Cerita Anak

Tante Lia

Hasil gambar untuk gambar kartun keluarga kecil

“Masakan Tante Lia enak sekali,” puji Mimi. Tante Lia tersenyum mendengar komentar Mimi. “Ini bukan masakan Tante. Tante tadi pesan di restoran,” katanya.

“Kok Tante Lia tidak masak sendiri seperti Mama?” tanya Mimi heran.

Sekali lagi Tante Lia tersenyum. “Tante Lia mana sempat? Tante kan harus ke kantor. Nah, kamu jangan nakal ya selama Tante pergi,” kata Tante Lia lagi.
Mimi mengangguk. Dipandanginya adik mamanya itu dengan kagum. Pagi-pagi begini sudah rapi dan cantik. Sejak dulu ia sudah mengagumi Tante Lia. Pakaiannya selalu rapi. Wajahnya selalu segar dengan rias wajah. Tidak seperti Mama yang cuma memakai daster kalau berada di rumah.Wajahnya juga tidak pernah dibedaki kecuali kalau pergi ke pesta.

Pernah Mimi bertanya kepada Mama. “Kok Mama tidak seperti Tante Lia?”

Mama cuma menjawab sambil tersenyum. “Mama kan bukan orang kantor seperti Tante Lia.”

Ugh, asyik juga di rumah sendirian. Bisa bebas nonton televisi. Bisa makan kapan saja dia mau. Bisa tiduran di sofa sambil membaca-baca majalah wanita milik Tante Lia.

Mama harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari. Itu sebabnya Papa menitipkan Mimi di rumah Tante Lia, agar Papa bisa menjaga Mama di rumah sakit.

Mimi sih senang-senang saja. Sebab di rumah Tante Lia yang luas dan bagus ini, dia bisa mendapatkan apa yang tidak diperolehnya di rumah. Buah-buahan yang mahal, kue-kue kering yang enak, makanan yang dipesan di restoran. Ugh. rasanya seperti di …
“Miii ….”

Suara Tante Lia yang keras mengagetkan Mimi yang sedang melamun. Rupanya Tante Lia sudah pulang dari kantor. Bergegas dia menemui Tante Lia.

“Sudah pulang, Tante?” sapa Mimi.

“Ya,” sahut Tante Lia dengan judes, sehingga jantung Mimi sempat berdetak. Mengapa wajah Tante Lia tiba-tiba berubah menjadi judes begitu? Kesalahan apa yang telah dilakukannya?

“Kalau habis membaca majalah letakkan kembali ke tempat semula!” ujar Tante Lia sambil menunjuk majalah yang tergeletak di bawah meja.

Mimi segera menaruh majalah itu ke dalam rak majalah, sementara Tante Lia beranjak ke dalam. Tidak lama kemudian terdengar lagi suaranya.

“Miii …”

Bergegas Mimi mendapatkan Tante Lia. Hatinya menjadi tidak enak mendengar suara Tante Lia yang cempreng itu. Mama tidak pernah bersuara sekeras itu. Mama selalu memanggilnya dengan suara lembut.

“Kalau habis makan, bawa piringnya ke belakang. Jangan dibiarkan di meja seperti itu,” kata Tante Lia lagi seraya menunjuk ke arah meja makan. “Ayo, bereskan piring itu. Kemudian ambil lap dan sapu. Bersihkan mejanya lalu sapu remah-remah nasi yang ada di bawa meja.”

Mimi menggerutu dalam hati. Hilang rasa kagumnya pada tantenya itu. Mama tidak pernah mempermasalahkan majalah atau piring kotor yang ada di atas meja atau di bawah meja. Mama biasanya akan membereskan sendiri benda-benda itu tanpa berkata apa-apa. Tidak seperti Tante Lia yang bisanya cuma memberi perintah. Ataukah Tante Lia tidak suka dia dititipkan di rumah ini?

“Jangan lupa cuci piring kotornya, ya!” kata Tante Lia, kemudian beranjak meninggalkan ruang makan, masuk ke kamarnya.

Mimi masih berdiri di tempatnya. Dia tidak tahu mau berbuat apa. Selama ini dia tidak pernah mengerjakan apa-apa di rumah. Semua dikerjakan Mama sendirian.

“Lho! Kenapa masih berdiri di situ? Mengapa kamu tidak kerjakan apa yang disuruh Tante?” tanya Tante Lia tatkala dia kembali ke ruang makan itu. Kini dia sudah mengganti baju kantornya dengan daster yang manis modelnya. Tante Lia masih tetap kelihatan cantik dengan daster itu.

Tapi dimata Mimi, Tante Lia tidak lagi cantik. Kini Mimi tidak lagi mengagumi tantenya itu. Dia malah berkata dengan keras kepala, “Mama tidak pernah menyuruhku bekerja selama ini,” seru Mimi marah.

“Itu sebabnya Mama kamu sakit,” sahut Tante Lia dengan suara tegas. Sehingga Mimi diam mendengarnya.

“Selama ini Mama kamu terlalu sibuk meladeni kamu, sehingga tidak punya waktu untuk memperhatikan dirinya sendiri,” kata Tante Lia lagi.

Mimi menatap tantenya dengan heran. Dia tidak pernah mengira kalau Mama sakit karena kecapekan. Selama ini Mama selalu kelihatan tersenyum. Selalu mengerjakan pekerjaan di rumah sendirian tanpa pernah mengeluh. Memasak, menyiapkan makan siang dan makan malam untuk mereka sekeluarga, mencuci, menggosok pakaian, dan semua pekerjaan lainnya dikerjakan Mama sendirian. Tetapi Mama selalu kelihatan gembira. Mama selalu punya waktu mendongeng sebelum dia tidur.

“Coba kalau kamu mau membantu mamamu sedikit saja, tentu mamamu bisa sedikit beristirahat. Bisa punya waktu untuk dirinya sendiri. Untuk keluar menemui teman-temannya. Tidak seperti selama ini, mamamu terus sibuk di rumah. Sehingga wajahnya selalu terlihat kusut dan terlihat lelah. Itu sebabnya mamamu sakit,” lanjut Tante Lia.

Mimi menundukkan kepalanya dengan malu. Diam-diam dia mengakui bahwa yang dikatakan tantenya itu benar. Selama ini dia tidak pernah memperhatikan Mama. Dia tidak pernah peduli kalau Mamanya harus memunguti baju seragam, sepatu atau kaus kaki yang dilemparnya secara sembarangan di lantai kalau dia pulang sekolah.

“Nah … Sekarang ayo kamu kerjakan apa yang tante perintahkan tadi. Sesudah itu kamu mandi. Kita menjenguk Mama kamu di rumah sakit, lalu mampir ke restoran untuk makan malam,” kata Tante Lia seraya menepuk bahu Mimi. Suaranya tidak lagi keras seperti tadi. Bahkan lembut, selembut suara Mama. Dia kembali mengagumi tantenya itu. Akh, Tante Lia memang tidak sama dengan Mama, tetapi mereka berdua sama-sama lembut hatinya. @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s