Cerita Anak

Dinda Tidak Malu Ayah Mengendarai Motor Buntut

Hasil gambar untuk gambar kartun seeda motor buntut

“Yah, motornya diganti dong dengan yang baru,” rajuk Dinda kepada ayahnya. Ayahnya melirik sambil tetap membaca Koran.

“Diganti dengan yang baru bagaimana, Din?” tanya Ayah Dinda.

“Terserah. Pokoknya yang terbaru, gitu lho, Yah.”

“Memangnya motor ayah yang ini kenapa?” tanya Ayah Dinda lagi.

“Sudah kuno, Yah. Ketinggalan zaman. Masa sejak Dinda lahir sampai segede ini, motor ayah belum ganti juga. Padahal motor tetangga kita sudah ganti semua. Dinda malu, Yah, dibonceng dengan motor buntut ini,” keluh Dinda setengah memaksa. “Ganti yang baru, Yah …”

Pak Yanto, Ayah Dinda, menurunkan Koran yang dibacanya. Ditatapnya wajah anak bungsunya itu dengan penuh kasih. “Apa Dinda malu karena diejek teman-teman?”
Dinda menggeleng.

“Kalau tidak ada yang mengejek, mengapa mesti malu?” tanya Ayahnya lagi. Dinda merengut. “Masa ganti motor harus tunggu diejek orang lain, Yah! Lagi pula, orang lain pasti sungkan kalau mengejek ayah. Ayah kan seorang guru,” gerutu Dinda.

“Lho, Dinda kok marah begitu. Ayah kan tanya baik-baik. Memangnya Dinda ingin motor baru merek apa?” tanya Ayah lagi.

Dinda membelalakkan matanya. “Ayah mau mengganti motor buntut kita dengan yang baru? Seperti punya Pak Joko teman ayah.”

“Kalau begitu nanti malam kita bicarakan masalah ini dengan Ibu, Mbak Nanda dan Mas Raka.”

Dinda mengharapkan makan malam lekas selesai. Setelah membantu ibu membereskan meja, seluruh keluarga berkumpul di depan TV. Saat itu, ayah menceritakan maksud Dinda untuk mengganti motor buntut mereka, dengan motor yang baru.

“Kalau semua setuju, motor kita akan ayah jual. Hasil penjualannya dipakai untuk kredit motor baru. Jangan lupa, kita harus mengangsur kredit motor baru, selama dua tahun. Selama dua tahun itu, kita tidak makan ikan atau daging. Cukup tahu dan tempe saja. Uang saku kalian juga harus dikurangi,” ayah menjelaskan.

“Mengapa bisa begitu, Yah?” tanya Dinda heran. “Hasil penjualan motor kita kan bisa untuk membeli yang baru. Mengapa harus mengangsur?”

“Din, motor kita kalau dijual paling hanya laku empat atau lima juta. Sedangkan motor baru, harganya sebelas juta lebih. Kalau uang hasil penjualan dibelikan motor baru, kita masih tetap mengangsur sisanya. Ini namanya pembelian secara kredit,” jelas Mas Raka.

“Kita tidak usah mengangsur, Yah. Kita beli kontan saja!” seru Dinda lagi. Ayah tersenyum, “Lalu kekurangan uangnya kita cari dari mana?”

“Tabungan kita! Tabungan kami banyak. Ya kan Mbak Nanda? Mas Raka?” kata Dinda dengan menanyai kakaknya satu persatu.

Mbak Nanda tersenyum. “Kalau tabungan Mbak diambil untuk beli motor baru, nanti Mbak membayar ujian pakai apa, Din?”

“Mas juga ingin membuka warnet. Nanti modalnya dari mana lagi?” kata Mas Raka.

Dinda cemberut. “Berarti kita tidak jadi beli motor baru, dong!” kata Dinda.

“Bukan tidak jadi, tapi ditunda dulu,” sahut ibu sambil membelai rambut Dinda. “Dinda tahu, penghasilan ayah sebagai guru tidak besar. Sementara ayah harus membiayai sekolah Mas Raka, Mbak Nanda dan Dinda serta biaya makan kita setiap hari. Lagi pula ayah tidak malu kok, mengendarai motor buntut itu. Justru motor buntut itulah yang setia menemani ayah bertahun-tahun, bekerja dan membesarkan kalian.”

“Benar sayang, ayah tidak malu mengendarai motor buntut itu. Saat ini, ayah tidak berpikiran untuk membeli yang baru. Yang ayah pentingkan adalah mencari nafkah, untuk membiayai sekolah kalian setinggi mungkin. Kalian harus jadi anak yang pandai dan berpendidikan tinggi. Harapan ayah dan ibu, kalian bisa menjadi orang yang lebih sukses dari kami berdua. Kelak apa pun yang kalian inginkan, bisa kalian penuhi sendiri,” kata ayah menambahkan.

“Aku tidak malu dengan motor buntut itu. Kalau kubawa ke kampus, memang sering dilihat sebelah mata oleh anak-anak kaya. Tapi yang penting aman. Mana ada pencuri yang mau mengambil motor kita,” Mas Raka ikut bicara.

“Lagi pula sebentar lagi aku lulus sekolah perawat. Kalau aku sudah bekerja, aku akan membeli motor baru sendiri,” sahut Mbak Nanda.

Dinda terdiam. Ia mengerti sekarang, mengapa ayah tidak mengganti motornya dengan yang baru. Bukan karena ayah kuno atau ketinggalan zaman. Tapi karena ayah mendahulukan kepentingan anak-anaknya, daripada membeli sesuatu yang belum tentu diperlukan.

“Bagaimana, Dinda?” tanya Ibu. “Mau kan Dinda bersabar sampai kita bisa membeli motor yang baru?”

Dinda mengangguk. “Maafkan Dinda, Ayah. Dinda egois.”

Ayah merangkul Dinda. Syukurlah. Meskipun hidup sederhana, Pak Yanto bangga mempunyai anak-anak yang penuh pengertian. @@@

 

 

Mentari Edisi 318 Tahun 2006

3 thoughts on “Dinda Tidak Malu Ayah Mengendarai Motor Buntut”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s