku ingat, seminggu yang lalu ada Elang baru yang membuat sarang disini. Tapi, ingat ya, Elang. Kau tidak boleh sembarangan menuduh lagi,” Kelinci mengingatkan Elang.

“Sekali lagi, maafkan aku, Kera dan Beruang. Ternyata anak dan telurku tidak kemana-mana. Hanya aku saja yang keliru melihat sarang,” ucap Elang.

Kera dan Beruang tersenyum tanda memaafkan. Lalu terbanglah Elang menuju sarang aslinya, yang berisi dua anak dan tiga telurnya. @@@

4 thoughts on “Hilangnya Sarang Elang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s