Dongeng

Kakek dan Burung Gereja

Hasil gambar untuk gambar kartun burung gereja dan manusia

Dahulu kala di Jepang, hiduplah seorang Kakek bersama istrinya. Sang Kakek sangat baik hati, sedangkan istrinya galak dan cerewet. Mereka memelihara seekor burung gereja, yang diletakkan di dalam sangkar, di atas meja dapur.

Pada suatu hari, karena keteledorannya, Kakek lupa menutup sangkar burung. Pada saat yang bersamaan, Nenek meletakkan sekantung beras, di dekat sangkar burung itu. Melihat beras, burung gereja keluar dari sangkarnya dan memakannya hingga habis.

Betapa marahnya Nenek, saat tahu berasnya habis. Ia mengambil sebilah pisau dan memotong lidah burung itu. Sungguh sangat kejam, burung gereja pun terbang melarikan diri, lewat jendela dapur.

Saat Kakek kembali, dia melihat burung peliharannya sudah tidak ada. Ia bertanya pada istrinya, apa yang terjadi. “Burung itu memakan semua beras kita. Aku memotong lidahnya, untuk memberi pelajaran, agar dia jera,” jawab Nenek.

Kakek itu sangat sedih mendengarnya. Ia berkeliling kampung, mencoba mencari burung gereja itu. “Burung gereja, dimanakah kamu?” teriak Kakek dengan nyaring.

Setelah berjalan beberapa lama, Kakek menemukan rumah burung gereja itu. Melihat bekas majikannya datang, burung gereja mengundang Kakek untuk makan malam.

“Silahkan duduk dan anggap sebagai rumahmu sendiri,” kata burung gereja itu.

“Sungguh burung yang baik hati,” gumam Kakek, sambil memakan berbagai macam makanan lezat yang dihidangkan. Setelah beberapa saat berbincang-bincang, Kakek mohon diri. Sebelum pulang, burung gereja membawa dua buah kotak, yang satu besar dan yang lainnya kecil. Kakek memilih yang kecil dan membawanya pulang.

Sesampainya di rumah Nenek yang cerewet sangat marah. “Dari mana saja kamu seharian ini? Aku lelah mencarimu, tahu!” kata Nenek.

“Aku dari rumah burung gereja dan ia memberiku kotak ini,” jawab Kakek.
Mereka lalu membuka kotak itu dan terkejut, saat tahu isinya adalah emas dan berlian. Nenek yang sangat serakah, lalu berniat berkunjung ke rumah burung gereja, agar mendapat emas dan berlian lebih banyak lagi.

Seperti halnya Kakek, ia disuguhi berbagai macam makanan enak. Sebelum pulang Nenek itu bertanya, “Burung gereja, apakah kau tidak memberiku hadiah seperti suamiku?”

Burung gereja pun menunjukkan dua kotak. Nenek langsung memilih yang besar, dan segera pulang tanpa pamit.

“Suamiku, aku baru saja dari rumah burung gereja. Lihatlah, apa yang dia berikan untukku?” kata Nenek begitu sampai rumah.

Nenek berharap, agar kotak itu berisi emas dan berlian yang lebih banyak, dari yang kemarin. Namun, harapan Nenek itu hancur, ketika kotak itu dibuka hanya berisi sebongkah batu hitam. Tidak ada emas dan berlian.

Nenek hanya terdiam, tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia hanya menyesali keserakahannya. @@@ (Judul Asli: The Sparrow with No Tongue)

 

Majalah Hoplaa Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s