Abunawas

Mengeringkan Laut

 

Hasil gambar untuk gambar kartun laut

Pada suatu pagi, saat Abunawas duduk-duduk di depan teras rumahnya, muncullah menteri Abudahi, sambil tersenyum penuh kelicikan. Abunawas menatap dengan penuh was-was.

“Selamat pagi, Abunawas. Ada tugas baru dari Baginda,” kata Abudahi, terus duduk di samping Abunawas.

“Pasti kau yang berulah, Menteri Abudahi,” kata Abunawas dalam hati.

“Baiklah. Aku akan ke istana, Tuan Abudahi,” jawab Abunawas.

Saat itu juga, Abunawas bersama Menteri Abudahi berangkat menuju istana. Di beranda, Baginda telah menunggu.

“Apa kabar, Abunawas?” kata Baginda Harun.

“Hamba senantiasa baik-baik saja, ya Paduka,” jawab Abunawas seraya mengambil tempat duduk, bersila di hadapan Baginda Harun Alrasyid.

“Ada tugas baru yang harus kau lakukan, hai Abunawas.”

“Hamba senantiasa siap melaksanakan. Tugas apakah yang akan dilimpahkan kepada hamba?”

“Laut kita sudah terlalu kotor. Untuk itu, kita harus mengeringkannya, sehingga mudah untuk membersihkannya …”

“Lalu, apakah hamba yang diperintahkan untuk mengeringkannya?” tanya Abunawas, agak ragu.

“Tentu saja. Siapa lagi orang yang dapat melakukannya, selain tuan Abunawas yang cerdik,” celetuk Menteri Abudahi, dengan senyum penuh kemenangan.

Abunawas memandang pada Baginda yang tersenyum, sambil mengangguk-angguk tanda setuju akan perkataan Abudahi.

“Baiklah. Hamba akan melakukannya,” jawab Abunawas penuh percaya diri, walau sesungguhnya ia amat gelisah.

“Kapan pekerjaan itu dimulai?” tanya Baginda.

“Besok pagi, begitu mentari mulai bersinar.”

“Bagus!”

***

Keesokan hari, saat mentari bersinar terang, Abudahi terjaga dari tidurnya karena mendengar suara gaduh di sekitar rumah. Ketika dia melongokkan kepala keluar jendela, alangkah terkejutnya melihat halaman rumahnya sudah berlubang besar.

“Hah, apa yang terjadi? Mengapa pagar rumahku roboh?!” teriak Abudahi, yang segera keluar dari kamar tidurnya dengan tergesa-gesa.

“Apa yang kalian lakukan …!!!???” semprot Abudahi, ketika melihat orang-orang yang bekerja menggali lubang itu, yang diperintah langsung oleh Abunawas.

Abunawas berpura-pura tidak melihat dan mendengar teriakan Abudahi.

“Terus gali! Robohkan rumah-rumah berikut istana Raja!” teriak Abunawas, lebih keras dari teriakan Abudahi.

Mendengar perintah Abunawas kepada para pekerja, Abudahi ketakutan. Iangsung mengenakan bajunya, dan berlari menuju istana.

“Baginda …! Baginda …! Saya laporrrr! Saya laporrr!”

“Iiiya. Ada apa Abudahi?”

“Si … si … si … Abunawas, dia telah berbuat gila!” kata Abudahi gugup dan badannya gemetaran.

“Maksudnya apa? Apa yang telah dilakukan Abunawas?” tanya Baginda, ikut-ikutan bingung.

“Dia telah memerintahkan orang-orang untuk menggali tanah di halaman rumah hamba dan selanjutnya istana ini juga akan dirobohkan!”

“Apa!? Dimana dia sekarang?”

“Di rumah hamba …”

“Baik. Mari kita kesana. Sekalian aku mau buktikan kebenaran ceritamu,” sahut Baginda Harun.

Maka bergegaslah kedua orang itu menuju tempat Abunawas, dikawal dengan beberapa prajurit istana.

Raja benar-benar tercengang, melihat lubang besar dihalaman rumah Abudahi.

Abunawas tetap saja pura-pura tidak melihat kehadiran Baginda Harun beserta rombongannya. Ia kembali berteriak, “Buat lubang sebesar-besarnya, hingga ke istana.”

“Hai, Abunawas! Abuuuuu!” teriak Baginda Harun.

“Ya, Tuanku,” sahut Abunawas sambil berlari mendekat.

“Apa yang kau lakukan?”

“Bukankah Baginda Harun perintahkan kepada hamba, untuk mengeringkan laut?” tanya Abunawas dengan wajah pura-pura keheranan.

“Benar. Tetapi mengapa kau buat lubang besar?”

“Ooh … itu. Untuk tendon air, Baginda. Tendon air ini saya buat untuk menampung air laut yang segera hamba timba, agar kering. Jika tidak ada tempat pembuangan, niscaya negeri ini akan kebanjiran, sehingga rakyatlah yang menderita,” sahut Abunawas.

“Tidak! Tidak! Hentikan! Hentikan!” terdengar teriakan Abudahi sambil menangis, melihat rumahnya mulai rusak.

“Ya! Hentikan semuanya, Abunawas!” kata Baginda Harun kemudian.

“Tapi, hamba harus menyelesaikan pekerjaan ini. Bukankah Baginda yang memerintahkan?” tanya Abunawas dengan tersenyum.

“Sudahlah. Ambillah hadiahmu di istana, sekarang. Dan suruh orang-orang itu untuk mengurug kembali lubang itu,” bisik Baginda Harun.

Abunawas tersenyum sambil tertawa kecil, saat melihat celana Menteri Abudahi basah kuyub.

“Makanya, jangan suka merugikan orang lain, hai Abudahi,” kata Abunawas dalam hati.

 

Mentari, Minggu I – Juli 2001 – Tahun XIX

5 thoughts on “Mengeringkan Laut”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s