Cerita Misteri

Ada Apa Dengan Kak Fenny?

Hasil gambar untuk gambar kartun dihantui

Kak Sam tersentak kaget, melihat Kak Fenny tiba-tiba kejang dan histeris. “Hai Fen, … tenang! Tenang!” kata Kak Sam berusaha menenangkan. Tapi, kata-kata Kak Sam tak berarti. Kak Fenny tetap menjerit sambil meronta. Tiga orang pria dewasa berusaha memegangi Kak Fenny, tapi mereka kerepotan, karena Kak Fenny menjadi sangat kuat.

“Fenny kesurupan … Fenny kesurupan!” kata beberapa orang.

Kak Fenny mengoceh tak karuan, hingga seseorang datang membawa segelas air, lalu memercikkan isinya ke wajahnya. Kak Fenny langsung lemas dan pingsan.

Beberapa saat kemudian, Kak Fenny siuman. “Terima kasih atas pertolongannya,” kata Kak Fenny singkat. Kak Sam hanya tersenyum.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya Kak Sam penasaran. Kak Fenny terdiam. Kak Sam bingung juga.

“Bayangan itu selalu datang menggangguku … tolong aku Sam!” keluh Kak Fenny mengiba.

“Maksudmu kau melihat hantu?” tanya Kak Sam kemudian. Kak Fenny menangis sambil menggeleng dan pergi begitu saja.

Sejak peristiwa itu, perangai Kak Fenny mendadak berubah. Ia menjadi sangat pendiam dan pemurung. Kak Fenny adalah sepupu Kak Sam. Dulunya, ia tinggal bersama Nenek dan Bibi, di Jawa Barat. Semenjak Nenek wafat, Kak Fenny kini tinggal bersama Kak Sam.

“Apa mungkin dia benar-benar melihat hantu?” tanya Kak Sam pada seorang kawannya, yang seorang dokter.

“Entahlah, tapi aku yakin Fenny punya masalah serius, yang mengganggu perasaannya. Cobalah kau ajak dia bicara,” kata dokter itu. Kak Sam mengernyitkan dahinya. Ia merasa Kak Fenny berubah sikap, setelah beberapa hari meninggalnya Pak Arya.

Pak Arya dulunya adalah seorang tukang kebun di rumah Nenek. Orangnya sudah tua, tapi kerjanya masih giat. Pak Arya sangat pendiam, sehingga banyak orang segan padanya. Setelah 25 tahun bekerja pada Nenek, tiba-tiba dia dikeluarkan begitu saja.

Semenjak itu, kabarnya Pak Arya langsung sakit-sakitan, hingga akhirnya meninggal dunia. Anehnya, tidak lama kemudian Nenek juga meninggal.

“Fen … yuk minggu depan kita ke Jawa Barat. Jalan-jalan ke rumah Bibi, sambil nengok keluarganya Pak Arya. Sudah lama banget Kakak nggak pernah main ke sana,” kata Kak Sam pada Kak Fenny. Aneh, tiba-tiba Kak Fenny langsung menangis, semakin lama semakin menjadi.

“Kak Sam … aku berdosa! Aku berdosa besar … aku nggak ngerti harus bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Aku menyesal … aku menyesal!” kata Kak Fenny kemudian. Kak Sam semakin bingung.

Kak Sam duduk di dekat Kak Fenny. “Tenanglah … tenang. Cobalah kau bicara tenang dan ceritakan semuanya,” kata Kak Sam berusaha menenangkannya. Sambil tertunduk menahan tangisnya, Kak Fenny memulai ceritanya. Ternyata, Pak Arya dipecat Nenek, gara-gara ulah Kak Fenny.

“Waktu itu aku berbohong pada Nenek, kalau yang mengambil kalungnya adalah Pak Arya. Padahal akulah pencuri kalung Nenek yang sebenarnya. Maafkan aku … aku khilaf … aku berdosa!” cerita Kak Fenny, sambil terbata-bata.

“Gila … setega itu kau memfitnah Pak Arya! Buat apa kau mencuri kalung Nenek?” selidik Kak Sam kesal.

“Aku terpaksa! Suatu ketika, aku pinjam sepeda motor teman. Dasar sial, aku jatuh dan sepeda motor itu rusak. Aku bingung dan takut. Aku harus bertanggung jawab, mau ngomong langsung sama Nenek pasti dimarahi, begitu pula pada Bibi. Semuanya pasti marah padaku, karena dari semula mereka telah melarangku mengendarai motor, seorang diri. Ketika masuk ke rumah, kulihat kalung Nenek diatas lemari. Timbul niat jahat untuk mengambil dan menjualnya. Uang itu kugunakan untuk memperbaiki sepeda motor kawanku, yang rusak berat. Untuk melindungi diri, aku lalu menuduh Pak Arya yang mengambil kalung Nenek. Tentu saja Nenek marah besar, karena kalung itu adalah peninggalan mendiang Kakek,” cerita Kak Fenny sambil terbata.

“Terlalu! Karena kejahatanmu itu, kau sudah merusak kehidupan Pak Arya!” kata Kak Sam dengan nada tinggi.

“Ya. Aku malu dan menyesal. Setelah Pak Arya meninggal, bayangannya seakan menghantuiku. Aku dikejar dosa … aku bersalah!” sesal Kak Fenny.

Beberapa hari kemudian, Kak Sam dan Kak Fenny akhirnya ke Jawa Barat mengunjungi keluarga Pak Arya. Ia menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan, yang telah diperbuatnya. Kak Fenny lalu memberikan santunan, pada keluarga Pak Arya.

Semenjak saat itu, Kak Fenny tidak pernah lagi kejang-kejang dan ketakutan lagi. Ia sudah tenang. Kesalahan selamanya tidak akan bisa benar, jika tidak ada usaha untuk memperbaikinya. @@@

 

Mentari, Edisi 368 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s