Cerita Misteri

Misteri Nusa Kambangan

 

Hasil gambar untuk gambar kartun pulau

Adit baru tiba tadi sore. Ia datang atas permintaan Ponco, saudara sepupunya. Ponco anak Om Salim, karyawan Lembaga Permasyarakatan Batu, Nusa Kambangan. Om Salim menjemput Adit untuk berlibur di Nusa Kambangan.

Ponco senang karena punya teman bermain selama liburan. Menjelang tidur, ia cerita banyak tentang keunikan pulau yang dihuni narapidana dan karyawan Lembaga Permasyarakatan. Adit sangat tertarik mendengarnya.

“Bagaimana kalau besok kau kuajak berpetualang? Menjelajahi pulau orang-orang buangan sekaligus sarang burung wallet?” tanya Ponco setelah capek berkisah.

Adit termenung sesaat, menimbang-nimbang. Hatinya agak berdebar, membayangkan perjalanan yang penuh ketegangan. Lalu ia tersenyum, “Oke …!” sahutnya pasti.

Keesokan hari sehabis sarapan mereka berkemas. Setelah berpamitan mereka berangkat membawa ransel di punggung masing-masing. Mereka mengambil jalan setapak di belakang rumah.

Jalan setapak itu tampak tidak terurus. Di kiri kanan tampak tumbuh ilalang setinggi pinggang. Adit merasa agak gamang. Ya, siapa tahu diantara ilalang itu tersembunyi ular, kalajengking dan hewan lainnya.

Kadang jalan itu terputus karena tanahnya longsor, sehingga mereka harus merambat sepanjang lereng bukit. Kadang jalan itu tampak lagi karena tertutup semak belukar.
Sekali-kali terdengar Adit merunduk bila kakinya terantuk batu yang banyak terdapat di sepanjang jalan.

“Apa tidak ada jalan lain yang lebih mudah, Co?” tanya Adit ketika kakinya lagi-lagi terperosok ke dalam lubang.

“Ini jalan yang paling singkat! Ada jalan lain, tapi kita harus berputar-putar! Waktu kita tidak cukup!” sahut Ponco.

Saat itu matahari sudah semakin tinggi. Adit dan Ponco sudah jauh dari rumah. Sesekali mereka mendengar lolongan anjing liar dari dalam hutan. Sementara itu tumbuhan liar semakin banyak. Mereka harus berjalan dengan hati-hati.

Suatu saat Adit melihat bunga anggrek yang tumbuh di cabang perdu anggrek merah yang indah. Ia tertarik dan hendak mengambilnya. Tapi sebelum ia sempat melangkah, Ponco memegang tangannya.

“Tunggu!” cegah Ponco.

Sesaat kemudian, mulut Ponco mengeluarkan suara berdesis lembut dan berulang-ulang. Sedang matanya tampak terus mengawasi bunga anggrek itu. Aneh! Tidak lama kemudian, daun-daun bunga anggrek itu tampak bergerak-gerak.

Dari antara daun anggrek itu muncul seekor ular. Lidahnya bercabang dan terjulur serta bergerak-gerak. Adit terkesiap! Ia menyurutkan langkahnya. Ponco lalu menggandeng tangannya mengajaknya meninggalkan tempat itu.

“Nah, kau lihat sendiri, kan? Anggrek itu sudah ada pemiliknya!” kata Ponco tersenyum. Adit hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya kecut juga.

Untung Ponco sempat mencegahnya. Kalau tidak, mungkin ia sudah dipatuk ular. Hanya ia tidak habis pikir, mengapa Ponco sampai tahu cara memanggil ular itu?

Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin lama jalan yang mereka lalui semakin sulit. Kadang mereka harus menyuruk-yuruk dibawah tanaman liar yang menutup jalan.
Kali ini mereka harus merayap seperti cicak. Sementara di bawah mereka menganga jurang yang dalam dan gelap. Lambat laun Adit mulai terbiasa. Sedikit demi sedikit ia mulai berani. Dengan penuh semangat ia mengikuti langkah Ponco dari belakang.

Suatu ketika mereka tiba ditempat yang lapang. Di depan mereka terbentang padang rumput. Mendadak Ponco menghentikan langkahnya. “Ada apa, Co?” Tanya Adit. Ponco tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat agar Adit tempat di tempat. Ponco mematahkan sebatang cabang pohon yang melintang. Lalu membersihkan daun-daunnya.

Cabang itu kemudian dilempar seperti orang melempar lembing ke arah dataran rumput tadi. Cabang itu jatuh beberapa meter di hadapan mereka. Tapi apa yang terjadi?
Cabang itu melesak ke dalam tanah dan pelan-pelan amblas tidak kelihatan sedikit pun. Mata Adit terbelalak melihatnya.

“Lumpur hisap …!” tanpa sadar Adit berbisik.

Ponco menarik nafas panjang. “Ya, lumpur hisap! Maka kita tidak boleh ke sana!” ia menyahut dengan tenang.

Mereka pun memutar arah. Diam-diam Adit semakin kagum terhadap kehebatan sepupunya. Mungkin Ponco memiliki semacam ilmu gaib, pikirnya. Ah, nanti ia akan tanyakan.

Setelah berjalan sekian lama, sampailah mereka di atas sebuah bukit. Dari sana mereka bisa melihat ke segala arah dengan bebas. Sayup-sayup di sebelah selatan tampak garis pantai diantara gundukan karang yang tersebar dibanyak tempat. Ombak yang bergulung-gulung tak henti-hentinya menghempas batu karang.

Adit dan Ponco lalu istirahat dibawah pohon yang teduh. Mereka membuka bekal, lalu makan sambil menikmati pemandangan yang indah. Sepertinya mereka sudah lupa pada sarang burung wallet. Tanpa terasa hari semakin siang.

Ketika sedang asyik beristirahat, mendadak terdengar auman dari arah belakang. Ketika menoleh, tampak seekor harimau berwarna hitam pekat sedang duduk mengawasi.

Darah Adit tersirap. Jantungnya bagai berhenti berdenyut. “Habislah sudah …!” pikirnya. Harimau itu pasti akan menerkam mereka. Tapi tiba-tiba ia merasakan genggaman tangan Ponco, memberi isyarat agar ia tetap tenang.

Harimau itu mengerang berlahan, lalu mendongak ke atas. Aneh, tidak lama kemudian harimau berwarna hitam itu membalikkan tubuhnya yang besar, lalu pergi.

Ponco lalu memandang ke langit. Di sana tampak segumpal awan kecil berwarna hitam pekat. Seperti tidak berarti apa-apa. Gumpalan awan itu bagai sebuah titik di langit yang luas.

Tapi wajah Ponco tiba-tiba tegang. Dengan bergegas ia menarik tangan Adit. “Badai akan segera datang! Kita harus cari tempat perlindungan!” kata Ponco. Adit hanya melongo. Ia hanya menurut saja ketika Ponco menyeretnya.

Ketika Adit dan Ponco melihat ke atas, awan kecil tadi sudah semakin membesar. Cuaca pun sedikit demi sedikit merubah menjadi gelap. Hembusan angin mulai terasa tajam bagai megiris kulit.

Tidak lama kemudian hujan turun deras. Adit dan Ponco berlindung di sebuah ceruk di dalam gua yang gelap. Disana mereka terlindung. Tapi mereka hampir tidak bisa bernafas karena kencangannya angin berhembus masuk ke dalam gua.

Hempasan angin yang menerobos masuk benar-benar dasyat. Suaranya menderu-deru menimbulkan gaung seperti suara jeritan yang menyayat.

Hati Adit dan Ponco kecut bukan main. Keduanya saling berpegangan. Dalam hati, mereka berdo’a, mohon perlindungan Yang Maha Kuasa, agar lepas dari bencana.
Berjam-jam merekia mendekam dalam gua. Rasanya tegang mencekam. Mereka bersandar di dinding gua yang dingin. Tidak lama kemudian angin mulai reda. Dan akhirnya berhenti sama sekali.

Perlahan-lahan Adit dan Ponco beranjak ke mulut gua. Apa yang mereka lihat, sangat mengenaskan. Banyak pohon besar tumbang. Ada yang patah di tengah-tengah pohon. Tapi ada yang tercabut hingga akarnya. Semua tampak porak poranda.

Ponco termangu-mangu. Ia memandang hujan masih rintik-rintik.

“Apa boleh buat! Petualangan kita terpaksa ditunda sampai besok, Dit!” kata Ponco setelah mereka berdiam diri cukup lama. Adit cuma mengangguk-anggukkan kepala.

Mereka lalu memutuskan untuk pulang walau belum mendapat apa-apa. Hari sudah menjelang sore. Mereka tidak berani mengambil resiko lagi. Karena itu mereka mengambil jalan memutar, mengikuti jalan yang biasa di lalui orang.

“Banyak deh yang tidak aku mengerti, Co! Jelaskan dong semua yang terjadi! Dan kamu memakai ilmu apa sehingga kau tahu bahaya yang bakal timbul?” tanya Adit penasaran ketika mereka pulang.

Ponco tersenyum, “Nusa Kambangan menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap, Dit! Kami hanya belajar dari pengalaman! Aku sih tidak punya ilmu apa-apa!” Ponco menjelasan.

“Di sini memang masih banyak tempat yang berbahaya. Seperti lumpur hisap tadi. Juga ada gua dan sumur bergas beracun. Sama seperti sepasang ular yang sembunyi di antara daun anggrek, lalu awan hitam yang tiba-tiba berubah jadi puting beliung tadi. Tanda-tandanya sudah sering kami amati,” jelas Ponco melanjutkan.

“Kemudian harimau gunung itu, penduduk selama ini menganggapnya teman. Ia belum pernah mengganggu. Ia sering kali muncul bila sesuatu yang luar biasa akan terjadi.”
“Kehadirannya menjadi isyarat, agar penduduk berhati-hati! Suaranya yang sesekali terdengar di tengah malam justru membuat penduduk merasa tenang dan terlindung,” Ponco mengakhiri penjelasannya.

“Jadi kau pikir aku punya ilmu segala?” tanya Ponco tersenyum. Adit terkesan dan ia pun ikut tersenyum.

Mereka tiba di rumah saat hari sudah mulai gelap. Orang tua Ponco sudah menunggu dengan cemas.

“Kami melihat puting beliung di selatan. Kalian tidak apa-apa” tanya Ayah Ponco. Ponco dan Adit saling berpandangan.

“Puting beliung memang turun di sana, Ayah. Tapi kami sempat berlindung di gua. Harimau gunung memberitahu kami,” sahut Ponco. Ayah Ponco mengangguk-angguk.

Malam harinya, Adit mendengar lebih banyak lagi kisah yang lain. Tentang berbagai misteri Nusa Kambangan yang menarik.

Dan besok … petualangan yang tertunda akan dilanjutkan. @@@

 

 

Bobo, Edisi – Tahun –

3 thoughts on “Misteri Nusa Kambangan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s