Fabel

Rubah dan Ayam Betina

Hasil gambar untuk gambar kartun ayam dan rubah

Di sebuah hutan, hidup seekor ayam betina yang berbulu merah. Karena itu, ia sering dipanggil Ayam Merah. Ia tinggal sendirian di sebuah pondok mungil terbuat dari kayu, di tepi hutan.

Ayam Merah sangatlah rajin. Ia selalu menjaga agar pondok mungilnya rapi dan bersih. Tiap pagi, setelah bangun tidur, ia mencuci pakaian. Kemudian membersihkan pondok dan memasak. Setelah itu, ia mencari ranting kayu ke dalam hutan, dengan menggunakan keranjang kecil dari rotan.

Tak jauh dari tempat tinggal Ayam Merah, hiduplah seekor rubah jantan muda, di sebuah gua bawah tanah. Ia tinggal bersama kakak perempuannya. Rubah jantan tersebut sangat ingin menangkap dan memakan Ayam Merah. Setiap hari, dia selalu mencari cara dan mencoba menangkap Ayam merah. Tapi, usahanya selalu gagal. Ayam Merah terlalu cerdik, sehingga selalu lolos dari perangkap rubah yang licik.

Suatu hari, Rubah mendapatkan ide cemerlang, untuk menangkap Ayam Merah. Ia berkata pada kakak perempuannya, “Didihkan air sekuali besar. Malam ini, kita akan memasak ayam untuk makan malam.”

Kemudian, Rubah jantan yang licik itu, mengambil karung goni dan mengendap-endap menuju pondok Ayam Merah. Di dekat pondok mungil tersebut, Rubah bersembunyi dibalik sebuah pohon dan menunggu. Tidak lama kemudian, Ayam Merah keluar sambil membawa keranjang rotannya, menuju hutan. Ia berjalan sambil bernyanyi riang, tanpa menyadari Rubah sedang mengintainya, dari balik pohon. Ayam Merah juga lupa menutup pintu pondoknya. Rubah licik segera masuk ke dalam pondok Ayam Merah.

Setelah keranjang rotannya penuh dengan ranting kecil, Ayam Merah segera pulang. Betapa terkejutnya dia, saat melihat Rubah licik telah berada dalam rumahnya dan siap untuk menangkapnya. Ayam Merah segera meloncat ke kayu yang terletak dibawah atas rumahnya. Rubah tidak mungkin menangkapnya, karena itu Ayam Merah merasa aman.
Dari tempatnya bertengger, Ayam Merah melihat ke bawah.

“Kau tidak bisa menangkapku sekarang. Lebih baik kau pulang saja, karena aku tidak akan turun!” teriak Ayam Merah.

“Baiklah, kita lihat saja,” jawab Rubah sambil menyeringai.

Rubah yang licik itu mulai berlari berputar-putar, seolah-olah sedang mengejar ekornya. Mula-mula ia berputar berlahan, namun kemudian makin lama makin cepat. Kemudian berputar perlahan lagi dan makin lama makin cepat. Begitu dilakukannya berulang-ulang.

Ayam Merah melihat kelakuan Rubah dari tempatnya bertengger. Semula, ia merasa baik-baik saja, tapi tiba-tiba ia merasa sangat pusing. Kepalanya serasa berputar-putar mengikuti Rubah. Akhirnya, Ayam Merah pun jatuh ke bawah, tepat ke dalam karung goni milik Rubah.

“Dasar Ayam sombong, siapa bilang aku tidak dapat menangkapmu?!” kata Rubah sambil memanggul karung goni, di pundaknya.

Rubah pulang ke rumah dengan gembira, karena dapat menangkap Ayam Merah. Ia sudah membayangkan, makan malam dengan sup ayam yang lezat.

Di dalam karung, Ayam Merah mulai sadar dari pingsannya. Ia pun berharap, akan ada kesempatan melarikan diri.

Tidak lama setelah keluar dari pondok Ayam Merah, Rubah pun duduk di bawah sebuah pohon, untuk beristirahat. Tak lama kemudian, ia tertidur.

Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Ayam Merah, ia pun mematuk tali karung goni dan keluar sambil mengendap-endap.

Dengan segera, Ayam Merah mengumpulkan beberapa buah batu yang besar dan dimasukkannya ke dalam karung. Secepat kilat, ia berlari pulang.

Saat Rubah terbangun, ia tidak menyadari apa yang telah terjadi. Ia pun kembali memanggul karung goni tersebut, dan berjalan menuju rumahnya.

Rubah merasa heran, karena karung goni yang dibawanya terasa makin berat. Namun, ia berpikir kalau Ayam Merah sangatlah gemuk. Pasti lezat, bila dijadikan sup untuk makan malam nanti.

Begitu sampai di rumah, ia berteriak kepada kakaknya, “Akhirnya kudapatkan juga Ayam Merah. Semoga air yang kau rebus sudah mendidih!”

“Pasti airnya sudah mendidih, adikku!” jawab si kakak.

Dengan segera, Rubah membuka karung goni dan menumpahkan isinya ke dalam panci besar, yang berisi air mendidih.

Batu besar yang berada di dalam karung pun segera berjatuhan, ke dalam panci besar itu. Akibatnya, air mendidih muncrat dan mengenai kedua Rubah licik tersebut.

Keduanya terluka parah, terkena guyuran air mendidih. Rubah tidak bisa lagi mengejar-ngejar Ayam Merah.

Sejak saat itu Ayam Merah dapat hidup dengan tenang dan aman, tanpa gangguan dari Rubah. @@@

 

Mentari, Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s